Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Jalan


__ADS_3

Ditengah perjalanan Brenda tertidur pulas karena memang semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyaman. Frisya memperhatikannya dari belakang.


"Apa yang akan dilakukan gadis ini setelah Hoki Grup menjadi milik ku, rupanya dia terlihat baik baik saja." Ucap Frisya sambil terus menatap Brenda.


"Permisi tuan.." Ucap si sopir.


"Apa ?" Sahut Frisya.


"Sepertinya anda mengenal nona ini dekat." Ucap sopir.


"Ya, lalu mengapa ?" Tanya Frisya


"Tadi kaki nona ini terluka dia tidak mengobatinya dan dia memaksakan diri untuk tetap berangkat." Ucap sopir.


"Sepertinya jika kakinya terus tertekan sepatunya yang tinggi dan sempit itu akan membuatnya memburuk." Ucap sopir.


"Aku tidak melihat Brenda kesulitan berjalan." Ucap Frisya


"Baiklah tuan jika anda tidak percaya." Ucap si sopir menyerah.


3 jam kemudian, Brenda terbangun dari tidurnya. Brenda mengucek ngucek matanya yang seakan masih ngantuk.


"Apa kau begitu ngantuk ?" Tanya Frisya.


Brenda enggan menjawabnya, merasakan hal yang tidak nyaman pada kakinya.


"Seharusnya anda mengikuti saran dari bibik anda nona Brenda." Ucap si sopir.


"Ya, mau bagaimana lagi... aku tidak mungkin menggunakan sandal jepit kan saat pergi ke perusahaan rekan ku." sahut Brenda.


"Sepertinya kaki anda keseleo nona." sahut si sopir lagi.


"Tadi rasanya seperti itu, saat aku berjalan aku baik baik saja jadi aku pikir tidak apa apa, tapi sekarang kok rasanya makin sakit ya pak." Ucap Brenda.


"Ekhemm.." Frisya berdehem.


"Hentikan mobil di depan sebentar pak." Ucap Frisya.


Si sopir mengikuti ucapan Frisya, beberapa saat kemudian Frisya keluar dari mobil dan pergi ke minimarket untuk membeli sesuatu.


Beberapa saat kemudian dia kembali dan membuka pintu mobil Brenda.


"Ada apa ?" Tanya Brenda.


"Pindahlah duduk dibelakang dengan ku, aku akan mengobati kaki mu." Ucap Frisya.


Brenda tersenyum.


"Terimakasih atas perhatian mu tapi aku bisa mengobatinya sendiri, terimakasih sudah membeli obat ini." Ucap Brenda

__ADS_1


"Siapa bilang kau bisa menggunakannya ?" Ucap Frisya datar.


Brenda mengembalikannya dan membuang muka.


"Segeralah masuk, kau menghambat perjalanan ini." Ucap Brenda.


Frisya membuka pintu mobil Brenda dan menggendongnya pindah duduk di mobil belakang.


"Kau melakukan hal seperti ini lagi !!" kesal Brenda.


"Sudah diamlah, pak ayo kita lanjutkan perjalanannya." Ucap Frisya


Frisya mulai mengoleskan obat pada kaki Brenda.


"Mengapa diam saja jika sakit ? Mengapa tidak mengatakannya padaku ?" Keluh Frisya.


"Beberapa waktu yang lalu kau menolak ku sekarang kau bersikap seperti manusia paling baik, naif sekali kau Fris." Ucap Brenda.


"Kau sungguh sungguh kesal padaku ?" tanya Frisya.


"Tidak, untuk apa aku kesal padamu, itu adalah hak mu melakukan hal seperti itu." Ucap Brenda sambil menarik kakinya.


"Aku akan segera menikah dengan Lena." Ucap Frisya.


Brenda tidak berani menatap mata Frisya.


"Bagaimana denganmu ?" Ucap Frisya.


"Aku ? Hahaha apa peduli mu, kau tidak perlu tahu apa-apa tentang ku, yang perlu kau lakukan hanya menunggu aku mengirimkan surat undangan pernikahan dan kau tinggal memutuskan untuk datang atau tidak, sudah cukup begitu, kita tidak perlu mencampuri urusan pribadi kita masing masing." Ucap Brenda dengan mata berkaca-kaca.


"Bisakah kau berbicara dengan menatap mataku." Ucap Frisya.


"Hahhh, inilah alasanku enggan duduk berdampingan dengan mu." ucap Brenda sambil menatap kaca jendela mobilnya.


