Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Dia mulai mereda


__ADS_3

Setelah itu aku tidak bisa berkonsentrasi dan memilih pulang.


Kepala ku di penuhi mas Frisya dengan segala tingkahnya yang semakin mengganas.


"Aduh kalo sampe ketahuan Debora dia pasti sangat kecewa pada ku." ucap ku sambil memukul stang mobil ku.


10 menit kemudian aku sudah sampai dirumah.


"Looh, kok udah pulang Nona Brenda ??"


"Bibik.. kangenn.. lama amat sii disana..??"


"Hehe iya non maaf yaaa.. maklum non, cucu pertama jadi gimana begitu."


"oh, iya kalo bibik pulang lagi.. itu baju baju aku yang lama bawa aja kasih anak bibik.. banyak yang baru masihan."


"Beneran Non ??"


"Iyaa, bawa aja.. bisa di jual atau di pake sendiri.. baju mahal tuh."


"Baik Nona Brenda terimakasih.. saya berdoa semoga hari hari Nona Brenda selalu bahagia dan banyak rezekinya."


"Ya udah aku naik dulu yaa.. "


"iya Nona silahkan, saya akan menyiapkan makan malam."


Aku beristirahat sejenak di ranjang ku..


Saat aku mulai memejamkan mata, tiba tiba teringat wajah mas Frisya yang biru akibat ulah ku.


"Duh.. iyaa.. kasihan amat yaa.. parah gak ya.. kayaknya aku harus pergi ke rumahnya."


(Aku menelfon Debora)


"Halo Nona Brenda, ada yang bisa saya bantu ??" ucap Debora dari seberang telfon.


"Debora, aku ingin meminta alamat rumah mas Frisya.."


"Baiklah Nona Brenda, sudah saya kirim lewat email anda."


"Terimakasih.. dan tolong jangan berpikir macam macam pada ku ya."


"Iya, Nona Brenda.. saya mengerti semoga hari anda menyenangkan.."


Aku menutup telepon telpon dan mulai mengecek email dari Debora.


"Oke, jalan Rindu pulang no.10... Baiklah.. aku akan pergi..."


Aku segera mengganti pakaian ku dan sedikit berdandan, aku memakai setelan lengan dan celana panjang yang tidak begitu memperlihatkan bentuk tubuh ku, namun tetap cantik.


Aku turun dan menyapa bik Sari.


"Bik... gak usah masak buat makan malm aku makan diluar.."


"Nona Brenda Hati hati di jalan.."


"Ya bik.. bye.."

__ADS_1


Bik Sari hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum.


30 menit kemudian aku sampai di depan rumah mewah milik Mas Frisya.


"Wauuww... rumah ini... 5x lipat besarnya dari rumah ku..." Aku terperangah melihat rumah Mas Frisya yang teramat besar itu.


Aku mulai keluar dari mobil dan memencet tombol bell di pintu pagar.


(tennttonnggg... teennnttooonnnggg...)


Tiba tiba pintu pagar terbuka secara otomatis tanpa ada seseorang yang keluar dari dalam.


"Loh kok gaada orang... Hello.. mas Frisya.. Hallo sepadaa... anybody home..." ucap ku setengah berteriak.


"Kamu ngapain teriak... teriak dekk... sini masuk.." ucap mas Frisya tersenyum melihat ku datang kerumahnya.


"Turun dong, dipersilahkan masuk dulu gituu.. masa main selonong boy mas.."


"Iya mas turun.. tunggu bentar."


"Selamat datang dek Brenda.. aku gak nyangka kamu bakal bisa dateng kesini."


"Iyaa.. mau gimana lagi, aku gak bisa istirahat mikirin kamu yang kena tendang tadi.." ucap ku sambil cemberut.


"Kamu mau ngelanjutin yang tadi maksudnya??" ucap mas Frisya sambil menyilakan rambut ku.


"Iih ya gak gituu.. aku merasa bersalah aja gitu sama kamu mas.. itu masih biru.." sambil aku menyentuh pelipis mas Frisya.


