
"Ayo nona kita kembali ke dalam rumah. Disini bahaya, bisa-bisa nanti nona malah dimakan lho sama cicak besarnya" ucap maid itu menakut-nakuti.
Maid itu merasa lebih santai jika berbicara dengan sahabat atasannya ini pasalnya Grizz begitu humble dan memperlakukannya seperti sahabatnya sendiri. Walaupun begitu, maid itu tetap harus menjaga batasannya agar masih terlihat sopan kepada Grizz. Maid tersebut terus membujuk Grizz agar segera meninggalkan tempat hewan-hewan buas di halaman belakang ini.
Grizz yang ditakut-takuti oleh maid itu malah menantang bahkan berusaha untuk membuka pintu kandang buaya. Melihat hal itu maid langsung panik bahkan kahwatir. Dara yang melihat maid itu kesusahan untuk membujuk Grizz pun langsung saja ikut turun tangan. Sifat keras kepala Grizz itu memang harus ada yang bisa menjadi pawangnya.
"Grizz, jangan ngeyel deh. Kamu mau memangnya dimakan sama buaya itu? Nanti kalau kak Alex nangis karena kehilangan kamu gimana? Pikirkan orang-orang yang kamu sayangi sebelum melakukan sesuatu" ucap Dara tegas.
Dara yang memang selalu tegas jika sudah melihat sahabatnya itu dalam bahaya pun langsung mengeluarkan kalimat pedasnya. Ia tak mau Grizz melakukan hal yang bahaya apalagi nanti pasti Alex akan marah besar membuat semuanya terimbas. Memikirkan bagaimana kemarahan Alex itu saja sudah membuatnya bergidik ngeri apalagi melihatnya kembali.
Setelah mendengar peringatan begitu tegas dari Dara, sontak saja membuat Grizz takut. Kini Grizz langsung saja menjauh dari pintu kandang buaya itu kemudian berjalan sambil mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena selalu kalah jika sudah Dara atau Alex yang memperingatkannya. Maid yang masih berdiri kaku disana itu langsung menghela nafasnya lega.
"Dara galak ihhh..." gerutu Grizz yang kemudian berjalan menjauhi Dara, Erga, dan maid itu.
Dara hanya bisa menghela nafasnya pasrah mendengar gerutuan Grizz itu. Kini maid, Dara, dan Erga langsung saja pergi meninggalkan kandang buaya itu kemudian masuk dalam rumah. Biarlah nanti Grizz marah padanya asalkan semuanya dalam kondisi selamat.
***
"Ngapain loe nanya tentang cicak besar yang gue maksud?" tanya Nicho dengan penasaran.
Pasalnya tadi setelah Josh mengangkat panggilan dari seseorang tiba-tiba raut wajah dan nada bicaranya begitu berubah. Bahkan tadi ia sempat menanyakan tentang cicak besar kepadanya. Josh kini masih terduduk dengan raut tegang bahkan menatap tajam kearah Nicho.
Alex dan Nando yang melihat hal itu pun begitu penasaran namun lebih memilih diam. Keduanya bukanlah tipe orang yang ingin tahu segala permasalahan seseorang jika tak diberitahu oleh orangnya secara langsung.
__ADS_1
"Istrimu Lex, penasaran sama cicak besar yang dimaksud oleh Nicho. Maid bingung pasalnya saat menunjukkan cicak di dinding malah cemberut. Akhirnya dia hubungi aku" ucap Josh memberitahu.
Mendengar istrinya disebut langsung saja Alex menegakkan tubuhnya. Feelingnya mengatakan kalau Grizz kini tengah melakukan kegiatan yang bahaya karena yang dimaksud cicak besar oleh Nicho itu adalah buaya.
"Apa Grizz meminta menunjukkannya?" tanya Alex.
"Iya, tapi aku udah bilang sama maid untuk hanya melihat dari pagar saja. Tak perlu sampai membuka pintu kandang" ucap Josh.
