
Sampai siang hari ternyata demam Grizz sudah turun. Bibi Yun yang mendampinginya di kamar begitu lega bahkan langsung menciumi pipi gembul anak angkatnya itu. Grizz yang merasa terganggu itu pun akhirnya terbangun dengan mata yang mengerjap berulangkali.
"Maaf ya ibu bangunin kamu dari tidur nyenyakmu" ucap Bibi Yun merasa bersalah.
Awalnya ia memang sengaja menciumi pipi gembul Grizz agar gadis itu bangun. Hari sudah siang dan Grizz belum sarapan apapun sehingga Bibi Yun berniat membangunkannya.
"Emmm... Sudah jam berapa ibu?" tanya Grizz dengan suara seraknya.
"Jam 11 siang, nak. Ayo makan dulu buburnya" titah Bibi Yun.
Mendengar ucapan dari Bibi Yun sontak saja membuat Grizz memelototkan matanya. Ia tak menyangka sampai bangun sesiang ini, bahkan dengan tiba-tiba ia langsung menegakkan badannya. Namun karena tiba-tiba bangun dari baringannya membuat Grizz langsung memegang kepalanya dan mengaduh kesakitan.
"Awww... Kepala Grizz" ucap Grizz sambil meringis kesakitan
Bibi Yun yang melihat hal itu langsung saja meletakkan mangkok bubur yang ada ditangannya kemudian mendudukkan dirinya disamping Grizz. Bibi Yun langsung membantu Grizz baringan kembali agar kepalanya tak bertambah sakit.
"Udah nggak usah duduk dulu. Kamu masih sakit, lebih baik tiduran gini aja" ucap Bibi Yun dengan lembut.
Bahkan setelah Grizz berhasil kembali dalam posisinya, Bibi Yun sedikit memijat kepala gadis itu dengan lembut. Grizz begitu terharu dengan apa yang dilakukan oleh Bibi Yun. Terlihat sekali jika Bibi Yun ini sikapnya hampir sama dengan ibu kandungnya dulu saat sakit. Berbeda dengan ibu tirinya yang malah memarahinya jika dia sakit.
"Orang miskin itu nggak boleh sakit. Kalau sakit terus nggak kerja, mana bisa makan kita. Buruan kerja, jangan manja" sentak Niken saat Grizz demam saat itu.
Setiap kali dirinya sakit, ia akan selalu dimarahi dan disuruh bekerja demi mereka bisa makan. Padahal uang hasil kerja kerasnya saja tak pernah yang namanya ia nikmati. Makanan sisa dan bentakan sepertinya akan selalu ia dapatkan waktu itu jika Alex tak membawanya pergi.
__ADS_1
Mata Grizz kini terlihat berkaca-kaca menatap Bibi Yun. Bibi Yun yang melihat tatapan sendu itu langsung memeluk Grizz dengan erat. Ia tahu jika Grizz tengah rindu pada ibunya dan ingat masa lalu buruknya. Benar saja kini Grizz menangis dalam pelukan Bibi Yun membuat wanita paruh baya itu terus mengelus punggungnya lembut.
"Terimakasih ibu, sudah menjadikanku dan memperlakukanku sebagaimana seorang anak kandung" ucap Grizz dengan nada seraknya.
Bibi Yun tak menjawab namun ia hanya memeluk erat Grizz yang sudah begitu tenang setelah mendengar beberapa kalimat penenang yang ia ucapkan. Bibi Yun juga bahagia menganggap Grizz sebagai anaknya terlebih dia adalah gadis yang ceria. Mansion yang awalnya suram bahkan lebih hidup suasananya.
***
Hari sudah beranjak sore, bahkan matahari sudah menampakkan ufuknya di ujung barat. Sebentar lagi senja dan malam akan datang membuat Grizz yang kini duduk di halaman villa segera saja masuk kedalam. Suasana yang begitu dingin membuat hal itu tak bagus untuk kesehatan Grizz.
