
Saat kami masuk, ternyata disana ada banyak lampu yang mengelilingi tempat itu dengan meja yang dihiasi lilin dan sebuah cincin yang berada di tengahnya.
"Abang... " ucap ku sambil menatap Gun Woo...
"Maukah kamu bertunangan dengan ku ??" tanya Gun Woo .
"Ya ampun... apa ini... kau membuat ku malu.."
"Bagaimana..."
"Yess " aku menangis terharu.
Gun Woo tersenyum mendekatkan diri nya pada ku dan mencium keningku.
"Aku akan selalu mencintai mu Brenda.." ucap Gun Woo.
"Jangan tinggalkan aku sendiri lagi.. berjanjilah..." sahut ku.
Gun Woo memakaikan cincin di jari ku, nampak sangat manis untuk ku.
"Besok pagi kita akan berangkat meminta restu.. apakah kau siap ??" tanya Gun woo
"Bagaimana bisa kau bertanya demikian ?? padahal aku yang seharusnya bertanya.." ucap ku.
"Banyak hal yang bisa terjadi Brenda.. Satu tahun adalah waktu yang cukup lama untuk sepasang kekasih terpisah jarak."
"Hm... Bagaimana bisa waktu setahun membuat mu berubah sedewasa ini bang.."
"Aku mempersiapkan segala sesuatunya untuk masa depan kita Bren.."
"Terimakasih... Aku berjanji tidak akan menyembunyikan apapun dari mu, bang.."
"Terimakasih... I love u.."
"Love u more.."
1 jam kemudian kami selesai dinner, kami Gun Woo segera mengantar ku pulang agar aku tidak kelelahan karena besok akan pergi ke rumah Mami.
"Bagaimana bisa kau mengantar ku pulang secepat ini ?? apakah kau tidak ingin berlama lama dengan ku bang ??"
"Nanti.. tunggu yaaa... hingga aku tidak akan mengampuni mu.. " tersenyum mesum.
"Eak.. kek berani aja lu bang.. wkwk.."
"Kamu nantang Abang mu ini ??" ucap Gun Woo sambil menarik rok ku..
"Eh, jangan... iya iya ampunn.. ntaran aj yaa.. hehe"
"Dasar gadis imut ku.." ucap Gun Woo.
"Bye bang.. besok jangan lupa jemput aku yaa..."
"Iya.. see u.. " ucap nya sambil memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Cii uu tuu.. " aku tak kalah sama memonyongkan bibir ku juga.
Keesokan harinya...
Pukul 6 pagi, Gun Woo mengetuk pintu kamar ku. Sayangnya aku sedang mandi sehingga tidak mendengar ketukan itu..
"Hmm.. masih mandi ternyata dia.." bisik Gun Woo.
5 menit kemudian aku sudah selesai.
"Loh ??? Abang ??? udah nyampek.. aku belum bajuan.. tunggu bentaran ya.."
Aku langsung membuka lemari dan memilih pakaian formal yang hendak ku pakai untuk meminta restu dari Mami dan Ayah ku.
Saat aku masih memilih milih pakaian.. Aku yang hanya menggunakan handuk yang tidak cukup untuk menutupi seluruh tubuh ku, lekuk tubuh ku nampak sangat menggoda Gun Woo.
"Brenda... tubuh mu sangat indah.." Ucap Gun Woo sambil menciumi pundak dan leher ku.
"Aku harus pergi dari situasi ini" ucap ku dalam hati.
"Bang.. Abang sayang... kita kan akan kerumah mami sama ayah... kalau kamu seperti ini, bukankah nanti kita akan terlambat.." bujuk ku.
"Ohh, iyaa... Aku harus menjaga penampilan ku ya.. Ahh.. kamu sihh sayang gangguin aku mulu.. aku tunggu dibawah deh.." ucap Gun Woo sambil berjalan keluar kamar.
"-_- Apa itu.. dia yang nakal aku yang disalahin.." gerutu ku.
30 menit kemudian aku turun...
"Bang.. ayo berangkat aku udah siap nih.." ucap ku sambil menuruni tangga.
Saat kami keluar rumah menuju mobil alangkah kagetnya ternyata seseorang sudah menunggu di sana.
"Tuan siapa anda ???" tanya Gun woo.
