
Tiba tiba mas Frisya membuka mata nya.
"Haha lagi dong dek, junior ku candu nih sama tangan kamu, apalagi bibir kamu.."
"iih ngerjain aku mulu dehh.. ." kesal ku.
Aku pergi ke kamar dan beristirahat, sekitar pukul 7 malam aku bangun, aku disambut Ayah dan Mami ku dengan hangat.. meskipun agak sedikit canggung pada mami, tapi bukankah yang sudah.. sudah... . hehe
Malam ini kami habiskan dengan bercanda dan saling menggoda, sampai kami berempat kelelahan dan beristirahat.
Keesokan harinya...
"Brenda... kemari nak.." panggil ayah.
"Iya Ayah... ada apa ??" sahut ku.
"Tolong panggil mas mu kesini..."
"Iya yah..."
Aku berjalan menuju kamar tidur mas Frisya.
"Mass... Mas.. Loh kok gak di jawab... apa masih tidur yaa.." ucap ku seraya hendak mengetuk pintu kamar dan ternyata kamar itu tidak di kunci dan langsung terbuka.
"Ih.. rapi banget yak.. gak kayak kamar aku.." puji ku.
"Hayoo.. ngapain kamu disini coba.." ucap mas Frisya keluar dari kamar mandi, masih menggunakan handuk.
"Eh, mas.. itu kamu di panggil ayah.. ya udah aku keluar dulu yakk.."
"Brend... " ucap mas Frisya sambil menahan pintu yang hendak ku buka.
"Apaan mas ??" tanya ku.
cup..
Tiba tiba mas Frisya mencium bibir ku dengan panas, sedang tangan ku diarahkan pada juniornya.
"Mas.. wemmm.. emm.. " entah apa yang merasuki mas Frisya namun kurasa aku tidak akan bisa lari.
"Jadilah milik ku Brenda.. kita lakukan ya sayang.. aku akan segera menikahi mu, " seraya mas Frisya mulai membuka pakaian ku.
Tubuh ku pun sangat menikmati sentuhan dan cumbuan mas Frisya, namun ini di rumah ku dengan orang tua ku yang masih ada di rumah pula.
"Emm.. Sayang... nanti yaa... sekarang kamu di panggil ayah... ntar kalo cuman sebentar aku gak puas.. nanti aja yaa sayang.."
Keringat bercucuran, badan mas Frisya sangat panas seperti di penuhi nafsu.
"Ke keluar.. keluarlah.. cepat." ucap mas Frisya setengah berteriak sambil memegangi juniornya.
"Kamu ga papa mas ?? sakit kamu ??" ucap ku sambil menyentuh pipi mas Frisya.
Mas Frisya malah melepaskan tangan ku dengan kasar dari pipinya.
__ADS_1
"Cepat keluar atau aku akan memaksa mu melakukan sekarang Brenda.. cepat pergi..!!!"
"Mas Frisya kenapa yaa.. kok kasar gitu sama aku.." pikir ku dalam hati.
Flashback...
Pagi ini Frisya bangun pagi pagi ingin mengajak Brenda berjalan jalan seperti tempo hari.. Seperti biasanya dia langsung mandi, sarapan Roti dan segera minum vitamin yang dia bawa, dia melihat obat di atas meja rias, sambil bermain handphone dia tidak menyadari obat apa yang dia minum. padahal obat vitamin miliknya masih berada di dalam tas miliknya.
30 menit kemudian saat dia masih bermain handphone tiba tiba tubuhnya terasa panas, nafsunya mulai memuncak, kepalanya pusing.
Yang ada di pikirannya adalah Brenda.. tubuh Brenda.. Senyum Brenda.. Namun Frisya tidak bisa melakukan ini disini, dia masih ingat dengan Mami dan ayah.
Di tengah deru nafasnya yang memburu dia berusaha sadar dan pergi ke kamar mandi mengguyur tubuhnya . 45 menit kemudian tubuhnya mulai kembali normal.
"Sepertinya cukup.. aku akan baik baik saja.."
Namun ternyata saat membuka pintu, Brenda ada di dalam kamar Frisya.
Frisya kaget bukan kepalang ternyata juniornya merespon dengan cepat saat melihat Brenda.
Hampir saja dua lepas kendali, manakala Brenda berkata " nanti saja ya sayang.."
