Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Harus bersikap seperti apa ?


__ADS_3

Frisya merawat Brenda saat Brenda mengalami demam, Frisya mengobati kaki Brenda yang terlihat membiru.


"Aku.. Aku memang suami mu, tapi aku tidak menyangka jika perasaan mu padanya masih begitu kuat, aku salah menilai mu.. " ucap Frisya sambil mengecup kening Brenda.


Semalaman Brenda mengalami demam, Frisya begadang menunggu sampai istrinya terbangun.


Keesokan paginya...


Brenda perlahan membuka matanya..


Brenda melebarkan pandangannya, dia melihat Frisya tertidur sambil terduduk di kursi yang berada di sampingnya.


Ntah apa yang terjadi, ketika Brenda melihat Frisya.. seketika itu Brenda langsung berteriak.


" Pergi !! " ucap Brenda sambil berteriak.


Frisya yang masih terlelap langsung bangun dengan kaget.


"Kamu sudah lebih baik sayang ?" tanya Frisya


"Berhenti memanggil ku sayang... ( Menahan air mata.. ) Pergilah... " Brenda masih berteriak.


"Kau boleh memukul mas, membenci atau bahkan kamu bisa meludahi ku, tapi mas minta mohon maafkan mas.. " ucap Frisya lirik .


"Kau pembunuh... kau membunuh orang orang yang ku sayangi, aku sepenuhnya menyayangi mu tapi kau menikamku dengan menghabisi nyawa mereka semua.. aku membenci mu Friss.. pergi keluar dari kamar ku.. " ucap Brenda.


"Kau seharusnya diadili dan membusuk di penjara, kau sungguh tidak memiliki rasa kasihan pada orang lain Frisya... " ucap Brenda sambil berteriak kacau.


Frisya merasa tidak berdaya dan percakapan mereka berdua adalah sia sia, jadi Frisya memilih pergi keluar dari kamar.


"Apa yang terjadi Fris ? mengapa Brenda berteriak ?" tanya Rama.


" Dia masih tidak bisa memaafkan aku.. " ucap Frisya.


Tiba tiba...


"Permisi, apa anda mengenal Frisya Frans ?" tanay seorang polisi pada mami ketika mami bari pulang berbelanja.


" Iya pak, dia menantu saya... ada apa ya ?" tanya Mami.


"Apakah saudara Frisya Frans berada disini ?" tanya polisi itu lagi.


"Iya, dia ada didalam.. " ucap Mami.


Polisi itu berjalan menuju rumah mami dan mami mengikutinya.


Selamat pagi, anda Frisya Frans ?" tanya polisi pada Frisya.


Frisya terdiam.


"Iya pak dia Frisya Frans, apa ada yang bisa kami bantu ?" ucap Rama.

__ADS_1


"Maaf kami harus membawa anda tuan Frisya Frans, dengan tuduhan pembunuhan" ucap Polisi.


Brenda mendengarnya dari dalam kamar.


Frisya berdiri, dan berbicara sebentar di depan pintu kamar Brenda.


"Aku akan diadili seperti yang kau inginkan.. " ucap Frisya sambil Menahan air mata dan mulai berjalan menuju mobil polisi.


"Pak, anda tidak bisa begitu saja membawa menantu saya pak... " Rengek mami saat Frisya di bawa menuju mobil polisi.


"Maaf nyonya, tapi tuan Frisya harus ikut kami segera, dia berhak melakukan pembelaan diri dan menyewa pengacara saat di pengadilan. " ucap Polisi.


"Sudahlah mi, Frisya akan baik baik saja.. tolong jaga Brenda.. " ucap Frisya.


Frisya menatap ke arah pintu rumah sebelum dia masuk ke dalam mobil polisi.


Di balik pintu, Brenda menangis sejadi jadinya, entah apa yang harus dia lakukan, Frisya benar benar membuatnya kecewa.


Mami berlarian pulang dan hendak mencari Brenda mengatakan apa yang terjadi.


Mami menemukan Brenda menangis di lantai sesegukan.


" Suami mu dibawa pergi polisi, apa kamu akan diam saja ?" tanya mami sedih.


"Brenda gak tahu mi.. Hati Brenda sakit, Brenda merasa di khianati... " ucap Brenda.


"Apa gunanya menangisi masa lalu ? Gun Woo sudah tenang, kamu hanya harus melanjutkan hidup mu.. " ucap Mami tegas.


"Kamu sungguh mengecewakan mami Brenda, Mami akan menyusul Frisya, mami tidak akan meninggalkannya sendirian. " ucap Mami sambil beranjak pergi ke kamarnya dan mengambil tas, lalu pergi.


