
Beberapa saat kemudian Brenda dan Ashlan kembali datang ke Hoki grup untuk melakukan meeting yang sempat tertunda kemarin.
“Brenda, kau bisa pergi terlebih dahulu aku akan menunggu tim ku mereka akan segera datang.” Ucap Ashlan saat sampai di lobi kantor.
Brenda mengangguk.
“Aku menunggu mu di tempat meeting.” Ucap Brenda sambil beranjak pergi.
Ashlan melihat Brenda yang berjalan perlahan menghilang dari hadapannya.
“Aku akan berusaha keras.” Ucap Ashlan sambil tersenyum.
15 menit kemudian, meeting di mulai.
Ashlan berdiri di depan semua orang dan mulai melakukan presentasinya. 2 jam lamanya meeting berlangsung.
“Baiklah sekian presentasi dari kami.” Tutup Ashlan.
“Jadi menurut anda pasar kita adalah wanita berumur antara 15 tahun sampai 35 tahun?” Tanya Brenda.
“Benar, kami sudah mempersiapkan seseorang yang ahli dan cukup berpengalaman dalam bidang ini, kami juga sudah melakukan tes secara langsung untuk melihat kualitas dari orang pilihan kami ini.” Ucap Ashlan.
“Berapa persen keyakinan anda pada kesuksesan produk ini dalam kerjasama yang akan kita bangun.” Ucap Brenda.
“Waw, ternyata anda orang yang cukup jeli nona Brenda.” Puji Ashlan.
“Saya termasuk orang yang sangaat pilih pilih dan tidak mau mengambil resiko sekecil apapun itu tuan Ashlan.” Ucap Brenda.
Setelah melewati meeting yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya 1 jam kemudian meeting selesai.
Semua orang mulai meninggalkan ruang meeting begitupun dengan Brenda.
“Nona Brenda, anda terlihat begitu lelah, perlu saya bawakan the kesukaan anda ?” Ucap Meta.
“Tidak jangan teh, bawakan aku kopi saja… Hari ini sepertinya akan lebih nyaman untuk menikmati kopi.” Ucap Brenda sambil merenggangkan tubuhnya di sofa ruangannya.
“Baik nona Brenda, saya permisi.” Ucap Meta.
Brenda tidak menjawabnya lagi seraya memejamkan matanya sejenak.
Meta keluar dari ruangan dan langsung dihadang oleh seseorang di ujung jalan.
“Apa Brenda ingin minum sesuatu ?” Tanya seseorang itu.
“Akh, tuan Kai anda disini ?” Ucap Meta.
“Iya tuan nona Brenda ingin minum kopi.” Ucap Meta.
“Aku sudah membawakan untuknya, kembalilah ke ruanganmu, aku yang akan mengantarkan ini sendiri.” Ucap Kai.
“Terimakasih tuan, nona Brenda ada di ruangannya.” Ucap Meta.
Kai mengangguk.
“Terimaksih sudah memberitahu ku.” Ucap Kai.
Meta tersenyum.
“Oh astaga… Bagaimana bisa dia memiliki aura seperti itu, dia benar benar seorang idol.” Gerutu Meta.
__ADS_1
Kai mengetuk pintu ruangan Brenda.
“Masuklah…” Ucap Brenda.
Kai membuka pintu dan mulai membuka pintu dan masuk.
“Apa harimu begitu berat ?” Ucap Kai sambil tersenyum melihat Brenda dengan mata terpejam dan tampan kelelahan.
Mendengar suara itu Brenda membuka matanya, kemudian tersenyum.
“Hai… Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu ?” Tanya Kai.
“Aku rasa aku baru saja terlelap, dan aku terbangun dan kembali melihatmu… Persis seperti yang terjadi tadi pagi.” Ucap Brenda.
“Hahh… Kau benar, apa kau menyukainya ?” Ucap Kai.
“JIka kau bersedia, aku bahkan bisa melakukannya setiap hari untukmu.” Lanjut Kai.
“Jadi apa yang sebenarnya ingin kau katakan ?” Tanya Brenda.
Kai mendekat dan duduk disamping Brenda.
“Ini kopi pesanan mu…” Ucap Kai sambil memberikan kopi pada Brenda.
“Kau bahkan membawanya sebelum aku meminta.” Ucap Brenda.
Kai tersenyum.
“Jadi… Apa kau tidak ingin mengatakan apapun ?” Tanya Brenda.
“Hmm… Brenda, apa menurutmu ini adalah hari yang indah ?” Tanya Kai.
