
Bik Sari melanjutkan jalannya mengantar kopi pada mas Frisya. Mas Frisya yang melihat kedatangan bik Sari langsung melepaskan pelukannya. Setelah itu langsung pergi lagi.
"Apakah ada yang terluka dek ??" tanya mas Frisya.
"Nggak... Aku hanya sedikit shock saja melihat kamu begitu berantakan.."
***Rama dan Debora ****
Mereka membersihkan dan menata kembali ruangan kerja Frisya yang seperti kapal pecah.
Saat melewati kamar mandi tadi Rama mengingat dimana Brenda duduk dengan memakai g-string dan kemeja yang tersiram anggur terlihat dengan jelas lekuk tubuh Brenda membuat pria manapun menggila ketika melihatnya.
Tiba tiba lamunannya di buyarkan oleh Debora..
"Heii... berhenti berpikiran kotor tentang Bos ku.. atau ku laporkan kau pada Tuan Frisya." ucap Debora
"Apa maksudmu, aku tidak berpikiran kotor seperti yang kau tuduhkan tau.."
"Benarkah ?? lalu mengapa hidung mu mimisan.."
"Hadeuh.. memalukan " ucap Rama dalam hati.
"Tidak.. ini pasti karena aku sangat kecapean saja.. aahh.. Vas ini miring seprtinya.. " Ucap Rama mengalihkan pembicaraan.
"Kau yang miring..." ucap Debora sebal melihat tingkah Rama yang dulunya men dm nya dengan penuh perhatian. kini, bahkan say gud morning saja tidak.
***Kembali ke Balkon kamar ku bersama mas Frisya***
"Brenda.. besok aku ingin menemui gun woo.. bolehkah ??" tanya mas Frisya.
"Seharusnya bukan masalah untuk gun woo.. pasti dia ma.. besok aku akan mengabari mu mas.." ucap ku.
"Baiklah.. kurasa aku harus segera pergi.. Aku mencintai mu Brenda.." ucap mas Frisya sambil mengecup kening ku.
Malam ini aku tidak bisa tidur, Gun Woo tidak mengabari ku apa apa tentang kepulangannya besok. Aku sangat khawatir.
Keesokan paginya...
Aku bersiap untuk menyambut Gun Woo di bandara, namun sayangnya aku mendapat pesan jika pesawat yang di tumpangi Gun Woo masih delay.
Sambil menunggu kabar dari Gun Woo.. Aku kembali duduk di sofa yang ada di balkon kamar ku..
pikiran ku melayang... aku tidak tega melihat mas Frisya seperti itu.. tapi aku tidak bisa menikah dengannya, sejak awal hati ku sudah memilih gun woo..
Tiba tiba ada suara derap kaki menaiki tangga... tapi aku seperti tidak memiliki cukup tenaga untuk memperdulikan suara itu.
lalu ditengah lamunan ku..
Cup..
__ADS_1
Seseorang mencium pipi ku. aku kaget dan segera melihat siapa yang melakukannya.
"Astaga... GUUN WOOOO... "teriak ku...
"Brenda..." sahut gun woo.
Aku langsung memeluknya, menciumnya..
"Sayang... bagaimana kau bisa pulang secepat ini..bukannya masih delay yaa"
"Ooh, kamu masih ingin berlama lama gak ketemu aku gitu.." Canda gun woo.
"Sayang.. kok lama banget siih.. tau gak.. banyak hal berat yang harus ku lalui sendiri.." ucap ku mulai menangis.
"Hai.. siapa yang membuat Brenda ku menangis... biar ku cubit dia.." haha tawa gun woo menghentikan tangis ku.
"Berbagilah banyak keluh kesah mu dengan aku.. mungkin memang sudah berlalu.. tapi setidaknya kau akan merasa lega.." ucap gun woo menenangkan.
"Kau tahu sayang.. orang baru, teman lama, bahkan orang yang ku kenal baik, juga membuat segalanya mudah meskipun cenderung lebih banyak sulitnya.."
"Lalu ?? bagaimana dengan hati mu.. apakah hatimu masih baik baik saja ??untuk ku ??" tanya Gun woo menatap ku serius.
"Bahkan seseorang yang sudah berjuang selama setahun ini, masih belum bisa menggantikan kamu di hati ku.." jawab ku serius.