"Aduuh.." keluhnya.


"Sakit ya.. duhh.. maaf ya mas.. kamu sih nakal banget ke aku nya.."


"Perhitungan apaan ???"


"Abisnya tadi mas dikasih minum teh asin."


"Hahaha asinn.. mana mungkin, aku tahu bedanya mana gula mana garam mas..."


"Tapi Beneran asin.."


"Hehe kasian deh kamu mas.. "


"Dek ikut mas yuk.." seraya menarik tangan ku kedalam suatu ruangan yang luas.


"apaan ??"


"Lihat ini.." ucap nya sambil menghidupkan lampu.



Tampak jelas Foto berukuran besar seorang Gadis cantik, dengan tatapan mata sayu, dengan kulit seputih mutiara dengan rambut pirang menambah kecantikan nya.


Jelas, aku langsung terperanjat kaget melihat foto itu.


"Mas Frisya... darimana kam dapat foto ku ?? mengapa dicetak sebesar ini disini ??" tanya ku.


"Aku adalah pengagum mu Brenda...apa salah jika aku melakukan ini ??"

__ADS_1


"Tentu saja salah.. bagaimana jika Debora yang menemukan ini ?? "


"Memang kenapa ?? mengapa ka sangat takut aku menyakitinya.."


"Mass Debora adalah asisten ku, dia orang yang sangat dekat dengan ku, pasti dia akan merasa terkhianati jika kau melakukan ini."


"Banyak hal yang ingin ku bagi dengan mu Brenda.. "


"Sudahlah mas, beberapa bulan lagi Gun Woo sudah akan pulang.. ku mohon jaga perasaannya untuk ku."


"Kau tahu, bahkan membayangkan nya saja aku tidak berani Brenda..Aku tidak tahu apalagi yang harus ku katakan agar kau percaya pada ku."


"Oh ya mas Frisya aku membawa obat oles untuk luka mu.."


" duuhhh... pelan pelan dek.. Terimakasih,


yaa...."


"Sama sama.. mangkanya jangan nyerang aku mulu.. sebenernya aku jadi sedikit takut sama mas."


"Ya ya.. maaf yaa, aku janji ga akan nyerang kamu lagi.. tapi biarkan aku di samping kamu, berharap kamu bisa berubah pikiran."


"Hm, ku harap ketulusan mu berbuah manis mas."


"Brenda lain kali main ke rumah mami mu lagi yaa sama mas.."


"Boleh aja sih.. asal gak di tinggalin kek duku.. hihi" ledek ku.


"Udah dong.. jangan di ledekin mulu sayang..."


"Abis kamu unik banget... baru ketemu lagi setelah sekian tahun, langsung bilang cinta dan mau menikah tanpa melihat keadaan ku yang sekarang."


"Yaa.. kamu kan gak tahu rasanya jadi aku.. semuanya jauh dari harapan ku.. semoga nanti setelah kita pergi ke rumah Mami mu lagi, kamu akan mengerti."


"Ngerti apaan ???"


"Ngerti Seberapa besar cinta ku pada mu lah .. kamu tahu.. rumah ini aku bangun dengan hasil kerja ku selama ini, yang sebenarnya ingin ku berikan padamu. kelak saat nanti kita bersama."


"Mas, aku kayaknya harus segera pulang dehh... hari udah sore.. "


"Makan malam disini dulu yaa.."


"Hmm.. gimana yaa.."


"Aku akan sedih saat kamu terus menolak ku."


"Iya... mas Frisya kuu.. aku makan malam disini aja..."


"I Love u.." bisik mas Frisya setengah berbisik.


"Apaan mas ?? kamu ngomong sesuatu ??"


"Ah, gak.. aku cuman nguap aja."


"Hm, gitu... ."


Kami pun makan malam bersama di rumah mas Frisya, aku tidak menyangka bahwa rumah yang ku kira sepi.. ternyata banyak sekali pelayanannya.

__ADS_1


***


__ADS_2