
"Duduklah terlebih dahulu, aku akan membuat kan mu minuman." Ucap Brenda
"Hm, bolehkah aku permisi ke kamar mandi ?" tanya Kai
"Ah, tentu saja boleh... Apa kau akan sekalian mandi ? Aku akan membawakan mu handuk." Ucap Brenda.
"Baiklah sepertinya aku juga sedikit kelelahan " Sahut Kai.
Beberapa saat kemudian Brenda kembali dengan sebuah handuk.
"Kai dimana kau ?" Tanya Brenda.
"Aku sedang mandi." Sahut Kai dari dalam kamar mandi.
"Mengapa tidak menunggu sampai aku kembali dan membawakan mu handuk ini ?" Protes Brenda.
Kai keluar dari kamar mandi.
"Aah segar sekali air disini." Ucap Kai sambil mengibaskan rambutnya.
"Astaga, bagaimana bisa kau membiarkan tubuh mu basah kuyup seperti ini, kau akan masuk angin nanti."Ucap Brenda khawatir.
"Ikuti aku, kau harus mengganti pakaian mu." Ucap Brenda.
Beberapa saat kemudian Brenda masuk ke dalam kamar yang biasa digunakan oleh Frisya.
"Kamar siapa ini ?" Tanya Kai.
"Kamar Frisya, saat dia kemari dia akan tidur disini." Ucap Brenda.
"Hmm... Pasti kakak ku sangat bahagia anda dia tidak berlaku jahat seperti itu." Ucap Kai.
Brenda mengangguk.
"Kai kau gunakan baju ini, ini milik frisya dia hanya menggunakannya saat datang kemari." Ucap Brenda.
"Dia tidak suka jika pakaiannya dipakai oleh orang lain." keluh Kai.
"Tenang saja, kita akan pergi berbelanja." Ucap Brenda
"Kita berdua ?" Tanya Kai.
"Tentu saja, apa kau berpikir untuk mengajak Ayah dan mami ku kan ?" Ucap Brenda menahan tawa.
"Hahaha, mungkin lain kali kita harus melakukannya." Ucap Kai.
Brenda tersenyum.
"Baiklah, segeralah makan setelah itu kita akan segera pergi." Ucap Brenda.
Kai mengangguk.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka berangkat ke toko yang menjual pakaian.
"Hm, Brenda apa disini tidak ada mall ?" Tanya Kai.
Brenda tersenyum.
"Disini, disini hanyalah sebuah kota kecil Kai tidak ada mall, bioskop, Restauran seperti yang selama ini kita nikmati di tempat kita." Ucap Brenda.
"Waw, ini bukan gayaku." Ucap Kai.
"Ya, mau bagaimana lagi Kai aku hanyalah seorang gadis kampung yang berjuang seumur hidup ku dikota." Ucap Brenda.
"Tapi kau istimewa." Lanjut Kai.
"Ya, aku tahu itu sebab itulah aku pernah memiliki perusahaan sebesar Hoki Grup." Ucap Brenda.
"Benar, aku tidak meragukan kemampuan mu." Ucap Kai.
"Baiklah, cepat pilih pakaian yang kau sukai dan segera pulang." Ucap Brenda.
"Aku tidak tahu pakaian mana yang bagus untuk ku, bisakah kau membantuku memilih pakaian pakaian ini." Ucap Kai.
"Baiklah." Sahut Brenda.
Beberapa saat kemudian mereka menyelesaikan belanja mereka dan segera pulang.
20 menit kemudian mereka sampai dirumah, saat Brenda dan Kai turun dari mobil terlihat seseorang menatap mereka berdua dengan tatapan tajam dengan sebatang rokok di bibirnya.
Kai cemberut.
"Sejak kapan dia tahu rumah mu ?" Tanya Frisya dingin.
"Dia tidak bodoh mas Fris, siapapun bisa mencari keberadaan orang lain dengan mudah asal dia mau berusaha." Ucap Brenda.
