Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Frisya Sakit I


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


"Sayang... ayok banguunn... " ucap Brenda


"Duh.. mas masih pengen liburan... " ucap Frisya


"Liburan ?? di atas sini... haha " ucap Brenda


" Kamu kok ketawa sih.. " ucap Frisya sambil duduk.


"Aku sebenarnya mau ngajakin mas berobat.." ucap Brenda


"Berobat ?" tanya Frisya


"Mas rasa masalah gampang itu dek, jangan sekarang yaa.. " ucap Frisya


"Mas... biar cepet ketahuan kamu itu sakit apa ? parah gak ? Aku khawatir tauu.. " ucap Brenda sedih.


"Ya ampun, kamu sedih sayang ?" tanya Frisya


"Aku khawatir sama kesehatan kamu mas.. " ucap Brenda.


" Ya Udah, ayo kita berobat.. tapi.. " ucap Frisya ragu.


"Udah, gak usah mikir macem macem... pikirin aku aja yang pingin punya dedek baby sama kamu.. " ucap Brenda sambil memeluk Frisya manja.


"Mas janji, saat mas sudah sembuh... mas bakal buatin kamu 10 dedek baby.. " ucap Frisya cekikikan.


"Waahh... boleh juga haha.. " ucap Brenda


******


15 menit kemudian mereka berangkat..


Rumah sakit Global International.


"Silahkan tuan, sudah di tunggu dokter Andri " ucap seorang suster.


"Ayo mas masuk... " ucap Brenda


"Ah, mas gak yakin nih.. " ucap Frisya menolak.


Mata Brenda berbinar.


"Ah.. mengapa kamu menatap mas seperti itu.. " ucap Frisya


Mata Brenda semakin bercahaya.


" Hentikann... " ucap Frisya silau..


"Ah, baiklah.. baik... ayo masuk, dan hentikan itu.. " ucap Frisya tidak berdaya melawan keinginan istrinya.


" Gitu dong dari tadi.. " ucap Brenda sambil tersenyum.


Masuk...


"Nona Brenda ???" ucap Dokter Andri yang bukan lain adalah ayah Sadid.

__ADS_1


"Dokter Andri... anda sudah kembali ?" tanya Brenda


"Sudah, aku kembali beberapa bulan yang lalu.. " ucap Dokter Andri.


"Apakah ini suami mu Nona Brenda ?" tanya dokter Andri.


"Ah, iya.. perkenalkan, mas Frisya.. " ucap Brenda


"Ah, tuan... anda sangat beruntung memiliki pasangan sebaik Nona Brenda.. " puji dokter Andri.


" Ya, terimakasih... " ucap Frisya heran dengan kedekatan antara Brenda dan dokter Andri.


"Jadi, apa yang membawa kalian kemari ? apakah kalian akan program kehamilan ?" tanya dokter Andri


Frisya berkeringat dingin.


"Hm... jadi begini dokter, suami saya... " ucapan Brenda terpotong.


"Ah, aku sepertinya ada urusan mendadak... maaf dokter tapi sepertinya lain kali saja kita lanjutkan pemeriksaan ini.. " ucap Frisya menghindar.


"Ayo sayang kita pergi.. " ucap Frisya


Brenda membelalakan matanya, Frisya menarik tangan Brenda perlahan.


"Maafkan aku, nanti akan aku hubungi lagi anda secara pribadi.. " ucap Brenda sambil berjalan keluar.


" Berhati hatilah nona.. " ucap dokter Andri sambil melambaikan tangannya.


*****


Mobil.


" Kamu kok gak bilang kalo kamu kenal dengan dokter itu... " ucap Frisya kesal.


" Loh, gimana mau bilang, ketemu saja barusan.. " ucap Brenda tak kalah kesal.


"Pasti akan lebih menyebalkan jika dia mengatakan sakit ku pada orang lain, apalagi sampai pada kolega kita bagaimana ?" tanya Frisya dengan nada ketus.


"Kamu hanya berpikir tentang bagaimana orang akan menilai kamu mas.. kamu gak mikirin aku.. " ucap Brenda tidak mengerti.


"Maksud kamu ?" tanya Frisya


"Kamu berpikir hanya tentang bagaimana kamu, bagaimana orang lain membicarakan kamu.. Sedang istri mu mengkhawatirkan kamu dan juga ingin segera memiliki keturunan. " ucap Brenda sedih.


"Baiklah.. Baiklah maafkan mas.. " ucap Frisya


"Apa maaf akan menyembuhkan kamu ?" ucap Brenda


"LALU APA YANG HARUS AKU LAKUKAN ??" ucap Frisya berteriak.


"Kamu berteriak kepada ku ?" tanya Brenda


"Oh, astaga bren... " ucap Frisya.


Tiba tiba...


Suara Handphone berdering ...

__ADS_1


"Halo... " ucap Frisya


"Fris, kau dimana ? Bisa kau datang ke kantor ?" tanya Rama.


"Ada apa ?" tanya Frisya


"Wanita gila itu datang lagi.. " ucap Rama.


"Maksud mu siapa ?" tanya Frisya


Brenda terdiam menatap kaca pintu mobil sambil mendengarkan percakapan mereka.


"Siapa lagi, kalau bukan Serllyta.. " ucap Rama.


"Oh astaga... sudah urus dia sendiri, aku tidak ingin bertemu dengannya sekarang... " ucap Frisya tegas.


"Tapi Fris.. dia membanting banting barang barang mu.. " ucap Rama.


Frisya melirik Brenda.


" Katakan padanya untuk segera berhenti atau dia akan berakhir buruk. " ucap Frisya dengan nada mengancam.


Brenda yang mendengar melirik dengan takut takut.


"Baiklah... " ucap Rama.


Telepon dimatikan...


Frisya menggenggam tangan Brenda.


"Maafkan mas... Mas sudah berteriak.. " ucap Frisya.


Sampai dirumah...


"Brenda... kamu kok diem sih dek... " ucap Frisya


"Jangan bicara pada ku sebelum kamu benar benar sudah siap untuk berobat.. " ucap Brenda sambil berlari ke kamarnya.


Frisya mengejar Brenda dan ikut masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana jika aku menjalani pengobatan dirumah saja, aku mampu membayar dokter untuk merawat ku.. " ucap Frisya


" Terserah mas... aku hanya ingin mas segera sembuh.. " ucap Brenda sambil menitihkan air mata.


"Kamu kecewa ?" tanya Frisya


"Iya, aku kecewa... setelah menikah kamu bahkan tega untuk membentak ku.. " ucap Brenda


"Maaf ya sayang... " ucap Frisya.


"Aku tidak tahu tapi rupanya kau memiliki banyak stok untuk meminta maaf.. " ucap Brenda


"Sejak sakit, rasa tidak percaya diri seperti menghantui mas, itu membuat mas merasa tertekan.. " ucap Frisya


Brenda memeluk Frisya...


"Besok, akan aku minta dokter Andri datang kemari untuk mengobati mu... " ucap Brenda

__ADS_1


"Baiklah.. " ucap Frisya ragu ragu.


.


__ADS_2