"Siapa aku ??" ucap mas Frisya sambil melipat tangan nya.
"Ehm.. (duh) gini.. itu.. Bang.. ini Kenalin.. mas Frisya... Mas.. Kenalin ini Gun Woo.."
"Oh, ini tuan Frisya dari Boom&Food itu ya.. senang bertemu dengan mu tuan.. Aku Seung Gun Woo." ucap Gun Woo dengan sopan sambil mengulurkan tangannya.
"Aku tidak perduli.." ucap singkat mas Frisya.
"Dek.. kamu bilang mau kerumah mami.. ayo sama mas aja.." ucap mas Frisya sambil menarik tangan ku.
"Loh.. Loh.. lohh.. tunggu.. tunggu.. " ucap ku.
"Ada apa ?? Ada yang ketinggalan ??" tanya mas Frisya.
"Mas kita harus bicara, berdua... ( pergi menjauh dari Gun Woo )tolong jangan lakukan ini.. aku sudah cukup lama menunggunya.. dia kekasih ku.. tolong hargai dia." ucap ku memohon kepada mas Frisya.
Mas Frisya menatap ku dengan pandangan yang tidak aku mengerti, tiba tiba..
"Hai kau, yang disana... kita akan pergi kerumah mami Brenda Bersama sama, biar aku yang menyetir mobil, kau duduk di depan dek.." ucap mas Frisya memerintah.
__ADS_1
Aku menatap Gun Woo dan berniat duduk di belakang bersamanya. Mas Frisya melirik aku yang hendak duduk di kursi belakang. Gun Woo melihat ku, namun ternyata malah memberi kode agar aku menuruti mas Frisya untuk duduk di depan. Akhirnya aku menurutinya...
Selama perjalanan menuju runah mami, kami semua hanya terdiam, rasa canggung ini membunuh ku...
"Dek.. Bagaimana perasaan mu hari ini " ucap mas Frisya sambil mengelus kepala ku.
"Sangat Baik.. itu semua berkat Gun Woo.." aku melirik Gun Woo dan tersenyum.
Gun Woo melihat ku dan membalas senyum ku.
"Apakah kamu sudah makan ?? "
" Belum mas, tadi aku gak sempat makan tadi kami berniat berangkat pagi."
"Sayang.. ambilin handphone ku dong.. aku mau ngabarin Debora.." ucap ku sambil meraih handphone untuk mengabari Debora.
"Ini.. Oh ya.. jangan terlalu lama bermain handphone awas kena radiasi kamu.. ucap Gun Woo.
Mendengar ucapan itu mas Frisya melirik ku, dan langsung kaget saat melihat di jari ku melingkar sebuah cincin.
"Apa mereka sudah bertunangan ??" ucap mas Frisya dalam hati.
Tiba tiba, mobil melaju dengan kecepatan tinggi..
"Loh.. lohh.. mas Frisya kamu kenapa ?? gausah ngebut.. kita udah cukup cepet kok tadi." ucap ku.
"Tuan.. pelankan sedikit mobilnya, Brenda ketakutan."
Tiba tiba mas Frisya menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan.
"Hai kau, beli minuman sana.." ucap mas Frisya memerintah Gun Woo dengan kasar.
"Mass.. kamu kok gitu.. udah jangan bang.. "
"Udah ga apa apa.. tunggulah sebentar aku akan pergi membeli minuman." ucap Gun Woo dengan sopan.
Setelah itu Gun Woo berjalan keluar dari mobil menuju rumah makan tadi.
"Bagaimana kau bisa melakukan ini pada ku Brenda. " ucap mas Frisya dengan sedikit berteriak.
"Apa ?? aku melakukan apa mas ??" tanya ku
"Cincin ap itu.. lepaskan.. atau ku patahkan jari mu.." ucap mas Frisya..
"Mas.. kamu kok jadi kasar banget gini sama aku.. "
"Lepas.. lepassss.. Brendaa.. " ucap mas Frisya sambil berteriak keras.
Aku mulai menangis dan melepas cincin ku.
"Bagus gadis manis.. " ucap mas Frisya sambil mencoba menciumi ku, aku melawan dengan keras tindakannya itu..
"Gun Woo.. tolong.. tolong.." ucap ku sambil terisak.
__ADS_1
****