
"Brenda apakah kamu baik baik saja ? siapa dia ?" tanya Kai yang masih memegang handphone Brenda
"Dia adalah mantan kekasih ku dulu, dan beberapa waktu yang lalu dia melamar ku.." ucap Brenda.
"Apa kau yakin akan menikah dengan pria ini ?" tanya Kai.
"Dia tidak seperti itu, aku mengenalnya dengan baik.." ucap Brenda
"Mungkin foto bisa dimanipulasi, tapi sayangnya ini adalah Video Bren.." ucap Kai.
Brenda menutup wajahnya dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Hai, jangan menangis.. Ku mohon berhentilah, lebih baik jika kamu langsung bertemu dengannya, aku akan mengantarkan mu.." ucap Kai.
"Kau mau mengantarkan aku ?" tanya Brenda
"Tentu asal berhentilah menangis, aku tidak bisa melihat wanita menangis." ucap Kai.
"Baiklah, ayo kita pergi.." ucap Brenda.
*****
Rumah sakit tempat Sadid bekerja.
"*Kak, aku ada di kafe depan rumah sakit... bisakah kita bertemu sebentar ?" Brenda.
"Benarkah ? Tunggu 5 menit, aku turun..." Sadid*.
5 menit kemudian....
"Brenda... !! mengapa mendadak sekali ? aku bisa pergi sendiri saat kau meminta ku untuk menemui mu, jangan repot repot kemari.." ucap Sadid senang saat Brenda datang padanya.
Kai duduk di meja yang agak jauh dari Brenda karena dia menganggap ini adalah masalah yang harus mereka selesaikan dengan baik. Namun suara mereka terdengar cukup jelas oleh Kai.
"Kak... apa ini ? " tanya Brenda sambil menunjukkan Video yang di kirim Frisya padanya.
Sadid yang melihat itu langsung pucat pasi, jantungnya berdegub tidak karuan, keringat bercucuran entah darimana.
"Da darimana kau mendapatkan itu Bren ?" tanya Sadid.
"Katakan, apa ini benar ?" tanya Brenda.
Sadid langsung berjongkok di depan Brenda sambil menitihkan air mata, terlihat aura keputusasaan dari wajah Sadid.
"Brenda... kumohon dengarkan aku dulu Bren... " ucap Sadid memohon.
"Duduklah dan jelaskan pada ku..." ucap Brenda.
"Baiklah, hari itu....... "
__ADS_1
Hari itu adalah hari dimana aku melepaskan mu, aku sangat mencintai mu, aku tidak mengerti aku sudah melakukan semua yang terbaik untuk mu, Aku bahkan tidak pernah membuat mu bersedih, hingga suatu hari saat aku terpuruk karena mu.
( Kai mendengar sambil mengangguk angguk mencoba mengerti apa yang dialami si
Sadid ) .
Aku bertemu dengan Cokie dia menenangkan ku, dia yang paling mengerti aku, namun sayangnya itu membuat kami jadi saling jatuh cinta dan masuk dalam dunia gelap yang seharusnya tidak pernah aku selami. " Lanjut Sadid.
Kai mendadak...
"Hueeekk... Hueekk..." Kai muntah seketika saat mendengar kata mereka jatuh cinta.
Sadid menatap ke arah Kai.
"Ah,tuan jangan perdulikan aku... " ucap Kai salting.
"Maafkan aku yang sudah membuat mu seperti itu... tapi ini tidak benar.." ucap Brenda.
"Aku ingin kembali ke jalan yang benar Bren, dan aku yakin itu bersama dengan mu... " ucap Sadid.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa... aku sangat sedih.." ucap Brenda
Brenda beranjak pergi....
"Brenda tunggu, mengapa kau meninggalkan ku.." tanya Kai.
"Maaf Kai aku lupa..." ucap Brenda sedih.
"Apakah kau kecewa dengan kenyataan bahwa dia Gay Bren ?" tanya Kai.
Brenda mengangguk angguk.
"Jangan di pendam, katakan saja... aku kan teman mu.." ucap Kai.
Brenda menatap Kai.
"Mau makan es krim ?" tanya Kai
"Boleh... dimana ?" tanya Brenda.
"Diujung jalan ini sepertinya ada mini market." ucap Kai.
Brenda hanya terdiam sambil berjalan mengikuti Kai dari belakang.
" Ayolah Bren.. " ucap Kai sambil menarik tangan Brenda dan masuk ke dalam mini market.
"Pilihlah.. kau mau rasa apa ?" tanya Kai
"Rose ? rasa baru yaa... " ucap Brenda
__ADS_1
"Yaa.. akhir akhir ini semakin banyak rasa es krim yang dibuat, lihat ini rasa jeruk nipis... terdengar aneh." jelas Kai.
"Hm... ( senyum ) Aku pilih rasa rose aja deh penasaran.." ucap Brenda
Mereka berdua duduk di depan mini market bersama.
"Apakah kamu merasa lebih baik Bren ?" tanya Kai.
"Iya, rasa es krim ini membuat ku rileks." ucap Brenda
"Apa kau sangat menyukainya ?" tanya Kai.
"Iya, ini enak.."
"Bukan es krim nya, tapi kakak dokter yang tadi.." ucap Kai.
"Awalnya aku menyukainya... tapi setelah tahu kebenarannya, aku malah merasa kasihan padanya.." ucap Brenda
"Kasihan ?" tanya Kai
"Mungkin jika dulu aku tetap bersamanya, mungkin dia tidak akan seperti ini.." sesal Brenda.
"Apa kau mengenal keluarganya ? mungkin kau bisa tahu sesuatu tentangnya." ucap Kai.
Brenda terdiam dan teringat akan dokter Andri yang dia temui di Rio.
"Terimakasih atas saran darimu Kai, kau teman yang baik... " ucap Brenda
"Astaga... dia hanya mengatakan hal seperti itu saja susah membuat ku senang.
Pukul 10 malam Brenda sampai dirumah.
"Apa kau tidak mampir dulu ?" tanya Brenda.
"Sebenarnya, tapi aku rasa tidak benar jika berkunjung dimalam hari.. " ucap Kai..
"Baiklah sampai bertemu lagi Kai.. " ucap Brenda.
"Kau mau bertemu lagi dengan ku ?" tanya Kai
"Tentu.. kau teman ku, kita harus menghabiskan banyak waktu bersama untuk bersenang senang..." ucap Brenda
Wajah Kai langsung merah mendengar ucapan Brenda.
"Baiklah aku pergi dulu, jaga dirimu aku siap mendengarkan keluh kesah mu setiap kau sedih.." ucap Kai.
"Terimakasih, berhati hatilah di jalan.."
"Baiklah, mimpi yang indah Bren.."
__ADS_1
"Okey kai, aku masuk.." ucap Brenda
********