" Mami, mau kemana ?" tanya Brenda


"Kemana lagi ? Jika istrinya tidak bisa diandalkan biar mami yang melakukannya, mami malu memiliki anak seperti kamu, yang lebih memilih mantan kekasihnya daripada suaminya. " ucap mami ketus.


"Mamiii !!" teriak Brenda.


Sayangnya mami Brenda tidak menggubris panggilan Brenda dan berjalan menuju halte bis untuk pergi ke kota menemui Frisya.


" Ini benar benar membuat ku gila, aku harus melakukan apa ?" tanya Brenda pada dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian Brenda membersihkan tubuhnya dan pergi meninggalkan rumah, dan pulang ke kota seperti Mami.


Beberapa jam kemudian, Brenda sampai di Halte bus dan segera pulang dengan berjalan kaki.


Setelah sampai di rumah, Brenda segera mencari kunci mobil dan mengendarainya untuk pergi ke suatu tempat.


Beberapa waktu berselang, bukannya pergi menemui Frisya... Brenda malah mendatangi tempat peristirahatan terakhir Gun Woo.


Kai yang saat itu juga sedang berkunjung ke makam sang ayah, baru melihat Brenda setelah beberapa hari ini.


Kai mengikuti Brenda dan menatapnya dari kejauhan. Dan mendengarkan semua apa yang Brenda katakan.

__ADS_1


Brenda membawa bucket bunga dan berdiri di hadapannya makam Gun Woo.


"Hai... Lama tidak berjumpa, apa kabar ?


Apa disana kamu baik baik saja ?" ucap Brenda.


"Kau tahu ? disini sedikit kacau... " ucap Brenda sambi menelan ludah sulit.


" Kau tahu, bahkan sepeninggal dirimu, aku belum juga bisa bahagia... " Brenda hendak menangis.


"Apa tidak bisa jika aku pergi saja bersama mu ?" tanya Brenda sambil mulai duduk di samping makam Gun Woo.


"Kau tahu, bahkan tempat mu ini terlihat begitu nyaman.. " ucap Brenda sambil mulai menitihkan air mata.


"Apa kau tahu jika Frisya yang menyebabkan kematian mu... " ucap Brenda pahit.


"Apa kau tidak akan marah jika menjadi diriku ?" tanya Brenda


"Tidak bisakah kamu mengatakan sesuatu, aku sangat kebingungan menentukan sikap, dia suami ku, tapi dia juga seorang pembunuh, tidak hanya itu.. dia juga menyebabkan aku harus mengalami tahun tahun yang sulit dalam hidup ku.. " ucap Brenda sambil menangis sesegukan.


Brenda mulai menyandarkan tubuhnya pada makam Gun Woo.


Perlahan matanya terasa berat, beberapa saat kemudian...


"Aku masih sangat mencintai mu Gun Woo, tidak bisakah kau kembali disisi ku... " ucap Brenda masih berlinangan air mata.


Tiba tiba seseorang berbicara, Brenda yang merasa jika dirinya sendirian sedikit merasa kahet.


"Tidak bisakah kau merelakan aku pergi ?" ucap seseorang sambil terduduk dengan tangan bersandar di kedua kakinya.


Brenda melihat, dan merasa mengenali seseorang itu, Brenda tersenyum.


"Sampai kapan kau akan terus seperti ini ? " ucap seseorang itu lagi dengan wajah khawatir.


Brenda terdiam menatapnya dengan tetap tersenyum.


"Mengapa hanya tersenyum, jawab aku.. " ucapnya.


"Gun Woo... teruslah berbicara pada ku... Aku sangat senang melihat mu, kau terlihat sangat tampan." ucap Brenda.


"Brenda.. dengarkan aku... aku tahu apa yang kau alami adalah sesuatu yang sangat sulit, tapi dia suami mu.. lupakan aku, dan lanjutkan hidup mu dengan baik." ucapnya yang terlihat sebagai Gun Woo.


"Aku sudah bahagia berada disini, kau pun harus bahagia berada di dunia mu.. " ucap Gun Woo.


"Lalu Frisya ? apa seharusnya dia tidak diadili atas kesalahannya ?" tanya Brenda lirih.


"Dia akan tetap diadili atas apa yang sudah dia perbuat, tapi kumohon tetaplah bersama dengannya karena dia adalah suami mu, dia sangat menyayangi mu.. " ucap Gun Woo.


"Benarkah ?" tanya Brenda.


Gun Woo tersenyum, beberapa saat kemudian semuanya memblur seketika..

__ADS_1


*******


__ADS_2