Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Frisya


__ADS_3

** kediaman Frisya.


Frisya duduk di balkon rumah dengan sebotol Anggur. Perasaannya kacau hatinya pedih mengingat Brenda yang tidak ada disisinya..


" Mengapa kau tidak pulang Brenda... " ucap Frisya dengan linangan air mata.


"Bahkan... ( Menghela nafas ) seluruh dunia ku akan aku berikan asal kau kembali disisi ku.. " ucap Frisya sambil kemudian meneguk anggur di gelasnya.


"Kau pergi bahkan tanpa membawa sehelai pakaian pun, kau sungguh sungguh meninggalkan ku disini bersama kenangan ini.. " ucap Frisya .


Tiba tiba seseorang datang.


"Fris... kau dimana ?" ucap Rama sambil menghidupkan lampu rumah.


"Untuk apa kau kemari ?" ucap Frisya tiba tiba.


"Oh, astaga... kau mengagetkan ku.. " keluh Rama.


"Pergilah.. " ucap Frisya


"Hai... Hai sadarlah.. ini belum sepenuhnya berakhir.. " ucap Rama


Frisya menatapnya.


"Oh, ayolah Friss... mungkin Brenda sedang marah tapi, dia tetap istri mu, kau harus membuatnya kembali.. " ucap Rama.


"Brenda sudah membenci ku.. " ucap Frisya putus asa.


"Kau tidak boleh putus asa seperti ini, berhentilah minum dan makanlah sesuatu " ucap Rama.


Frisya terdiam, tidak menggubris ucapan Rama.


"Besok, aku akan temani kau untuk menjemput Brenda dari rumah Maminya.. " ucap Rama.


"Bagaimana jika dia tidak mau ?" tanya Frisya


"Kita pikirkan nanti itu, kau tidak bisa melepaskannya begitu saja.. " ucap Rama.


"Kai... bagaimana dengan dia ?" tanya Frisya


" Entahlah sepertinya dia akan menempuh jalur hukum.. " ucap Rama.


"Pergilah Ram.. aku ingin sendiri.. " ucap Frisya


"Kau tahu, aku satu satunya orang yang tidak akan pergi meninggalkan mu sendirian, apapun yang terjadi padamu.. " ucap Rama.


"Aku bahkan tidak pernah sungguh sungguh mengganggap mu sebagai seorang teman.. " ucap Frisya.

__ADS_1


"Aku adalah seorang yatim piatu sejak awal, dan hanya kau yang aku miliki.. " ucap Rama.


" Meskipun aku tidak bisa berharap banyak darimu, tapi aku selalu menganggap mu sebagai panutan ku.. " ucap Rama .


Rama melihat kearah Frisya, namun ternyata Frisya sudah tertidur pulas.


"Mungkin dia sudah terlalu lelah meratapi Brenda. " ucap Rama.


***


Keesokan harinya...


"Friss bangunlah, kau harus segera bangun dan pergi menjemput Brenda.. " ucap Rama.


Perlahan Frisya terbangun meskipun tidak menjawab Rama.


Beberapa menit kemudian Frisya sudah bersiap dengan rapi .


"Kau nampak baik hari ini.. aku yakin saat melihat ini Brenda akan segera pulang.. " ucap Rama.


Frisya kembali menitihkan air mata.


"Oh astaga Friss... bagaimana bisa kau serapuh ini ?" tanya Rama melihat air mata Frisya.


"Bertahanlah kau seorang pria.. " ucap Rama menenangkan dengan sebuah pelukan seorang sahabat.


"Baiklah ayo kita selesaikan ini, aku seorang Frisya tidak akan membiarkan miliknya pergi begitu saja.. " ucap Frisya berusaha tegar.


"Ah, benar itu baru Frisya yang aku kenal.. " ucap Rama.


"Apa tidak seharusnya kau makan sesuatu terlebih dahulu ?" tanya Rama.


Frisya menggelengkan kepalanya.


"Dia bahkan terlihat seperti anak kecil saat seperti ini.. " ucap Rama dalam hati.


Mereka memulai perjalanan menuju rumah Mami.


Beberapa jam kemudian mereka hampir sampai. Rama berhenti di pinggir jalan dan membeli buckey bunga.


"Aku tidak tahu Brenda suka bunga apa, tapi semoga ini bisa meluluhkan hati wanita yang kau cintai.. " ucap Rama.


Frisya hanya mematung, Rama kembali melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi .


"Fris, aku mohon siapkan dirimu dengan baik sebelum bertemu dengan Brenda." ucap Rama.


"Kau sungguh cerewet.. " ucap Frisya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah mami.


Frisya mulai mengetuk pintu rumah.


" Ya tunggu sebentar... "ucap Mami.


Klek... ( Membuka pintu rumah )


"Frisya !" seru mami.


Frisya tidak sanggup menahan air matanya.


"Nak.. masuklah, duduk.. " ucap Mami sambil merangkul anak menantunya itu.


" Jangan menangis... Meskipun mungkin kamu sudah melakukan hal yang fatal, tapi Brenda tidak bisa serta merta melakukan ini sama kamu... kamu tetap suaminya.. " ucap Mami sambil memeluk Frisya, menenangkan anaknya yang sedang kacau.


Frisya menghapus air matanya.


"Dimana Brenda mi ?" tanya Frisya


" Dia belum bangun, mungkin dia sedikit kelelahan.. " ucap Mami.


Frisya pergi melihat Brenda yang masih belum bangun.


" Brenda... Apa kamu belum bangun sayang.. " ucap Frisya sambil menyentuh pipi Brenda.


"Mengapa tubuh mu panas sekali ?" ucap Frisya.


" Tenang.. tenang jangan takut, mas disini.. mas akan merawat mu.. " ucap Frisya sambil mencari sesuatu untuk mengompres Brenda.


"Cari apa nak ?" tanya Mami.


"Mami, Brenda sepertinya demam.. " ucap Frisya


"Benarkah ? Baiklah mami akan segera membawa kompres.. " ucap Mami.


"Jangan mi.. biarkan Frisya yang melakukan itu.. " ucap Frisya sambil membawa kompres.


"Berusahalah dengan baik, mami yakin dengan ketulusan mu dia akan luluh.. " ucap Mami.


"Frisya tidak berharap banyak mi.. Brenda mau memaafkan Frisya, itu saja sudah cukup. " ucap Frisya sambil menunduk.


"Brenda pasti memaafkan mu nak, jangan berkecil hati seperti ini.. " ucap mami


"Maaf mi, Frisya akan harus segera mengompres Brenda kasihan dia terlalu lama menunggu.. " ucap Frisya


Mami hanya bisa terdiam melihat anak menantunya itu.

__ADS_1


******


__ADS_2