"Bagaimana jika aku memutuskan hubungan ku dengan Lena dan memilih kembali bersama dengan mu ?" lanjut Frisya.


Brenda tersenyum.


"Sungguh menggelikan mendengar mantan suamiku mengatakan hal seperti ini, dengarkan aku." ucap Brenda sambil menatap mata Frisya.


"Jika kau ingin pergi, maka pergilah aku akan mendoakan segalanya yang terbaik untuk mu, namun jika kau enggan pergi maka kembalilah dengan segera, janga berada ditengah tengahnya." Ucap Brenda tegas.


"Katakan padaku, apa yang akan kau lakukan jika Hoki Grup benar benar kau berikan padaku." tanya Frisya.


"Apa maksud mu ? Aku bahkan sudah meminta Meta mengurus segalanya, dalam hitungan hari Hoki Grup sudah menjadi milik mu." Ucap Brenda.


"Lalu apa yang akan kau lakukan ?" Tanya Frisya.


"Aku..." Ucap Brenda sambil melirik Frisya.

__ADS_1


"Aku mungkin akan melamar Kai atau Ashlan, aku akan membantu mereka membangun perusahaan mereka dan akan melahirkan banyak anak untuk pria yang kupilih menjadi suamiku itu." Ucap Brenda.


"Bagaimana jika kuhancurkan perusahaannya ?" Ucap Frisya.


"Hahaha, lakukan yang terbaik Fris... Bukankah menghancurkan kehidupan orang lain adalah keahlian mu." Hahaha Brenda tertawa meledek.


Frisya terdiam.


"Pak mampir di toko oleh oleh ya."Ucap Brenda.


"Baik nona." Ucap sopir sambil mengambil ancang ancang untuk meminggirkan mobilnya.


Frisya menatap Brenda dengan tatapan tajam, sayang Brenda tidak memperhatikannya balik. Brenda memilih untuk sok tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh Frisya.


"Nona, kita sudah sampai." Ucap Sopir


Brenda hendak turun namun tangannya ditahan oleh Frisya, berbeda dari biasanya, jika tangan Frisya akan meremas tangannya hingga sakit, kali ini Frisya memegang tangan Brenda dengan lembut.


"Ada apa ?" Tanya Brenda.


Frisya masih menatap Brenda tajam. Tiba tiba Frisya mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan memberikannya pada si sopir.


"Pergilah dan beli apapun." Ucap Frisya tanpa menatap si sopir.


Beberapa saat kemudian si sopir turun dan pergi membeli banyak hal.


"Lepaskan tangan ku Frisya." Ucap Brenda.


"Dengar, aku akan mencium mu... Aku akan melakukannya karena aku ingin tahu sebenarnya seperti apa perasaan ku padamu." Ucap Frisya sambil mendekatkan wajahnya pada Brenda.


Brenda memalingkan wajahnya.


"Itu tidak ada dalam perjanjian kita, kita perjanjian kita hanya kau ikut aku dan aku menyerahkan Hoki Grup padamu." Ucap Brenda.


"Jangan menolak ku, atau perjanjian kita Batal dan aku tidak akan melanjutkan perjalanan ini, aku tidak merugi apapun." Lanjut Frisya.


Brenda sangat kesal karena perusahaannya saja masih belum cukup untuk Frisya mempermainkannya.


"Kau menang." Ucap Brenda sambil memejamkan matanya.


Frisya mulai ******* bibir merah Brenda, berbeda dari sebelumnya ini lebih mirip seperti ciuman tahun tahun sebelumnya dimana Frisya masih benar-benar mengejar Brenda dengan segala kemampuannya.


Air mata menetes dari keduanya, entah apa yang kedua rasakan, sepertinya perasaan yang dalam, emosional dan rasa rindu sungguh menyelimuti mereka.


Brenda melingkarkan tangannya di bahu Frisya, Frisya mulai memeluk dan menyentuh lekukan tubuh Brenda yang semakin kemari diumurnya membuatnya semakin terlihat panas dan menggoda.


20 menit berlalu, sebenarnya si sopir sudah hendak kembali masuk ke mobil namun tidak bisa karena takut mengganggu keduanya yang tengah dimabuk kepayang, entahlah perasaan apa yang membuat mereka sedalam ini, tapi keduanya saling menikmati.


Perjalanan tinggal 1 jam lagi namun sepertinya mereka akan tiba lebih lambat dari biasanya.

__ADS_1


__ADS_2