Setelah tadi disuapi oleh Bibi Yun makanan dan meminum obat, Grizz kembali tertidur di kamarnya. Saat menjelang sore, ia terbangun kemudian mandi. Setelah selesai membersihkan diri, ia keluar menuju halaman villa untuk menghirup udara segar.
"Erga, kamu tahu nggak kak Alex dimana?" tanya Grizz.
"Kerja. Tadi pagi berangkat cepat-cepat bersama dengan tuan Luis" jawab Erga.
Grizz menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula dunia Alex bukan hanya tentang Grizz saja namun ada banyak karyawan yang harus ia pikirkan masa depannya. Grizz memasuki dapur bersama Erga disebelahnya. Bahkan kini jalannya sudah lebih ceria karena ia merasa tubuhnya lebih ringan.
"Lho... Kamu kok udah turun dari kamar? Kalau masih lemas, istirahat yang banyak Grizz" omel Bibi Yun saat membalikkan badannya kemudian melihat Grizz sudah ada di dapur.
Grizz tak mempedulikan ocehan Bibi Yun namun dia malah duduk di meja dapur sambil memakan apel yang ada diatasnya. Bibi Yun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Grizz yang sudah mulai tengil lagi setelah sembuh.
"Grizzzz... Ya ampun, bayi gue udah sembuh aja nih" seru Dara yang baru saja melihat sahabatnya.
__ADS_1
Bahkan saat melihat Grizz ia selalu saja berlari mendekat kearahnya. Dara langsung memeluk tubuh Grizz kemudian menggoyangkan ke kanan dan kiri berulangkali. Grizz yang merasa acara makannya terganggu pun memberontak bahkan langsung memasukkan apel yang sudah digigitnya pada mulut Dara.
"Ish... Lepas Dara" protes Grizz kemudian tertawa melihat wajah kesal Dara.
Terlebih kini bibirnya melebar karena ada buah apel di mulutnya. Bibi Yun dan Nenek Umi yang melihat perdebatan keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala. Bahkan kini ditambah Erga yang dijadikan bahan candaan oleh kedua gadis itu.
"Erga yang tidak tampan. Kalau di bawah bukit sana itu ada hewan buasnya nggak?" tanya Grizz penasaran.
Dara dan Grizz begitu penasaran dengan hidup yang dijalani oleh Erga juga neneknya itu. Erga melihat kearah Nenek Umi seakan meminta persetujuan untuk menceritakannya. Nenek Umi menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui.
"Nggak ada. Adanya semut sama ulat" jawab Erga dengan antusias.
"Nggak ada kucing besar kaya punya Grizz?" tanya Grizz penasaran.
Erga yang nggak paham dengan apa yang diucapkan oleh Grizz pun membuat gadis itu membuka ponselnya. Sedangkan Dara langsung menatap sinis kearah Grizz. Erga membulatkan matanya saat melihat sebuah gambar yang ditunjukkan oleh Grizz.
"Itu bukan kucing tapi harimau. Dibawah bukit nggak ada tuh" ucap Erga sambil bergidik ngeri.
"Biarin aja tuh orang aneh, harimau gitu kok dibilang kucing. Dimakan kucing itu baru tahu rasa" kesal Dara.
Grizz merasa acuh akan apa yang diucapkan oleh Dara. Terlebih ia memang sangat menyukai kucing besarnya itu. Bahkan ia tak takut jika harus berdekatan dengannya.
"Nanti kalau Grizz dimakan, kalian nangis lho kehilangan aku" goda Grizz sambil menaikturunkan alisnya.
__ADS_1
Bibi Yun terkekeh melihat wajah songong dari Grizz yang begitu percaya dirinya. Ia merasa begitu bahagia saat Grizz sudah sembuh dan ceria seperti ini lagi. Villa ini terasa lebih hidup oleh celotehan aneh dan tengil khas gadis kecil itu. Alex juga pasti bahagia jika mendengar bahwa istrinya itu kini telah sembuh. Sedangkan Dara sudah membawa sebuah apel dan ingin dilemparkannya pada Grizz yang kini berlarian untuk menghindar.