
Ayah dan Mas Frisya mengintip dari balik pintu kamar .
"Mengapa ini sangat mengharukan nak.." ucap Ayah pada mas Frisya.
"Benar ayah... aku sangat bahagia melihat mereka berdua." ucap mas Frisya sambil menitihkan air mata.
Setelah itu kami beristirahat di kamar kami masing masing.
Aku tidak bisa beristirahat... Aku mengketuk ketuk ranjang ku, aku merasakan kepala ku yang pusing karena terlalu banyak menangis, aku menatap langit langit kamar ku.. namun,pikiran ku menembusnya atau bahkan sudah sampai langit.. entahlah...
Bukankah hal yang lebih buruk akan terjadi andai Mami ku menikah dengan lelaki tua itu.. atau aku.. ini sungguh mimpi buruk.
Dimana aku ?? aku bahkan menyombongkan segala yang ku miliki saat ini.. aku selalu mengatakan pada diriku, jika aku adalah wanita mudah cantik yang sukses di usia muda dan bla bla bla... tanpa aku mengingat darimana dan siapa orang orang yang berjuang bersama ku hingga aku sampai di titik ini.
Bahkan aku melupakan orang tua ku sendiri yang sudah memberikan semua cinta waktu dan pengorbanan nya untuk ku..
Andai mereka tidak bertemu dengan mas Frisya dan ayah nya.. apa yang akan terjadi selanjutnya ?? apakah aku masih akan sesombong ini..
"Gun Woo.. benarkah jika aku meninggalkan mu ?? ini sungguh tidak adil." aku menangis sesegukan di bawah bantal, berharap tidak ada yang bisa mendengar ku.
(Suara pesan masuk)
"Berhentilah memikirkan hal yang tidak perlu.. semuanya sudah membaik.." Mas Frisya.
"Iya" Brenda
"Kau bahkan bisa menikahi siapapun yang kau cintai.. Aku sangat menyayangi Ayah dan mami mu, aku bisa merelakan mu bahagia dengan orang lain.. tap aku tidak bisa membiarkan Mami dan Ayah bersedih karena orang lain." mas Frisya.
Aku tidak membalas pesan mas Frisya lagi..
Aku masih terus melamun...
Perusahaan Hoki Grup... mungkin akan tetap menjadi besar sekalipun mas Frisya tidak berinvestasi, tapi itu memerlukan kurang lebih 10 tahunan.. tapi karena mas Frisya dalam jangka waktu 3 tahun semua sudah jadi sebesar ini..
Apa aku harus menikahi mas Frisya..??? kepala ku pening.. aku tidak mengerti semuanya...
Setelah itu aku tertidur...
aku bangun pukul 7 malam segera membersihkan diri ku, dan saat aku keluar kamar.. ku lihat keadaan rumah sangat sepi.
Aku pergi ke kamar mas Frisya.
"Mas... Mami sama ayah kemana ?? kok sepi banget." ucap ku sambil membuka pintu kamar mas Frisya.
"Mami sama ayah lagi ke kota.. katanya ada anak temennya yang nikah lagi.." jawab mas Frisya.
"Nikahan mulu deh.." ucap ku
__ADS_1
"Yaiyalah dek.. inikan emang musim kawinan.." ucap mas Frisya sambil terus menatap handphone nya.
"Mas.. pulang yukk.." ucap ku
"Heii.. mana bisa.. mami pulang itu besok pagi.. mana mungkin bisa pulang tanpa berpamitan sama mereka.." ucap mas Frisya seraya menggenggam tangan ku.
"Dua hari lagi Gun Woo pulang..." ucap ku sambil menyenderkan kepalaku di paha mas Frisya.
"Dek.. dek.. jangan tidur di sini yaa.. lagi sensitif nih mas.."ucap Mas Frisya.
"Mas... " panggil ku.
"Iya.. apa?? kamu lapar ??"
"Nggak mas.. aku cuman mau bilang.. ciuman yuk.. sekali lagi.."
"Kenapa ?? "
"Ingin saja.. " ucap ku sambil menunduk.
