
"Kak Alex, boleh nggak kalau Nenek Umi dan Erga tinggal bersama kita disini?" tanya Grizz dengan tatapan permohonan.
Setelah tadi menemani Nenek Umi dan Erga makan, Grizz segera saja naik sekalian mencari keberadaan Alex untuk meminta ijin. Sedangkan Nenek Umi dan Erga dimintanya untuk menunggu di ruang dapur sebentar. Setelah mengetuk pintu ruang kerja milik Alex dan dijawab oleh pria itu untuk dipersilahkan masuk, Grizz segera memasuki ruangan suaminya.
Grizz menundukkan kepalanya ketika kini sudah berada didepan Alex. Seakan ia ragu untuk meminta ijin pada Alex yang nanti kemungkinan akan seperti yang lainnya. Alex pasti juga akan menilai dua orang yang dibawanya dengan tatapan menakutkan. Alex juga yang duduk didepannya hanya terdiam pura-pura tak tahu tujuan Grizz datang kepadanya.
"Kasihan tahu mereka, masa iya pakaiannya jauh lebih kumal dari Grizz dulu. Apalagi Erga, kurus banget kaya nggak makan bertahun-tahun" lanjutnya menjelaskan karena sedari tadi Alex hanya diam saja tak merespons.
"Suruh mereka istirahat di kamar tamu" ucap Alex dengan cepat.
Grizz yang sedang harap-harap cemas bahkan berpikir kalau laki-laki itu takkan mengijinkannya pun akhirnya bernafas lega mendengar ucapan dari Alex. Mata Grizz berbinar cerah kemudian berlari kecil dan menghambur ke dalam pelukan sang suami.
"Suami Grizz yang tampan ini baik banget ternyata" seru Grizz yang memeluk suaminya itu dengan begitu eratnya.
"Yang tampan atau buruk rupa?" tanya Alex sambil terkekeh.
Mendengar ucapan Alex itu tentu langsung membuat Grizz melepaskan pelukannya pada sang suami. Grizz menatap Alex yang terlihat sedang tersenyum tipis namun daam matanya terlihat kalau tatapannya begitu sendu. Grizz menghela nafasnya pelan kemudian menangkup kedua pipi suaminya itu dengan tangannya.
"Bagi Grizz, Kak Alex adalah laki-laki paling tampan. Tampan wajahnya dan hatinya. Aku nggak peduli kak Alex di luaran itu dihina tentang bagaimana wajahnya, yang penting hati kakak itu tulus buat aku juga orang-orang di sekitarnya" ucap Grizz dengan lembut.
__ADS_1
Pandangan mata yang begitu memancarkan sebuah ketulusan mampun membuat hati Alex berdesir begitu hebatnya. Ia tak menyangka jika gadis yang awalnya tak berarti apapun dalam hidupnya kini menjadi salah satu orang yang sudah mengisi hidup dan hatinya. Pertemuan yang berawal dari sebuah tragedi dirinya menginginkan uang untuk melunasi hutang ternyata membawa Grizz dalam kehidupannya.
Ia tak menyangka jika dengan membawa gadis didepannya ini sebagai pelunas hutang ayah kandungnya ternyata membawa perubahan besar dalam hidupnya. Kehidupannya yang hanya dikelilingi oleh harta dan musuh kini berubah dengan bagaimana ia harus membahagiakan Grizz di masa sekarang hingga mendatang.
Sebenarnya kehidupan Alex jauh lebih beruntung daripada Grizz. Walaupun harus ditinggal meninggal kedua orangtuanya namun ia mampu bangkit hingga kekuasaan mampu didapatkannya sehingga banyak orang menghormatinya walaupun wajahnya cacat. Namun untuk Grizz sendiri, dirinya disiksa fisik dan mentalnya secara bersamaan bahkan tak ada seorang pun yang menemaninya.
"Terimakasih mau menerimaku dan belajar mencintaiku. Walaupun sebenarnya kamu itu nggak tahu kan cinta itu apa?" ucap Alex sambil terkekeh geli.