“Apa kau mau menikah dengan ku dihari seindah ini ?” Ucap Kai secara blak blakan.
Brenda membelalakan matanya.
“Bercandamu sungguh keterlaluan Kai… Aku tidak ingin mati secepat ini.” Ucap Brenda.
“Hai, aku mengajakmu menikah… Apa hubungannya dengan kematian ?” Tanya Kai keheranan.
“Hai, apa kau tidak sadar jika fans mu masih banyak berkeliaran diluaran sana.” Ucap Brenda.
“Saat mereka tahu aku menikahimu, mereka tidak akan segan segan melukai ku.” Lanjut Brenda.
“Jangan mengkambing hitamkan orang lain saat masalahnya sebenarnya ada padamu.” Ucap Kai.
“Hahaha… Tidak banyak yang bisa aku lakukan.” Ucap Brenda.
“Apa kau sudah akan pulang ?” Tanya Kai.
“Apa kau akan mengantarku pulang ?” Tanya Brenda.
“Bukankah kau membawa mobil sendiri tadi ?” Tanya Kai.
“Aku sering meminta seseorang mengantar mobilku saat aku ingin pergi naik Bis.” Ucap Brenda.
“Aku ada janji dengan seseorang maaf tidak bisa mengantarmu pulang.” Ucap Kai.
“Ahh… Apa kau sudah memiliki kekasih ? Apa kau berkencan sekarang ?” Tanya Brenda.
__ADS_1
“Tidak mungkin, aku tidak akan berkencan dengan siapapun selama kau belum menikah.” Ucap Kai.
”Ahh.. aku terharu mendengarnya..” Goda Brenda.
“Baiklah sudah saatnya aku pergi, hubungi aku saat kau membutuhkan ku..” Ucap Kai.
Brenda mengangguk.
“Kai kau akan menemukan seseorang yang pantas untukmu, kau pria yang manis.” Ucap Brenda.
“Sudahlah aku tidak mau mendengar itu, aku , masih ingin terus berusaha berjuang sampai akhir.” Ucap Kai serius.
Brenda hanya mengangguk dan enggan melanjutkan percakapan mereka karena rasanya hanya akan semakin membuat Kai berharap padanya.
“Baiklah aku pergi Bren…” Pamit Kai.
“Bye Kai, berhati hatilah dijalan jangan ngebut.” Ucap Brenda.
“Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku.” Ucap Kai.
Beberapa saat kemudian Kai menghilang dari pandangannya.
Brenda melihat jam.
“Sudah saatnya aku pulang.” Ucap Brenda sambil beranjak untuk mengambil tasnya.
Brenda keluar dari ruangannya.
“Nona anda sudah akan pulang ?” Tanya Meta.
“Tentu saja, apa kau belum ?” Tanya Brenda.
“Tentu saja nona, oh ya tadi tuan Ashlan datang lagi kemari dan menitipkan ini pada saya.” Ucap meta sambil memberikan sebuah bucket bunga pada Brenda.
“Ashlan ?” Ucap Brenda sambil menerima bunga itu.
“Hm… letakkan saja di ruanganmu.” Ucap Brenda.
“Apa tidak masalah nona Brenda ?” Tanya Meta.
“Tentu saja tidak, itu hanya seikat bunga.” Ucap Brenda sambil beranjak pergi.
“Aku pulang dulu Met, sampai jumpa.” Ucap Brenda.
“Sampai jumpa nona Brenda, sampai besok.” Ucap Meta.
10 menit kemudian Brenda keluar dari Hoki Grup, dan berjalan menuju halte bis. Brenda duduk seorang diri disana.
“Bahkan tempat ini masih menjadi favoritku sekalipun aku tidak merasa sedih.” Ucap Brenda sambil tersenyum .
“Mas Friss, kau tahu disini masih banyak pria yang mendekatiku...” Ucap Brenda.
“Aku lelah, aku merindukanmu..” Lanjut Brenda.
Beberapa saat kemudian sebuah bis berhenti, Brenda segera naik.
“Mas Friss, lain kali aku akan membuatmu naik bis bersama dengan ku dan duduk disampingku.” Ucap Brenda sambil membayangkan hal indah yang akan dia lalui bersama dengan Frisya kelak setelah Frisya menyelesaikan masa hukumannya.
Brenda melihat tanggal di handphonenya.
__ADS_1
“Baiklah, 89 hari lagi… Aku piker itu bukan hari yang lama bukan.” Ucap Brenda sambil melihat ke arah jendela bis.