
Beberapa hari kemudian…
Seperti biasanya Brenda berangkat ke Hoki Grup dengan mobil mewahnya. Saat baru sampai disana Brenda sudah disambut oleh seorang pria. Pria itu tersenyum kepadanya.
“Apakah jadwalmu senggang Ashlan ?” Tanya Brenda.
“Apa aku tidak bisa mampir kemari ?” Tanya ashlan balik.
“Asal tidak mengganggu pekerjaanmu, aku rasa itu bukan masalah.”Ucap Brenda sambil beranjak masuk.
“Kau sudah sarapan pagi ini Brenda ?” Tanya Ashlan.
“Tentu saja, aku harus sarapan pagi, jika tidak sarapan mana mungkin aku kuat ?” Ucap Brenda .
“Kuat ? Hahh… Apa pekerjaan seorang Ceo seberat itu ?” Tanya Ashlan
“Hahaha, kau benar… Pekerjaan Ceo memang lebih mudah dibanding siapapun disini karena banyak yang membantu, tapi sulitnya menghadapi kenyataan, itu hanya aku yang tahu” Terang Brenda.
“Berbagilah itu denganku, bukankah kau sudah menganggapku sebagai temanmu ?” Tanya Ashlan.
“Yay a ya… Aku akan melakukannya tapi sekarang bukan waktu yang tepat, datanglah malam ini kerumah ku.” Ucap Brenda.
“Kau mengundangku ke rumahmu ?”Ucap Ashlan.
“Ya, aku mengundangmu makan malam… Aku akan memasak sendiri.” Ucap Brenda sambil mulai membuka laptopnya.
“Aku rasa kau orang yang benar benar konsisten.” Puji ashlan pada Brenda.
“Apa yang aku lakukan ?” Tanya Brenda sambil mentap Ashlan.
“Ya, bahkan kau bisa tetap focus bekerja saat ada tamu.” Ucap Ashlan.
“Ahh, maafkan aku tapi aku lebih senang jika aku bisa menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu.” Ucap Brenda.
Ashlan tersenyum.
“Berhentilah tersenyum tanpa alasan, kau menakutiku Ashlan.” Ucap Brenda.
“Oh ya, mengapa kau memasak sendiri ? Kau tidak menggunakan jasa Art ?” Tanya Ashlan penasaran.
“Aku menggunakan jasa Art tapi sayangnya dia sedang mengalami kesusahan, anaknya sakit jadi dia harus pulang kampong sementara waktu.” Ucap Brenda.
“Mau aku carikan art baru ?” Ucap ashlan.
“Tidak perlu repot repot, aku cukup handal melakukannya sendiri.” Ucap Brenda.
“Kau sungguh wanita sukses yang mandiri Brenda.” Ucap Ashlan.
“Terimakasih, tapi jika bisa memilih aku ingin menjadi wanita biasa saja…” Ucap Brenda.
“Maksudmu ?” Tanya Ashlan.
Belum Brenda menjawab, tiba tiba suara handpone Ashlan bordering.
“Brenda permisi, aku harus menjawab panggilan ini.” Ucap Ashlan.
Brenda tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan mempersilahkan Ashlan dengan tangannya.
Beberapa saat kemudian. Ashlan kembali masuk.
“Brenda…” Panggil Ashlan.
Brenda berdiri menghadap jendela sambil meneguk tehnya.
__ADS_1
“Maaf sepertinya aku harus pergi.” Ucap Ashlan.
“Pergilah… aku harap kau tidak terlambat dengan jadwal meeting mu hari ini.” Ucap Brenda.
“Kau tahu itu ?” Tanya Ashlan.
“Ya, aku baru saja menebak.” Ucap Brenda.
Ashlan tersenyum.
“Baiklah Brenda, semoga harimu menyenangkan.” Ucap Ashlan.
“Terimakasih, berhati hatilah di jalan.” Ucap Brenda.
Ashlan mengangguk dan segera pergi dari ruangan Brenda, saat keluar dari ruangan Brenda. Ashlan menabrak seseorang.
“Ah, maafkan aku..” Ucap Ashlan
“Hm, tidak masalah ini hanya segelas kopi.” Ucap Kai.
“Aku akan menggantinya.” Ucap Ashlan
“Sudah tidak perlu, kau kelihatan sedang terburu buru.” Ucap Kai.
“Terimakasih…” Ucap Ashland dan kemudian beranjak pergi.
Setelah itu Kai masuk ke ruangan Brenda.
“Hai Brenda… Mengapa melamun seperti itu ?” Sapa Kai.
“Kai…” Brenda berseru sambil berjalan kearah Kai.