"Siapa ??" tanya Gun Woo..
Gun Woo memeluk ku dengan erat.
"Aku janji, kita akan segera bertunangan dalam beberapa hari.. " ucap Gun Woo menyenangkan hati ku.
"Sungguh ??? " ucap ku kaget campur bahagia.
"Iyaa.. ayo kita temui Ayah dan Mami mu.." ucap Gun Woo.
"Okey.. besok ?? gimana ??"
"Bisa.. bukankah lebih cepat lebih baik.. agar lelaki yang akan ingin mendekati mu tahu diri." ucap Gun Woo.
"Kamu, sangaatt maniss... "ucap ku sambil mencubit kedua pipi pacar ku ini.
Aku ingat jika seseorang ingin bertemu dengannya.
"Sayang.. ada yang ingin bertemu dengan mu.. apakah kamu mau ??" tanya ku.
"Siapa ?? mengapa ingin bertemu dengan ku ??" tanya Gun woo.
"Namanya mas Frisya.. dia teman baik ku dulu saat aku masih kecil."
"Frisya ??? hmm nama yang menarik.. Baiklah.. boleh.. kapan mau ketemunya ??"
__ADS_1
"Hm... ntar yaa aku kabarin dia dulu."
****Perusahaan Boom&Food***
"Friss, kau memiliki kehidupan sendiri begitu pun dengan Brenda.. bukankah terlalu egois memaksakan kehendak mu pada Brenda ??
"Diamlah, kau tidak akan mengerti tentang cinta.. sedang dirimu saja tidak pernah jatuh cinta." ucap Frisya.
"Tapi Friss, jika kau menghancurkan perusahaan ayahnya gun woo dan perusahaan yang baru saja dia bangun, bukankah jika sampai Brenda tahu dia akan sangat kecewa pada mu ??" ucap Rama mengetahui rencana Frisya.
"Apakah kau sangat perduli dengan dia daripada aku ??" tanya Frisya seperti anak kecil.
"Bukan bukan seperti itu.. tapi andai Brenda benar benar tetap memaksa menikah dengan gun woo, bukankah sangat kasihan melihat Brenda kesusahan.. saat melihat suaminya bangkrut saat mereka baru menikah.."
"Kau.. bagaimana ka bisa mengatakan pernikahan merek..." ucapan mas Frisya terhenti saat melihat telepon dari ku.
"Hai gadis... bagaimana hari mu ." ucap Mas Frisya dengan lembut berbeda dengan saat dia berbicara dengan Rama.
"Apakah mas Frisya masih ingin menemui Gun woo ??"
"Tentu... tentu saja.. apakah dia sudah pulang.." ucap mas Frisya.
"Iya mas, aku dan dia besok akan pergi ke rumah mami dan ayah.. jadi sekarang menurut ku waktu yang tepat.." ucap ku.
"Ah, begitu.. Baiklah aku akan menemuinya dirumah mami saja... "
"Kau mau ikut mas ?? apa kamu ga papa mas ?? " tanya ku heran.
"Iya mas akan ikut ke rumah mami.." ucap mas Frisya..
"Baiklah aku akan bilang pada Gun woo, ya udah mas.. nanti aku kabarin lagi.. bye.."
"Bye I love u Brenda.."
Itu kata terakhir Frisya sebelum mematikan teleponnya.
"Maafkan aku.." hanya itu yang bisa ku ucapkan dalam hati.
Setelah bertelepon dengan mas Frisya.. aku kembali berbincang dengan Gun woo tentang pekerjaan ku, pekerjaan gun woo, hal hal lucu dan menarik kami ceritakan juga...
Dari semua hari ku.. ini yang terbaik.. hari yang sudah ku tunggu sejak lama.
Gun Woo benar benar menyiapkan diri selama setahun ini, terlihat dari gayanya dan cara bicaranya yang berbeda dengan saat dia baru berangkat pergi setahun yang lalu.
"Kau semakin menawan Gun Woo..bolehkah aku memanggil mu dengan panggilan sayang Abang ??"
"Hahaha, itu terdengar asing bagi ku... namun jika kau menyukai itu, aku siap.." ucap gun woo sambil menggenggam tangan ku.
************
__ADS_1