
"Hahh..." Nafas Brenda berat.
"Ayo naik dan beristirahat, aku akan membantu mu." Ucap Kai penuh perhatian.
Brenda naik ke kamarnya dengan wajah murung.
"Mengapa dia datang jika hanya ingin membuat ku sedih." Keluh Brenda.
"Maafkan aku, aku tidak seharusnya turun." Sesal Kai.
Brenda menghela nafas panjang.
"Sudah malam pulanglah Kai, besok kau harus meeting dengan ku." Ucap Brenda.
"Aah, apa seharusnya aku pulang ? Aku bahkan tidak melihat bik Sari sejak aku datang." Ucap Kai.
"Bik Sari sedang pulang kampung." Ucap Brenda.
"Sudahlah pulanglah saja, aku baik baik saja." Ucap Brenda meyakinkan Kai.
"Baiklah, jika ada sesuatu jangan ragu hubungi aku." Ucap Kai.
Brenda tersenyum.
"Terimakasih sudah selalu berada disamping ku, aku menyayangimu Kai." Ucap Brenda sambil memeluk Kai.
"Bye Brenda..." Ucap Kai.
"Bye Kai."
Beberapa saat kemudian Kai pergi dari rumah Brenda.
****
Keesokan harinya...
Rama menghubungi Brenda.
"Halo ?" Sahut Brenda.
"Brenda, maaf menghubungi mu sepagi ini." Ucap Rama.
"Ada apa ? Kau ingin mengatakan sesuatu tentang Frisya ?" Tanya Brenda enteng.
"Ahh, mengapa di pikiran mu hanya ada Frisya ?" Keluh Rama.
"Ya, salahkan Frisya. Mengapa dia tega mematahkan hatiku saat kami baru saja bertemu setelah sekian lama." Ucap Brenda.
"Baiklah, kita bahas itu lagi nanti, ada hal gawat Bren." Ucap Rama panik.
"Apa Frisya akan menikah hari ini ?" Tanya Brenda lagi.
"Oh astaga gadis ini !!" Suara Rama meninggi.
"Kau meninggikan suara mu padaku Ram ?" Lanjut Brenda sambil mengunyah suapan roti terakhirnya.
"Maafkan aku, tapi kau sungguh sungguh tidak mau mendengarkan ku dengan serius, padahal apa yang akan kusampaikan ini serius." Jelas Rama.
"Baiklah, Brenda Edelweis siap mendengarkan anda tuan kucing hahaha." Ucap Brenda.
"Ah, sudahlah aku tidak ingin tekanan darah ku naik, dengarkan aku ini tentang kerjasama Hoki Grup dengan Freefood." Ucap Rama tegas.
"Yap, kenapa ?" Ucap Brenda enteng.
"Sepertinya ada kesalahan Bren, perusahaan mu melakukan korupsi sebesar 30% dari keuntungan bersama pada dua tahun lalu." Ucap Rama.
"Maksud mu ?" Tanya Brenda serius.
__ADS_1
"Pada tahun itu, ternyata sebenarnya penjualan produk kita tetap baik, tapi pendapatan kita malah menurun drastis, aku juga melakukan kesalahan karena tidak becus saat itu." Lanjut Rama.
"Siapa yang menyadari hal ini ?" Tanya Brenda penasaran.
"Kau pikir siapa lagi orang yang berkompeten atau bahkan dia orang yang bisa menghitung hanya dengan melihatnya saja." Ucap Rama ketakutan.
"Ahh, aku tidak yakin tapi sepertinya itu mas Frisya ya." Ucap Brenda
"Apa kau berpikir aku yang melakukan korupsi ? Atau kau berpikir aku sengaja membiarkan hal ini ?" Ucap Brenda.
"Aku tidak mengerti Bren, mungkin bawahan mu, aku tahu kau orang yang sangat percaya pada asisten mu." Ucap Rama.
"Hm, kau benar... Lalu bagaimana dengan Frisya, apa rencananya ?" Tanya Brenda penasaran.
"Dia akan segera melakukan rapat koordinasi dengan perusahaan mu." Ucap Rama.
"Baiklah, aku menunggu kabar selanjutnya." Ucap Brenda.
Beberapa saat kemudian Brenda berangkat menuju Hoki Grup. Seperti biasanya para pegawai menyambutnya dengan ramah tamah.
"Bagaimana kabar kalian ? Maaf aku terlalu sibuk sampai tidak sempat menyapa." Ucap Brenda.
"Kami baik baik saja nona Brenda, semoga anda selalu sehat dan panjang umur nona." Lanjut beberapa pegawai.
"Terimakasih, lanjutkan pekerjaan kalian aku masih ada pekerjaan lain." Ucap Brenda.
Beberapa saat kemudian, Brenda masuk menuju ruangannya.
"Aku memang terlihat cukup keren dengan potongan rambut ini." Ucap Brenda memuji dirinya sendiri.
Suara pintu diketuk.
"Permisi nona Brenda." Ucap Meta.
"Masuklah." Sahut Brenda.
"Nona Brenda tuan perusahaan Freefood ingin melakukan rapat segera." Ucap Meta .
"Baiklah nona Brenda saya permisi, oh iya apa perlu saya membawa teh untuk anda ?" Tanya Meta.