"Brenda.. sebenernya mas gak keberatan.. bahkan mas juga menginginkannya.. tapi andai kamu bener bener milih gun woo, lalu bagaimana dengan hati ku ??"ucap mas Frisya
"Aku menyentuh mencium, bahkan melihat mu saja ku lakukan dengan hati ku sepenuhnya Brenda.. Aku tidak ingin hati ku hancur bahkan sebelum aku menikah dengan siapapun itu." lanjut mas Frisya.
"Jika begitu.. Berhentilah berkata cinta pada ku.. " ucap ku sambil berlalu pergi ke kamar ku dan membanting pintu kamar.
"Apakah dia benar benar sudah mundur... " tanya ku dalam hati.
***Di kamar Frisya**
"Maaf aku menyakiti mu Brenda... ini akan semakin menghancurkan perasaan ku jika aku terus memperlihatkan rasa cinta ku pada mu.. Biarkan Aku mencintai mu dengan cara ku.."
Frisya bahkan tidak bisa membayangkan hari esok, bagaimana rasanya jika dia melihat Brenda berpelukan dengan lelaki bernama gun woo itu..?
Tapi bagaimana pun, Frisya adalah lelaki yang bisa diandalkan... dia sadar malam semakin larut.. jika dia tidak segera tidur maka dia akan kesiangan besok.
Frisya mau tidak mau akhirnya meminum obat tidur agar dapat segera beristirahat.
Keesokan paginya...
Frisya bangun pagi seperti biasanya, segera mandi dan segera membangunkan ku yang masih terlelap.
"Dekk.. Bren.. yuk bangun.. katanya mau pulang..."
Aku yang sebenarnya sudah bangun, tahu jika mas Frisya berjalan menuju kamar ku, aku segera pura pura kembali tertidur.
Aku merasakan jari jemari mas Frisya yang menyentuh pipi ku, mata ku, hidung ku dan bibir ku.. saat dia menyentuh bibir ku, aku sengaja dengan tiba tiba menggigit jari mas Frisya dengan lembut.
__ADS_1
Sontak mas Frisya kaget, matanya terbelalak.
Aku mendekatkan wajah ku padanya lalu melepaskan jarinya dan Cup...
Frisya merasa terhipnotis..
"Mengapa mas Frisya gak membalas ciuman ku.." ucap ku keheranan.
"Tubuh ku rasanya mendidih dek.." ucap mas Frisya sambil memejamkan mata.
"Kamu ga papa mas ??" tanya ku
"Segeralah keluar jika sudah selesai.. " ucap mas Frisya sambil berjalan keluar dari kamar ku.
Pukul 6 pagi, mami dan ayah sudah sampai di rumah dan segera mengajak kami sarapan bersama.
"Mami, Ayah.. Friss sama Brenda pulang ntar lagi yaa... karena.." mas Frisya enggan melanjutkan ucapan nya.
"Iya Friss.. ga papa mami udah seneng kamu kesini, lihat kami.. sambil bawa Brenda lagi.. makasih yaa nak.. " ucap Mami hangat pada mas Frisya.
30 menit kemudian kami selesai makan.
"Mi.. Brenda pulang dulu yaa.. maafin Brenda selama disini ngrepotin mami sama ayah.. sama mas Frisya juga.."
"Udah nduk.. ga papa.." sahut ayah..
"Hati hati ya Brenda.. Friss.." ucap mami.
"Iya Mami, Ayah Bye bye.." ucap kami sambil melambaikan tangan.
2 jam perjalanan mas Frisya tidak berbicara sepatah kata pun pada ku.
"Mas, maaf soal tadi ya.. aku seharusnya sudah berhenti tidak melakukan itu.. "
"Lupakanlah... kita akan segera sampai."
"Baiklah seperti nya dia sedang tidak mood berbicara dengan ku." ucap ku dalam hati.
waktu berlalu, kami semakin mendekati kota, namun sayangnya wajah mas Frisya semakin mendekati kota semakin gelap.. aura dingin terpancar dari wajah nya.. membuat ku takut.
"Mas.. kamu baik baik aja kan ?? aura wajah mu sangat menakutkan untuk ku..."
Dia memberhentikan mobilnya dan menatap ku dalam.
"Mas ga papa kok, maaf menakuti mu Dek.." ucap nya sambil tersenyum di paksakan.
Pikirannya nampak sangat kacau.
__ADS_1
*******