Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Berkuda


__ADS_3

"Silahkan turun Brenda..."


"astaga.. indah sekali pemandangan ini... dan udaranya sangat segar. terimakasih sudah mengajak ku kemari." aku kesenangan.


"Ayo masuk... istirahat dulu, kita makan dulu.. aku sudah kelaparan." seraya memegangi tangan nya.


"Baiklah, nanti kita jalan jalan keliling perkebunan ini yaa.." ucap ku bersemangat.


"itu pasti, karena aku ingin memberikan sesuatu padamu Brenda."


Kami pun masuk, dan tidak lama kemudian kami pun menyantap hidangan yang sudah disuguhkan pelayan di villa itu.


"Apakah kau sudah selesai Brenda ?"


"Tentu, hidangannya sangat lezat."


"Ayo Kemarilah... aku memiliki beberapa kuda terbaik, kita bisa menggunakannya untuk berkeliling."


" Apakah jauh...??"


" Tidak, hanya 15 menit untuk kesana, aku memilih berjalan untuk pemanasan saja. haha..


15 menit kemudian.....


" Brenda... silahkan pilih, kuda mana yang akan kau kendarai."


"Warna yang hitam ini terlihat gagah, aku mau naik yang ini saja." ucap ku bersemangat.


"Baiklah, kalau kamu yang hitam aku pilih ini yang warna coklat." seraya dia menaiki kuda nya.


"Eh, kamu menyuruh ku memilih, lalu akan kamu tinggal begitu saja ?? apa ka pikir aku bisa mengendalikan kuda ??" sahut ku dramatis.


"Wah, ternyata kamu tidak bisa ya.. haha.. akhirnya aku menemukan seseorang yang tidak bisa naik kuda .." ucapnya kegirangan.


"Hallo, diluaran sana masih banyak yang gabisa naik kuda kalii.." sahut ku.


"Bukan, bukan itu maksud ku. semua teman wanita yang kukenal biasanya mereka suka berkuda, mendaki, camping, dan olah raga semacan itu. tapi kau berbeda Brenda."

__ADS_1


"hah, kau berlebihan... sudah ayo turun dari kuda mu, sini ajari aku." sahut ku manja.


"Ya ya, kuda pilihan mu sangat gagah, pasti kuat untuk dua orang."


"Apa yang harus aku lakukan ? kuda ini sangat tinggi." ucap ku.


"Pertama, pijakan kaki mu disini, naiklah perlahan, aku akan sedikit mendorong mu naik."


"Seperti ini ?" seraya melakukan apa yang di instruksikan Gun woo.


"Benar, mudah bukan, sekarang aku yang akan naik." sahutnya.


Dia kini berada tepat di belakang ku berdempetan. Aku bisa mencium aroma parfumnya.


"Baiklah Brenda ,,,Perlahan, gerakkan talinya.. jangan terlalu keras.. nanti dia kaget."


"Kau saja sudah, aku takut.."


"Baiklah hari ini aku akan melayani mu Nona Brenda."


Kami menyusuri kebun teh dengan bercanda. Aku heran, padahal Seung Gun Woo adalah orang yang baru saja ku kenal, tapi bagaimana bisa aku sangat nyaman seperti ini ?.


"Hebat sekali, pantas kuda mu pun banyak sekali."


"Tentu saja, itu karena aku........." Belum selesai dia melanjutkan perkataannya langsung terhenti karena kuda yang kami naiki mendadak kaget dan berlari dengan kencang..


"Ahhhh, Gun Woo... apa yang terjadi.... aku sangat takut." Aku berteriak ketakutan.


"Tenang, jangan panik... kuda ini bisa semakin ketakutan dengan teriakan mu."


Aku sungguh ketakutan dengan apa yang baru saja terjadi, air mataku menetes...


"Rasanya aku tidak akan pernah naik kuda lagi" Batin ku...


Beberapa saat kemudian kudanya mulai tenang. Aku bernafas panjang.


"Haaaaaaaahhhhhhh.... hampir saja, aku di buat ketakutan setengah mati." pekik ku.

__ADS_1


"Maafkan aku Brenda, mungkin kuda ku salah memakan sesuatu. aku akan memeriksa nya nanti." ucapnya sambil tersenyum, menenangkan ku.


"Apakah ini lucu bagimu Gun Woo.. ??? bahkan jantungku masih berdetak dengan kencang." ucap ku tersinggung dengan senyumannya.


"Baiklah maaf maaf aku tidak bermaksud begitu." ucapnya sambil menghapus sisa air mata ku.


"Apa ini....? dia menyentuh wajah ku.... mengapa aku tidak marah ? perasaan apa ini, mengapa aku jadi merasa lebih tenang karena sentuhannya." jeritku dalam hati.


"Ayo kita masuk, bukankah semakin sore udara menjadi semakin dingin ??" ucap Gun Woo


"Kau benar, sepertinya akan turun hujan." sahut ku.


Saat di tengah perjalanan akan kembali ke villa dari kandang Kuda tadi, hujan mendadak turun dengan derasnya. Karena ini perkebunan jadi tidak ada tempat berteduh. kami berlarian, Seung Gun Woo terus memegang erat tangan ku, aku menatapnya sepanjang jalan sambil berlarian. hingga akhirnya kami sampai.


"Kau basah kuyup Brenda... akan ku ambilkan handuk"


"Sepertinya aku mandi saja, Gun woo. "


"Tapi disini adanya air dingin bukan air hangat, apakah kau tidak kedinginan Brenda."


"Mungkin aku akan kedinginan, tapi setidaknya aku tidak akan sakit jika aku mandi setelah terkena hujan." sahut ku sambil gemetaran kedinginan.


"Aku akan meminta seseorang memasak air hangat untuk mu mandi, tunggula sebentar." ucap Gun Woo.


"Aku akan menyiapkan handuk nya untuk mu, dan pakailah baju seadanya milik ku yang mungkin cukup untuk ukuran mu." ucap Gun Woo penuh perhatian


Beberapa saat kemudian.


"Brenda air hangat untuk mu sudah siap segeralah mandi.." ucap Gun Woo.


Aku hanya mengangguk dan langsung pergi ke kamar mandi dan segera membilas tubuh ku dengan air hangat yang sudah disiapkan,


dan segera keluar karena kedinginan.


Saat keluar dari kamar mandi, aku melihat kemeja putih besar, sepertinya milik Gun woo, karena kedinginan aku segera memakainya dan berjalan keluar mencari dapur.


Saat aku berjalan mencari dapur, Gun Woo memperhatikan ku dari dapur. Beberapa saat kemudian aku menemukan dapur dengan Gun woo yang masih menatap ku, seperti terpana.

__ADS_1


****************


Bersambung**.....


__ADS_2