Alex sedikit menghela nafasnya lega karena kemungkinan kini banyak orang yang akan menjaga istrinya agar tak masuk dalam area kandang. Alex kemudian menatap tajam Nicho yang membuat laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gara-gara Nicho nih. Tahu sendiri kalau Grizz itu aktifnya kaya gimana tingkahnya, malah dikasih tahu hal yang aneh. Dari kucing besar yang aslinya macan itu, udah jelas gadis itu menyukai hal yang diluar nalar" ucap Nando menyalahkan sahabatnya.
"Ya sorry... Gue kiranya juga Grizz nggak akan tertarik sama ucapan gue" ucap Nicho merasa bersalah.
"Ayo kita ke ruang eksekusi" ajak Alex tanpa mengindahkan permintaan maaf Nicho.
Ketiganya mengangguk kemudian berjalan menuju ruang eksekusi di bawah tanah. Sebuah lorong lumayan gelap membuat mereka harus hati-hati dalam melangkah apalagi ada beberapa jebakan yang dipasang oleh Alex disana. Tak berapa lama mereka berjalan, sampailah ketiganya didepan sebuah ruangan seperti penjara.
"Siram badannya pakai air rebusan cabai" titah Alex kepada salah satu anak buahnya.
Anak buah Alex itu menganggukkan kepalanya mengerti kemudian membawa air rebusan cabai kemudian menyiramkannya ke tubuh mantan bodyguard tuannya itu. Mantan bodyguardnya itu tengah duduk di kursinya karena entah tidur atau pingsan. Sekarang ia sudah menganggap orang yang ada didepannya ini sebagai mantan bodyguardnya karena sudah berani mengkhianatinya.
Byurrrr....
__ADS_1
Arrrggghhhhh...
Rasa panas dari cabai itu tentu membakar kulitnya hingga merah-merah. Alex yang melihat hal itu terkekeh sinis bahkan sangat menikmati kesakitan dari mantan bodyguardnya. Mantan bodyguardnya itu bahkan sudah berdiri dengan mencoba menghilangkan air cabai yang menempel pada tubuhnya.
"Gimana rasanya? Panas? Itu akibat dari kau yang mengkhianatiku" sinis Alex sambil terkekeh.
Bahkan ketiga sahabat Alex juga langsung tersenyum menyeringai melihat bagaimana laki-laki itu menyiksa lawannya. Mantan bodyguardnya hanya melirik sekilas kemudian fokus kembali pada tubuhnya yang merasa begitu kepanasan. Sedangkan anak buah Alex langsung keluar dari dalam ruangan itu setelah menyelesaikan tugasnya.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Alex dengan nada datarnya.
Mantan bodyguardnya itu sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Ia sibuk mengibaskan bajunya agar bisa mengurangi sedikit rasa perih dan panas yang menjalar pada tubuhnya. Alex yang kesabarannya setipis tisue itu tentunya merasa kesal karena diabaikan.
"Kau mau menjawab pertanyaanku atau ku siram wajahmu itu dengan air cabai lagi?" lanjutnya dengan mengancam.
"Saya mohon tuan, jangan hukum saya seperti ini. Lebih baik habisi saya secara langsung saja daripada disiksa secara perlahan seperti ini" seru mantan bodyguardnya.
"Jawab" sentak Alex membuat ketiga sahabatnya berjengit kaget.
Setelah beberapa tahun lamanya tak mendengar bagaimana bentakan Alex, kini mereka begitu terkejut dengan sentakan begitu menggelegar itu. Mereka bertiga mengusap dadanya untuk menetralkan jantung yang semakin berdetak dengan kencangnya.
Bahkan mantan bodyguardnya itu juga ketakutan melihat kemarahan Alex. Sepertinya ia tengah membangunkan singa yang sudah tertidur terlalu lama. Ia bingung harus menjawab jujur atau tidak pasalnya kini otaknya seakan kosong karena pengaruh air cabai yang membasahi tubuhnya ini.
"Baiklah jika kau tak ingin menjawabnya. Jacob... Bawa air rebusan cabai yang baru saja mendidih itu kesini" serunya.
__ADS_1
Tentu mendengar apa yang keluar dari mulut Alex itu membuat mantan bodyguard itu ketakutan. Bahkan ketiga sahabat Alex sudah was-was karena sepertinya jiwa-jiwa iblis dalam tubuh laki-laki itu mulai terlihat keluar.