“Hai apa kabarmu pagi ini ? Siapa pria yang baru saja keluar dari sini ?” Tanya Kai.
“Wah, aku tidak menyangka kau semudah itu memiliki seorang teman baru…” Ucap Kai.
“Hai, apa kau cemburu ?” Ucap Brenda.
“Apa itu terlihat begitu jelas ?” Balas Kai.
“Hahaha…” Balas Brenda.
“Frisya belum kelar sekarang muncul pria ini.” Ucap Kai kesal.
“Hai, jangan menyalahkan ku… Aku bahkan tidak menjanjikan apapun.” Ucap Brenda.
“Pasti dulu Gun woo mengalami hal seperti ini juga.” Ucap Kai.
“Berhentilah omong kosong, dan datanglah nanti malam, kita makan malam bersama. Bik sari sedang pulang ke kampungnya, aku akan memasak sendiri.” Ajak Brenda pada Kai.
“Aku pasti datang.” Ucap Kai.
“Aku menunggumu Kai.” Ucap Brenda lagi.
“Maaf hari ini tidak membawakanmu kopi, pria tadi menumpahkan kopi ku.” Ucap Kai.
“Benarkah ? Kau baik baik saja ?” Tanya Brenda khawatir.
“Tentu saja, hanya sedikit tergores… Tapi aku baik baik saja.” Ucap Kai.
Kemudian Kai melihat jam ditangannya.
“Apa kau akan segera kembali ?” Tanya Brenda.
__ADS_1
Kai mengangguk.
“Sampai bertemu nanti malam.” Ucap Kai
“Baiklah, tapi sebelum pergi bisakah kau memberikan sebuah pelukan untukku ? Aku merasa lelah.” Ucap Brenda.
“Kemarilah.” Ucap Kai sambil menarik tangan Brenda, Brenda terhanyut seketika dalam pelukan Kai.
Suara handphone Kai bordering.
“Astaga… Mengapa mereka begitu cerewet, aku enggan pergi saat saat seperti ini.” Gerutu Kai.
Brenda melepaskan pelukan Kai.
“Sudah pergilah, aku tidak ingin disalahkan karena kau terlambat meeting.” Ucap Brenda seraya melepaskan pelukannya.
“Apakah sudah selesai ? Kita bisa melanjutkannya nanti.” Ucap Kai.
“Ya nanti kita akan melanjutkannya lagi saat makan malam.” Ucap Brenda.
“Aku pergi dulu, Bye Brenda.” Ucap Kai.
“Bye Kai...” Ucap Brenda seraya melambaikan tangannya.
Beberapa saat kemudian Brenda keluar dari ruangannya dan pergi ke tempat Meta.
“Kau sibuk ?” Tanya Brenda pada Meta.
“Nona Brenda ?” Mengapa anda repot repot kemari ?” Tanya Meta.
“Aku sedang ingin keluar saja sekalian melihatmu bekerja.” Ucap Brenda.
“Ada yang anda butuhkan nona ?” Tanya Meta.
“Aku masih menunggu kabar dari Rama, bagaimana ?” Tanya Brenda.
“Ah itu nona Brenda, saya baru ingat Rama baru saja mengabari saya.” Jelas Meta.
“Baru memberi mu kabar ?” Tanya Brenda.
“Benar nona Brenda.” Ucap Meta.
“Jadi, apa yang dia katakan ?” Tanya Brenda.
“Dia bilang jika dia masih belum bisa bertemu dengan anda karna jadwalnya yang sibuk nona Brenda.” Ucap Meta.
“Sibuk ? Untuk bertemu dengan ku ?” Ucp Brenda sinis.
“Ku akui, nyalinya cukup besar.” Lanjut Brenda.
“Telpon dia dan segera sambungkan padaku.” Perintah Brenda.
“Baik Nona Brenda, segera seperti yang anda inginkan.” Ucap Meta.
Beberapa saat kemudian Meta mencoba menghubungi Rama.
“Halo !! Hai, aku sudah bilang padamu jadwalku sangat padat dan aku tidak bisa menemui Brenda saat ini, tidak bisakah kau mengatasi nona mu ?” Ucap Rama dengan nada sinis.
“Siapa kau, berani beraninya kau memerintah sekretarisku ?” Balas Brenda dari seberang telepon.
Rama mendengar suara itu langsung mematung.
“Seberapa tinggi dirimu sekarang, aku terkejut dengan ucapanmu tuan Rama.” Ucap Brenda.
__ADS_1
Rama mencoba mengatur nafasnya agar jangan sampai dia salah saat berbicara dengan Brenda.