
Waktu menunjukan pukul 6 sore. Aku dan mas Frisya sedang menonton film dirumah.
"Nona Brenda... Permisi.. Nona.." Ucap bik Sari terburu buru.
" Ada apaan bik ??" Sahut ku.
"Maaf Nona saya menggangu.. tapi saya harus pamit, saya harus pergi... cucu saya terkena DB sekarang masuk rumah sakit.."
"Ya ampun bikk... kok bisa sampek kena DB sih... udah sana, siap siap.. aku bakalan minta orang anterin bibik biar ga usah lama lama di jalan."
10 menit kemudian...
"Nona saya pamit, tuan saya mohon diri.."
"Ini sedikit uang untuk anak bibik, katakan padanya aku ga bisa kesana... "
"Nona Brenda teramat baik... saya sangat berterima kasih nona Brenda.."
"Sudah berangkat lah.. mobil sudah menunggu mu bik..."
"Baik non.. tuan saaya pamit.."
Frisya hanya tersenyum melihat kedekatan ku dengan pembantu ku.
"Mass.. berangkat sekarang yuk kerumah mami.." pinta ku.
"Tidak.. kita akan berangkat besok pagi..." saambil mencium keningku.
Aku merebahkan kepala ku pada dadanya yang bidang... aku bisa merasakan aroma tubuhnya yang segar..
"eeuumm.. andai aku sudah bersuami istri dengannya.. emmhh.. aroma ini membius ku.." ucap ku dalam hati.
" Brenda.. makan malam yuk.. udah hampir jam 7 ,nih..."
"Iya, aku setuju.. tapi... bagaimana jika Debora menemukan kita makan malam bersama lagi dan menyiramkan air lagi pada ku."
"Akan ku remukkan tubuhnya jika dia berani mengulangi lagi."
"Baiklah aku percaya pada mu.. aku akan berganti pakaian dulu" ucap ku sambil berjalan menuju kamar.."
20 menit kemudian aku sudah siap..
"Mas.. ayo berangkat.. "
"Emh, Brenda.. apakah pakaian mu tidak terlalu minim ??"
"uuhh.. aku bahkan harus memesannya dulu baru aku memiliki gaun ini."
"Baiklah.. aku akan melindungi mu dari mereka yang akan mengganggu mu.."
20 menit kemudian kami sampai di cafe Bintang.
"wah cafe ini yaa.. aku belum pernah kemari sebelumnya.."
__ADS_1
"Makanannya enak banget loh, ayo.." sambut tangan Mas Frisya.
"Iya, aku akan makan yang banyak jangan khawatir.."
Saat kami masuk mas Frisya mengajakku menuju meja yang sudah di tunggu Oleh 2 orang, yaitu Rama dan Debora.
Aku cukup kaget dengan kehadiran Debora.. Saat aku hendak pergi, Debora langsung meraih tangan ku.
" Nona Brenda.. maafkan perbuatan ku tempo hari, aku tahu aku salah.. "
"Tidak kau benar aku yang salah karena makan malam dengan kekasih mu tanpa berpamitan kepada mu."
"Tidak Nona.. seharusnya aku sadar posisi ku, aku adalah pengagum anda Nona Brenda, jadi sebenarnya kak Frisya lebih pantas dengan anda daripada saya.."
"Kau berlebihan Debora.."
"Nona.. saya harap anda bisa memaafkan saya.. dan hidup bahagia dengan kak Frisya."
"Sudahlah Brenda.. dia hanya ingin minta maaf, itu saja.. " ucap Rama .
"Baiklah, maafkan aku juga yaaa.." ucap ku..
Kami berpelukan, dan makan malam bersama.. 1 jam kemudian aku pulang diantar mas Frisya.
"Dek.. mas Frisya gak pulang yaa.. biar besok bisa berangkat lebih pagi.." ucap mas Frisya
"Iya, ayo... aku sudah mulai mengantuk mas."
Setelah sampai, mas Frisya membukakan pintu mobil dan menarik tangan ku lembut.
