
"Ni obil tayak puna atu yang banna dah ilang" seru Evan dengan pandangan berbinar.
"Puna Pan tu tecil, ni becal lho. Bica alan ndili talo ni" ucap Evi tak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Evan.
Evan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Pasalnya memang benar, perbedaan mobil-mobilan Evan dengan kendaraan yang saat ini dinaiki sangat jauh berbeda. Terlebih mobil ini bisa bergerak dengan dikemudikan orang, sedangkan punya Evan harus didorong atau tarik terlebih dahulu.
Grizz dan Ima hanya tersenyum mendengar percakapan keduanya. Mobil itu telah melaju dengan kecepatan sedang. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai itu berhenti di depan sebuah toko mainan yang lumayan terkenal. Walaupun letaknya masih satu area dengan pasar, namun ini jauh lebih terlihat karena berada di pinggir jalan.
"Ayo turun" seru Grizz yang langsung menggendong Evi.
Padahal tadi Ima ingin menggendong kedua adiknya namun malah keduluan oleh Grizz. Akhirnya Ima hanya menggendong Evan yang sangat antusias dengan berbagai macam mainan yang sudah terlihat dari luar toko. Nela dan Neli akan berjaga di luar toko saja karena khawatir kalau ada orang yang mencurigakan akan masuk.
"Kalian mau yang mana?" tanya Grizz saat sudah berada di dalam toko.
"Tita oleh ilih?" tanya Evi dengan pandangan bertanya.
Grizz menganggukkan kepalanya dengan cepat. Tentunya hal itu membuat Evi dan Evan kegirangan hingga memberontak dalam gendongan Grizz juga Ima. Mereka ingin jalan sendiri untuk memilih banyak mainan yang diinginkan.
"Evan, Evi... Digendong aja ya. Nanti kalau kalian jalan sembarangan, bisa rusak lho mainan di sini" tegur Ima pada kedua adiknya yang memberontak.
"Ish... Nggak papa. Ayo jalan saja" ucap Grizz sambil menurunkan Evi.
Keduanya itu memang sudah bisa berjalan, hanya saja mereka sering berlarian kalau di tempat yang disukai. Hal ini juga yang membuat Ima memilih untuk menggendong keduanya agar tidak merusak barang-barang yang ada di sana. Grizz menggandeng tangan Evi sedangkan Ima menuntun Evan.
Dibelakang mereka ada dua orang penjaga toko yang membawa keranjang. Grizz memang meminta mereka untuk membantunya agar tak kesusahan saat membawa banyak mainan. Dengan senang hati, penjaga toko itu melayani pembeli pertamanya hari ini.
"Ini bagus... Ini juga" ucap Grizz yang terus mengambil barang yang ada di etalase lalu memasukkannya dalam keranjang.
__ADS_1
Sungguh Grizz sama sekali tak memikirkan berapa banyaknya uang yang nanti dikeluarkan. Bahkan dua orang penjaga toko itu hanya bisa menelan salivanya kasar. Mereka tak menyangka kalau pembeli pertama di toko itu akan memborong hampir semua mainan di sana. Mereka bahagia kalau memang Grizz akan memborong semuanya.
Bahkan Evi dan Evan hanya menunjuk kearah beberapa mainan yang diambilkan oleh Grizz juga Ima. Grizz juga membeli beberapa boneka untuknya yang ternyata lebih murah dibandingkan di mall. Setelah satu jam lamanya mengelilingi satu area toko, mereka segera menghitung jumlah yang harus dibayar.
"Grizz, ini banyak sekali" ucap Ima sambil geleng-geleng kepala melihat tumpukan barang di atas meja kasir.
"Ini masih kurang kayanya. Besok kita beli lagi, hari ini cukup dulu karena Grizz ingin jalan-jalan masuk area pasar. Mau beli buah atau sayuran yang murah-murah" ucap Grizz dengan antusias.
Ima hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar apa yang diucapkan oleh Grizz itu. Mainan sebanyak ini dan kebanyakan untuk Evi dan Evan itu menurut Ima nantinya takkan terpakai. Baginya, daripada untuk membeli mainan seperti ini lebih baik dibelikan makanan.
"Nanti kalau ada teman Evi dan Evan yang ingin meminjam mainannya, boleh lho dipinjami. Kalian nggak boleh pelit, yang penting mereka tidak merusak mainan itu" ucap Grizz memberi pesan.
