
Perlahan Brenda mendengarkan dengan serius tiap kata yang diucapkan pria yang diklaim Serllyta sebagai Frisya.
* Apa Kau tidak tahu jika pria yang dikejar kakak ku itu adalah calon suami Brenda ?
Kau pikir aku sudi mengenal kakak mu yang murahan itu jika bukan karena dia ada hubungannya dengan Brenda ? *
Kepala Brenda mendadak pusing.
"Apa yang kau lakukan hingga suami ku mengatakan hal mengerikan ini ?" tanya Brenda
"Aku tidak melakukan apapun, dia yang mengungkapkan jati dirinya pada ku.. " ucap Serllyta.
"Tidak... ( Nafas terasa sakit ) Tidak mungkin ini seperti itu.. " ucap Brenda sambil menahan air matanya.
"Aku sudah menghubungi tuan Seung, dia juga sudah mengehtahui ini.. " ucap Serllyta
Brenda terdiam lemas..
" Awalnya aku berpikir kau yang seharusnya bertanggung jawab atas kematian kakak ku, tapi yang ku temukan lebih mengerikan.. " ucap Serllyta.
"Brenda... " ucap Serllyta terhenti.
"Berhenti Serllyta, jangan kau lanjutkan lagi ucapan mu.. ( Sedih ) pergilah, aku ingin sendiri.. " ucap Brenda terlihat murung.
"Baiklah aku pergi, tabahkanlah hatimu... aku tidak berbohong tentang apapun, kau bahkan bisa bertanya langsung padanya.. " ucap Serllyta sambil berlalu pergi.
*****
" Tidak mungkin mas Frisya melakukan itu, bahkan saat kami bertemu di Rio, dia masih bertanya, apakah aku bersama dengan Gun Woo atau tidak... " ucap Brenda merasa frustasi .
*******
Perusahaan Hoki Grup..
Meeting berlangsung selama 3 jam dan harus terhenti karena jam makan siang.
Frisya bertemu dengan tuan Seung.
"Ayah, semoga kerja sama ini menjadikan kita semakin akrab.. " ucap Frisya ramah.
"Kau terlihat sangat baik nak... " ucap tuan Seung, seolah olah tidak terjadi sesuatu.
"Terimakasih, ayah terlalu memuji... " ucap Frisya.
"Tapi Fris, Sepandai apapun menyimpan bangkai, cepat atu lambat akan terungkap. " ucap tuan Seung.
__ADS_1
"Maksud ayah ?" tanya Frisya namun harus terhenti karena mendapatkan telepon dari Kai adiknya.
" Maaf ayah, aku harus mengangkat telepon ini.. " ucap Frisya .
Tuan Seung hanya mengangguk.
"Halo Kai.... " ucap Frisya
" Kakak... apa kau sedang bekerja ?" tanya Kai
" Tentu saja.... kapan kau pulang ?" tanya Frisya
" Aku akan pulang besok, sayangnya aku berkali kali menghubungi Brenda dia tidak mengangkatnya, apa dia bersama dengan mu ?" tanya Kai
"Tidak... Mungkin dia sedang beristirahat, nanti aku akan memintanya menghubungi mu.. " ucap Frisya
" Baiklah kak... apa kakak sudah makan siang ?" tanya Kai
" Belum, sebentar lagi mungkin.. " ucap Frisya
" Makanlah dengan baik, Brenda sangat mengkhawatirkan mu.. " ucap Kai.
"Haha... Baiklah, terimakasih untuk perhatian mu.. " ucap Frisya
"Hai, aku adik mu.. jangan membuat ku malu... " ucap Kai..
"Ah, aku rasa aku harus segera mengakhiri telepon ini atau kau akan terus memuji ku.. " ucap Kai.
"Baiklah... sampai bertemu besok Kai.. " ucap Frisya
"Bye Kak.. " ucap Kai.
"Brenda tidak bisa dihubungi ? tumben sekali..." pikir Frisya.
******
Setelah Serllyta pergi, Brenda tetap terduduk di sofa tamu, ribuan pertanyaan berkecamuk didalam batinnya.
*Apa aku dikhianati ? Siapa pria yang selama ini selalu mengatakan cinta pada ku itu ?
Apa yang diucapkan wanita itu sebuah kebenaran ?
Aku tahu Suamiku mungkin dulu seorang Psikopat, tapi aku yakin dia sudah berubah*..
*Jika ini adalah suatu kebenaran, lantas apa yang harus aku lakukan ?
__ADS_1
Hiks... Hikss... Hikss... Gun Woo... Abang..
Benarkah kau berakhir di tangan Frisya*...
( Air mata menetes deras )
*Berbulan bulan ku habiskan untuk memulihkan hati ku, beberapa tahun ku habiskan untuk kembali waras setelah kepergian Gun Woo...
Tidak !! Aku tidak boleh mempercayai ini, sebelum aku mendengar langsung dari Frisya...
Aku masih percaya, jika Frisya tidak akan melakukannya, dia tidak akan mengkhianati ku*...
Seharian ini Brenda habiskan untuk termenung, hingga waktu sore hari...
Brenda masih tetap terdiam di tempat dia duduk, tubuhnya serasa tertanam disana. Hatinya tidak percaya, tapi Pikirannya masih mengingat dengan jelas semua yang pernah Ibu panti katakan tentang Frisya.
Malam mulai menjelang, Brenda tetap tidak bergeming bahkan untuk menghidupkan lampu pun tidak dia lakukan.
*****
Frisya pulang dan segera masuk ke dalam rumah.
"Loh ada apa ini ? Mengapa gelap... " ucap Frisya sambil berjalan masuk.
Brenda masih tetap terdiam.
"Apa Brenda hendak membuat kejutan ?" pikir Frisya.
Frisya berjalan dan menghidupkan lampu.
"Mengapa rumah begitu sepi... " ucap Frisya sambil berbalik dan langsung kaget saat melihat Brenda duduk terdiam tidak menyambutnya.
"Astaga !!!!" teriak Frisya
"Oh, Dek... kamu ngapain ? ngagetin mas Frisya aja.. " ucap Frisya sambil memegangi dadanya.
Brenda terlihat sangat muram.
"Sayang, apa yang terjadi ? Apa ada yang tidak beres ?" tanya Frisya.
Frisya melihat sekitarnya.
"Kamu bahkan tidak menyelesaikan merangkai bunga kesukaan kamu, katakan ada apa ?" tanya Frisya risau.
Perlahan Brenda melihat ke arah Frisya.
__ADS_1
*******