"Tidak perlu, aku sudah minum coklat tadi." Sahut Brenda sambil fokus pada pekerjaannya.
2 jam kemudian...
"Nona Brenda, kita sudah ditunggu di ruang meeting." Ucap Meta.
"Baiklah, ayo berangkat." Sahut Brenda sambil merapikan mejanya.
*Ruang meeting...
Brenda masuk ke ruangan meeting, semua orang sudah menanti kedatangannya.
Brenda tersenyum...
"Baiklah meeting bisa kita mulai sekarang ?" Tanya Brenda.
"Nona Brenda, bagaimana bisa perusahaan kami bisa merugi hingga 30% 2 tahun yang lalu ?" Tanya Frisya formal.
Brenda tersenyum mendengar suara Frisya.
"Hm, jadi begini tuan Frisya dan tuan tuan sekalian sebenarnya saya juga baru menyadari hal ini tadi, saya tidak tahu menahu soal ini, tapi sebenarnya saya sudah menemukan pelakunya." Ucap Brenda.
Meta bergetar, matanya memerah ketakutan.
"Perkenalkan ini Meta asisten saya, jadi pertama tama adakah yang ingin kau sampaikan Meta, Sebelum aku mengatakan sesuatu ?" Ucap Brenda
Meta langsung berdiri dan berlutut.
__ADS_1
"Nona Brenda, tolong maafkan saya... saya terpaksa melakukan korupsi ini nona Brenda, Ibu saya sakit keras, saya perlu banyak biaya untuk itu." Ucap Meta jujur.
"Berdirilah, jadi... Tuan tuan sekalian, kalian sudah mendengar sendiri jika sebenarnya itu adalah ulah dari asisten saya sendiri dan juga kekeliruan saya Karena terlalu mempercayakan segalanya pada asisten saya." Ucap Brenda.
Beberapa orang berbisik-bisik dan mulai mengatakan hal hal buruk pada Meta.
Frisya menatap Brenda, Brenda tersenyum dan mengangkat kepalanya.
"Baiklah tuan Frisya, anda bisa menentukan berapa banyak kerugian yang harus kami ganti dan berapa banyak uang pinalti yang harus kami bayarkan." Ucap Brenda.
"Saya rasa rapat kali ini sudah cukup, kami menunggu kabar selanjutnya dari anda sekalian." Ucap Brenda dan kemudian Brenda keluar dari ruang meeting tanpa melihat Frisya dengan spesial.
Frisya juga hendak pergi dari Hoki Grup. Tiba tiba suara pesan masuk. Frisya segera mengecek Handphonenya.
"Sudah berada disini tidakkah kau ingin menemui ku ?" Brenda
"Cihh, gadis ini..." Ucap Frisya sambil menutup Handphonenya.
"Kalian pergilah terlebih dahulu, aku ada sedikit urusan." Ucap Frisya.
Frisya segera masuk ke ruangan Brenda. Karena Frisya masuk tanpa permisi itu membuat Brenda sedikit kaget.
"Astaga... Kau mengagetkan ku." Ucap Brenda sambil tersenyum .
"Apa yang membuat mu tersenyum seperti itu ?" Ucap Frisya datar.
"Mas Fris, apa kau benar benar sudah bertunangan dengan gadis itu ?" Tanya Brenda.
Frisya mengangguk.
"Tentu saja, kau bisa lihat cincin ini buktinya." Frisya menunjukkan sebuah cincin melingkar di jari manisnya.
"Kau tidak sungguh sungguh menyukainya kan ?" Ucap Brenda.
"Kau salah, aku sangat menyukainya... dia sangat rajin melihat ku di penjara." Ucap Frisya.
"Lalu, mengapa kau menolak ku saat aku hendak menjenguk mu ?" Ucap Brenda.
"Tempat ini masih belum berubah." Ucap Frisya.
"Bagaimana bisa berubah saat aku masih tetap sama." Ucap Brenda.
"Berhentilah mengejarku, aku tidak akan mengganggu mu lagi." Ucap Frisya.
"Aku akan berjuang sendiri dan akan berhenti sendiri, tidak ada yang bisa meminta ataupun menghentikan ku." Ucap Brenda yakin.
"Bagaimana kabar Mami ?" Ucap Frisya.
"Buruk..." Ucap Brenda.
"Buruk ? Lalu, mengapa kau disini ?" Tanya Frisya khawatir.
"Apa dayaku, mami juga tidak ingin menemui ku lagi." Ucap Brenda.
"Wah, pasti sesuatu yang buruk sudah kau lakukan sehingga menyakiti hatinya." Ucap Frisya.
"Kau benar, meskipun mami tidak benar benar mengatakannya tapi aku cukup mengerti." Ucap Brenda.
"Apa yang kau mengerti ?" Tanya Frisya.
"Mami, mami sedih saat mendengar hal buruk menimpa mu." Ucap Brenda.
Frisya tertawa melihat Brenda mengatakan hal seperti itu.
"Hahaha." Tawa Frisya.
"Mengapa kau terlihat begitu bahagia ?" Tanya Brenda.
__ADS_1
"Ya, aku baru menyadari jika mami memang lebih menyayangi ku daripada dirimu." Ucap Frisya.
"Ah, menyebalkan." Ucap Brenda.