Untungnya Frisya masih bisa menahan diri dan mengusir Brenda. Frisya segera kembali ke kamar mandi dan melakukan nya sendiri pada juniornya, 15 menit kemudian Mas Frisya keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega.
"Sial obat apa ini.." Frisya menatap obat tanpa merk yang tadi dia minum.
Mas Frisya teringat jika tadi ayah memanggilnya lalu mas Frisya segera keluar kamar dengan membawa obat itu hendak bertanya kepada Ayah.
"Selamat pagi Om.. Hai dek Bren.." sapa mas Frisya pada Ayah dan aku.
"kok lama banget, keluar kamarnya, kamu sakit ??" tanya ayah.
"Frisya Tidak sakit Om... hanya.. maaf Om ini obat apa ya.." mas Frisya menunjukkan botol berisi obat.
Aku hanya melirik sambil bermain handphone berbalas pesan dengan gun woo.
"Loh, ini.. kamu dapat darimana Friss ??" tanya ayah.
"Di kamar Om di meja rias, Fris pikir itu obat vitamin milik Friss tapi ternyata bukan Friss salah minum obat." jelas Frisya.
Mami yang datang membawa Teh langsung kaget.
"Jadi kamu minum obat ini Friss ??"
"Iya tante, gak sengaja.. emang obat apaan yaa.. badan Friss panas."
Aku menyimak percakapan tanpa menjawab karena aku tidak mengerti.
"Bhahaa itu obat kuat lelaki dewasa le.. " jawab ayah enteng, mata ku terbelalak kaget pantas saja mas Frisya tadi hampir menyerang ku tanpa ampun.
Bukannya marah mas Frisya malah balik tertawa..
"Astaga.. pantas saja... tubuh Friss panas dan sulit di kendalikan."
__ADS_1
"Maaf nak.. maaf.. itu Tante mu.. kalo Om kalah duluan ngambeknya bisa seminggu.." ayah cekikikan.
"Ih ayah.. Mami jadi malu tauu.." mereka bertiga tertawa.
"Mangkannya Friss cepet cepat nikahin dong.. biar gak kepanasan sendiri kalo salah minum obat.." ucap ayah.
"Yaa.. maunya sih begitu Om.. tapi dianya nggak mau.."
Ayah menatap ku...
"Apa ?? apa ayah ?? kenapa menatap seperti itu ???"
"Brenda.. umur kamu sudah 30 tahun nak.. segeralah menikah dengan nak Friss.. kami sangat merestui hubungan kalian."
"Ayah.. bukannya Brenda tidak mau menikah dengan mas Frisya.. tapi... Brenda sudah punya kekasih sendiri."
"Apa ???????" Ucap Ayah dan mami kaget bersamaan.
"Siapa ?? kenapa kamu gak bilang..." tanya mami.
"Nduk.. nak Frisya lebih baik dari siapapun untuk kamu."
"Dia namanya Gun Woo ayah.. dia masih berada di luar negri... beberapa hari lagi dia akan segera pulang... dan akan ku ajak kemari untuk bertemu kalian.."
Mami menatap mas Frisya.
"Sudahlah tante, Om.. saya juga sudah tahu.. saya juga sudah berusaha keras untuk mendapatkan hati Brenda 1 tahun ini.. tapi Brenda tetap bersikukuh.."
"Mas... maaf yaa.. jika kita berjodoh pasti kita bakalan bareng lagi.."
"Ya, kamu akan berakhir dengan ku Brenda.. aku yakin.."
"Mami dan Ayah kecewa sama kamu Brenda.." ucap mami.
"Sudahlah tante.. ini hidup Brenda.. Brenda yang memutuskan tante dan om hanya mengarahkan saja." jelas Frisya.
Aku menunduk tidak bisa menjawab apapun.
"Ya sudah Ayah dan mami mau pergi ke kota sebentar untuk membeli sesuatu.. kalian tinggallah disini.."
"Baik Om.. apa perlu saya antar ??"
"Tidak usah Friss, om bisa nyetir kok.." ucap mami.
Beberapa menit kemudian ayah dan mami pergi. Mas Frisya mendekati ku dan mengelus rambut ku.
"Terimakasih sudah jujur, aku akan memikirkannya apakah aku masih akan maju atau akan mundur saja."
Aku memeluk tubuh mas Frisya...
"Masuk yuk.. ga enak dilihat orang."
"heem.." jawab ku.
__ADS_1
*****