"Kai, ayo masuklah." Ucap Brenda
"Berhenti !! Sejak kapan aku memperbolehkan mu menggunakan pakaian ku ?" Ucap Frisya dingin.
Kai enggan menjawabnya.
"Jangan bertingkah seperti itu mas Frisya, aku yang memintanya memakai pakaian mu, lagi pula siapa yang akan tahu kau akan datang atau tidak." Ucap Brenda
"Apa kau memang suka membawa masuk pria asing seperti ini ?" Ucap Frisya.
"Siapa pria asing ? Dia Kai dia teman ku." Ucap Brenda.
Kai masuk dengan santai.
"Kai, kamar sebelah utara itu kamar mu, tadi aku sudah meminta mbak naning untuk membersihkannya." Lanjut Brenda.
Keesokan harinya...
__ADS_1
Brenda bangun pagi dan bersiap siap untuk berolahraga ringan di depan rumah. Tak lama kemudian Kai keluar mengikuti Brenda.
"Wah, aku rasa ini pagi yang indah ya." Ucap Kai.
"Pagi mendung begini kok indah sih." Heran Brenda.
"Ya, abisnya kamu bersinar terus sih." Ucap Kai menggoda Brenda.
Brenda tersenyum.
"Kai, bagaimana jika kita membangun sebuah mall disini ?" Ucap Brenda.
"Memang seharusnya begitu, disaat orang orang itu tertarik dengan perumahan yang kamu bangun, mereka juga tidak ingin hidup yang sulit seperti yang aku alami kemarin." Ucap Kai.
"Maksud kamu aku harus juga membangun tempat perbelanjaan, restauran dan supermarket ?" tanya Brenda.
Kai mengangguk setuju.
"Dengan begitu keuntungan yang kamu dapatkan akan berlipat ganda." Ucap Kai.
"Aah, aku tidak menyangka ternyata kau sepandai ini." Ucap Brenda sambil mengelus kepala Kai perlahan.
"Sedang apa kalian ?" Ucap Frisya.
"Kami sedang berolahraga dan menghirup udara segar." Ucap Brenda.
"Aku pikir kalian sedang berkencan." Lanjut Frisya.
Kai heran dengan jalan pikiran Frisya yang sok jual mahal itu.
"Berhentilah bersikap berlagak seperti suami ku, aku lelah dengan sikapmu." Ucap Brenda.
"Lalu maumu apa ?" Bentak Frisya pada Brenda.
"Apa maksudmu ? Kau baru saja keluar dan marah marah, dan sekarang kau bertanya mauku apa ?" Ucap Brenda tak kalah kesal.
"Baiklah sekarang aku tanya padamu Brenda kau memilih ku atau pria ini ?" Ucap Frisya sambil menunjuk Kai.
"Kau tidak bisa begitu saja mengatakan hal seperti itu pada Brenda, mengapa kau begitu kasar padanya ?" Tanya Kai.
"Aku kasar ? Lalu bagaimana dengannya, dia tidak memahami ku dan begitu saja pergi dengan pria seperti mu." Ucap Frisya.
"Katakan, pria seperti apa aku ?" Ucap balik Kai.
"Kau terlalu naif kak, kau memiliki tunangan tapi masi bertanya siapa yang dipilih oleh Brenda, apa kau pikir kau itu segalanya !!" Ucap Kai meninggi.
"Apapun yang kau katakan aku akan tetap bertanya pada Brenda siapa yang akan dia pilih." Ucap Frisya.
"Hah, sikap tempramental mu itu tidak akan pernah berubah rupanya mas Fris, maaf aku sepertinya tidaklah mungkin menghabiskan sisa hidup ku dengan pria seperti dirimu." Ucap Brenda.
"Seperti yang sudah ku ucapkan sebelumnya, aku akan menikahi Kai, aku menyukai Kai." Ucap Brenda.
__ADS_1
"Semuanya sudah jelas mas Frisya sudah mendapatkan apa yang dia ingin dengar, sekarang mari kita pergi." Ucap Brenda.
Kai hanya menatap kearah Frisya yang terdiam menunduk setelah mendengar ucapan dari Brenda.