"Cinta itu saling menyayangi. Kaya Grizz sama Dara atau Bibi Yun gitu kan?" ucap Grizz sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Alex hanya bisa terkekeh pelan mendengar ucapan polos dari Grizz itu. Ia hanya akan membiarkan gadis itu pemikirannya polos sesuai dengan usianya. Ia tak mau memaksakan mengajari atau memberi pengetahuan mengenai hal dewasa padanya.
"Sudah sana kembali ke bawah. Suruh mereka segera masuk ruang tamu agar bisa istirahat. Mereka pasti sudah menunggumu begitu lama disini" ucap Alex mengusir secara halus.
Tanpa aba-aba, Grizz langsung saja pergi meninggalkan Alex yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kepanikan dari gadis itu. Ia hanya berharap nanti kalau Grizz tak ceroboh hingga berlari diatas tangga dan membuatnya terjatuh.
***
"Nenek, Erga... Ayo aku antar ke kamar kalian" ucap Grizz dengan ngos-ngosan.
__ADS_1
Tadi ia berlari dengan terburu-buru karena takut jika Nenek Umi dan Erga kelamaan menunggunya membuat kini ia harus menetralkan nafasnya terlebih dahulu. Nenek Umi terkekeh pelan melihat wajah Grizz yang memerah bahkan Erga langsung menyerahkan segelas air minum untuk gadis itu. Grizz langsung mengambilnya dan meneguk air putih itu dengan begitu rakus.
"Terimakasih" ucap Grizz sambil tersenyum ceria.
Erga menganggukkan kepalanya kemudian Grizz meletakkan gelas itu diatas meja. Grizz segera menggandeng keduanya untuk segera berjalan kearah kamar tamu yang memang masih ada beberapa. Karena Alex tak memberitahu yang mana akhirnya ia asal masuk saja toh yang bagian kamar tamu memang baru dipakai oleh Dara saja.
"Kalian tidur disini ya" ucap Grizz membuka salah satu pintu kamar tamu.
Erga dan Nenek Umi yang melihat kondisi dalam kamar itu pun menatap tak percaya kearah Grizz. Bahkan keduanya sampai mengucek dan menepuk pipinya berulang kali karena merasa jika semua ini hanyalah mimpi semata. Keduanya tak percaya jika akan menghuni dan tidur di tempat yang begitu luas nan mewah seperti ini.
"Ini beneran, nak?" tanya Nenek Umi meyakinkan.
Grizz menganggukkan kepalanya antusias sebagai jawaban, sedangkan Erga langsung memeluk tubuh gadis yang sudah dianggapnya sebagai seorang kakak itu. Nenek Umi pun begitu langsung memeluk Grizz dan menangis harus didalam pelukannya.
"Terimakasih... Terimakasih... Semoga kebaikanmu membawa berkah dalam hidupmu" harap Nenek Umi.
Grizz mengaminkan harapan dari Nenek Umi itu didalam hatinya. Grizz segera menarik mereka agar masuk kedalam setelah melepaskan pelukannya. Erga begitu bahagia hingga duduk sambil memantul-mantulkan tubuhnya diatas kasur lembut.
"Akhirnya kita bisa tidur dengan nyaman, nek. Nggak takut panas, hujan, atau terkaman hewan buas lagi" ucap Erga yang memeluk Nenek Umi disampingnya dengan perasaan begitu bahagia.
__ADS_1
Selama ini keduanya memang hanya tinggal di bawah pohon besar beralaskan plastik besar yang selalu dibawanya kemana-mana. Mereka sebenarnya ingin meminta bantuan, hanya saja tempat keduanya dibuang ternyata jauh dari tempat warga. Pernah mereka mendekat kearah area villa ini namun ternyata tempat ini begitu sepi tak seperti sekarang ada penghuninya.
Mau pulang pun mereka juga tak dibawakan ongkos, hanya baju didalam plastik itu lah yang menemani keduanya selama hampir 2 tahun ini. Bahkan untuk makan pun mereka hanya mengandalkan dedaunan dan buah-buahan yang memang ada di hutan.