Keduanya menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula area tempat tinggalnya itu anak-anaknya baik. Mereka selalu berbagi kalau tentang mainan. Walaupun Evi dan Evan jarang bermain keluar karena bibinya yang tak bisa berjalan jauh. Bibinya itu hanya bisa menjaga kedua adik Ima di dalam rumah agar tak terlalu lelah.
"Total semuanya 4 juta, nona" ucap kasir itu setelah menghitung semuanya.
"Pas ya, nona. Terimakasih atas kunjungannya" ucap penjaga toko itu sambil menangkupkan kedua tangannya.
Grizz menganggukkan kepalanya. Dibantu dengan penjaga toko, mereka membawakan semua barang yang dibeli. Nela dan Neli juga langsung membantu untuk meletakkannya di dalam mobil. Setelah selesai, Grizz langsung menggendong kembali Evi.
"Kak Nela dan Kak Neli, kita cari buah dan sayur dulu yuk di dalam pasar" ajak Grizz sambil tersenyum.
"Di rumah kan sudah banyak buah dan sayuran segar, nona" ucap Nela dengan pandangan sedikit bingung atas permintaan Grizz.
"Itung-itung ini berbagi rejeki buat pedagang di sini" ucap Grizz yang langsung melenggang pergi masuk dalam area pasar.
Nela dan Neli hanya bisa pasrah saja dengan kegiatan atasannya ini. Mereka mengikuti Grizz dan Ima dari belakang. Bahkan Grizz membeli banyak buah dan sayuran yang entah untuk apa. Pasalnya di rumah Josh itu, buah dan sayurannya biasa dari dipetik langsung di kebun belakang.
__ADS_1
"Terimakasih, nona. Sudah melarisi dagangan kami" ucap salah satu pedagang dengan pandangan haru.
"Sama-sama, ibu" jawab Grizz sambil tersenyum manis.
Setelah semua sudah terbeli, Grizz dan Ima segera kembali menuju mobilnya. Saat mereka akan kembali, Grizz melihat ada seorang ibu-ibu yang menjadi tukang angkut barang di pasar. Grizz pun mendekatinya kemudian memintanya membawakan barang-barangnya. Padahal ia tak butuh itu, namun demi membantu orang ia harus berpura-pura.
"Bu, habis ini minta tolong bawakan belanjaan saya ke mobil di sana ya. Kasihan ini soalnya yang bawa, pada capek" ucap Grizz sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Nela dan Neli.
Ibu-ibu itu menganggukkan kepalanya dengan antusias. Setelah selesai dengan mengantar barang yang sebelumnya, ia segera saja membawa barang belanjaan Grizz yang memang lumayan banyak. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, semua barang belanjaan Grizz itu sudah masuk bagasi mobil.
"Ini buat ibu, biar kuat angkut-angkut barangnya. Ibu harus makan buah dan sayuran yang banyak" ucap Grizz sambil menyerahkan dua kantong plastik berisi buah dan sayur.
"Terimakasih, nona" ucap ibu-ibu itu dengan mata berkaca-kaca.
Ibu-ibu itu segera saja pergi berlalu dari hadapan Grizz namun ditahan oleh perempuan itu. Hal ini membuat ibu-ibu itu bingung dan takut kalau Grizz hanya memberi harapan palsu saja tentang pemberiannya ini.
"Upahnya belum lho, kok main pergi aja" ucap Grizz sambil terkekeh pelan.
"Upahnya ini kan, nona?" tanya ibu-ibu itu.
"Bukan. Upah itu uang. Ini buat jajan" ucap Grizz sambil menyelipkan beberapa lembar uang merah ke telapak tangan ibu-ibu itu.
Ibu-ibu itu masih menatap tak percaya dengan uang yang ada di genggaman tangannya ini. Sebelumnya ia belum pernah yang namanya memegang uang sebanyak ini. Namun hari ini, rejeki yang diberikan Tuhan melalui perempuan di depannya ini begitu banyak.
"Terimakasih, nona" ucap ibu-ibu itu berulangkali.
Grizz menganggukkan kepalanya kemudian masuk dalam mobilnya. Ibu-ibu itu masih terus menatap kepergian mobil mewah itu dengan pandangan terharu. Dengan uang ini, ia bisa makan dengan layak bersama dengan anak-anaknya. Ia sungguh bersyukur atas bertemunya ia dengan perempuan baik hati itu.
__ADS_1