"Yaa tidur di kamar, kamu tidur dikamar tamu..."
Aku masuk kedalam kamar ku dan mas Frisya mengikuti.
"Mas... ngapain ??"
"Ga ada cuman pingin lihat kamu aja" seraya dia menciumi pundak ku.
"Geli tau gak.."
"Mas tunggu di sini.." mas Frisya menuju sofa santai di balkon kamar ku.
"Mass.. dinginn.. sini selimutan sama aku." kami duduk berdampingan dengan kaki tertutup selimut.
"Brenda.. kenapa kamu gak langsung menikah dengan gun woo ??"
"Dia bilang, dia masih belum pantas jika belum bisa berdiri diatas kakinya sendiri."
"Sadarkah dia.. sekarang kamu sudah berumur 30 tahun.. apakah tidak terlalu tua diusia mu ??"
"Masss.. kok bilang gitu sii.. jangan bilang udah tua gitu dong.."
"Aku sih hanya bilang soal kenyataannya.."
__ADS_1
"Iya iya.. nanti saat gun woo pulang aku akan meminta dia segera menikahi ku, selagi aku masih muda.." ucap ku sambil cemberut.
"Baiklah, sekarang mendekatlah pada ku, aku mulai kedinginan.."
"Tuh kann.. ayo masuk mas nanti kamu sakit.."
Mas Frisya menyilakan rambut ku kebelakang, dan menciumi leher ku..
"Mass.. kamu bilang jika ini hanya semakin mempermainkan mu saja, tapi mengapa, kau melakukannya sendiri ?" ucap ku serius.
Namun tiba tiba mas Frisya melepaskan tangannya dariku dan duduk dengan serius.
"Mass ?? kamu ga papa ??" hallo.."
Perlahan Frisya mendekatkan wajahnya pada ku. semakin dekat da akhirnya kami berciuman hangat cukup lama.
Entah apa yang dirasakannya, tak lama kemudian dia melepaskan ciumannya dan memelukku sejenak.
"Disini dingin, Kemarilah.. tidur di dalam saja.."
"Iya, aku juga capek.. "
"Gud night mas Frisya.."
"Night Brenda.. i love u.."
Aku sudah tertidur, mas Frisya melihat ku sudah tertidur langsung ikut tidur agar tidak kesiangan.
Keesokan paginya, Aku di bangunkan pukul 4 pagi untuk bersiap siap pergi ke rumah mami.
"Apakah ini terlalu pagi bagi mu Brenda ??"
"Tentu.. aku rasa ini masih tengah malam. " ucap ku sambil kembali memejamkan mata.
"Brenda.. lekaslah bangun.. atau kita akan kesiangan karena macet.."
"Iya mass, ini aku bangun.." aku berada di posisi terduduk namun masih belum bisa bangun dan kembali terlelap dalam posisi duduk.
"Astaga gadis ini.." Mas Frisya geregetan dan mulai menggendong ku ke kamar mandi..
"Loh.. apaan nih dingin dingin... " ucap ku saat pertama kali membuka mata, ternyata mas Frisya menyiram kaki ku dengan air agar aku terbangun.
"Astaga.. mas Frisya.. nakal banget.. aku di bawa kesini.. "
"Abis kamu sih gak bangun bangun.." hehe tawa mas Frisya melihat ku kaget karena aku sudah duduk dengan kursi di atas bak mandi penuh air..
"Iih dinginn.. ihh mas Frisya.. ini dingin tauu.. ya ampunn.. gimana turunnya.. iihh jail ahh.."
protes ku.
"Aku tinggalin kamu mandi 15 menit, cepet mandi.. atau aku yang bakalan mandiin kamu." ucap mas Frisya.
Aku cemberut... Mas Frisya hanya tersenyum dan pergi keluar.
__ADS_1
"Astaga.. aku sungguh sungguh di kerjain.. iihh mana airnya dingin.. kok gak pake air anget aja coba.." keluh ku.
*******