
Mas Frisya tiba tiba menghentikan mobilnya dan memukul keras ke arah stang, tampak jelas raut wajah kecewa di wajahnya, namun dia tidak mengucapkan apapun.
"Apa keputusan ku mengatakan yang sejujurnya itu salah ??" ucap ku dalam hati sambil menatap mas Frisya.
Mas Frisya mendiamkan diri ku, sungguh ini suasana ini sangat canggung. Sangat berbanding terbalik dengan sikapnya sebelum aku mengatakan sejujurnya.
Aku mencoba memecahkan kesunyian diantara kami.
"Mas ?? Apa kamu gak lapar ?? kok diem aja sii.." ucap ku.
"Kamu mau makan apa ??" dia mulai merespon ucapan ku.
"Terserah mas Frisya deh.. aku ngikut aja."
Mas Frisya berkali kali mengambil nafas dalam dalam, seperti menahan diri untuk sesuatu yang cukup membuatnya terguncang.
Berkali kali aku menatapnya seperti sedang putus asa, dan gelisah. Perlahan aku memegang lengan mas Frisya sambil menatapnya dalam dalam.
"Bisakah kau membaginya dengan ku??" ucap ku.
"Hm, Brenda.. kita sudah dekat.. 2 jam lagi kita sampai, bisakah kau pulang dengan menyetir mobil sendiri ?? ada yang harus aku lakukan disini."
"Apa ?? bagaimana kau bisa pulang ? tidak bisa.. Aku tidak mungkin bisa pergi sendiri."
Mas Frisya membuka pintu mobil dan mengambil rokok seraya menghirupnya.
"Sudah pergilah, aku baik baik saja... " ucapnya sambil melangkah pergi.
Dalam pikiran ku ini tidak benar, ini salah.. mungkin ucapan ku teramat sangat menyakitinya, hingga dia nampak seperti orang frustasi.
Saat dia mulai berjalan beberapa langkah, aku menarik tangan nya dan memeluknya dalam dekapan ku.
Tiba tiba hujan turun..
Air matanya mulai mengalir...
"Apa aku tidak bisa jadi satu satunya cinta mu?? " ucap nya.
" Aku menyesal mengapa kita baru bertemu, maafkan aku.." sahut ku yang juga mulai menangis.
Melihat ku menangis, Mas Frisya menarik ku masuk ke dalam sebuah Cafe. Kami duduk berhadapan.
"Kau benar benar membuatku tidak punya akal Brenda.."
"Maaf Mas Frisya, aku juga tidak tahu apapun tentang mas selama ini.."
"Apa kau teramat mencintai nya hingga tak bisa kau ubah keputusan mu ??"
"Entahlah tentang itu... tapi aku sudah berjanji akan bersamanya."
"Tidak bisakah kau berbohong pada ku, agar aku tidak mendengar ucapan itu langsung darimu ??" ucap nya.
"Aku tidak bisa membohongi orang orang yang aku sayangi, maafkan aku jika ini sangat menyakiti mu."
"Baiklah.... ini sudah cukup.. silahkan pesan sesuatu, kita akan segera melanjutkan perjalanan." ucap nya, nampak seperti orang yang berusaha tegar.
"Aku rasa nafsu makan ku hilang."
"Ah, tidak.. kau harus makan.. aku tidak ingin kau sakit Brenda, biar aku saja yang memesan."
Beberapa saat kemudian setelah memesan makanan, Mas Frisya berpamitan untuk pergi ke toilet.
15 menit kemudian, makanan pun datang.. aku hendak menunggu mas Frisya namun aku sudah sangat lapar untuk menunggunya, jadi aku makan duluan..
Sekitar 30 menit kemudian, Aku sudah selesai makan.. Namun, mas Frisya belum kunjung kembali.
__ADS_1
Aku berjalan menuju toilet hendak menyusul mas Frisya. saat sampai di depan toilet langkah ku terhenti.
"Mba maaf ini toilet laki laki, perempuan tidak boleh masuk."ucap seseorang yang penjaga di depan toilet.
"ahahaha iya, aku gak mau masuk kok pak.. eh iya, pak tolongin saya dong."
"Boleh mba, tolong apaan ya ??"
"Tolong tanyain dong.. didalam ada cowok yang namanya mas Frisya gak ?? soalnya temen ku tadi pamit ke toilet tapi gak balik balik."
"oh, iya.. silahkan tunggu sebentar."
A few moments letter...
"Maaf mba, di dalam tidak ada yang namanya mas Frisya. mungkin teman mbak sudah keluar."
"Oh, gitu yaa... Baiklah... mungkin tadi aku tidak melihatnya saat kembali. terimakasih .."
"Ya, mbak sama sama."
Aku kembali menuju meja ku, namun aku tidak menemukan mas Frisya... dan saat melihat mobil yang tadinya terparkir,kini sudah tidak ada di tempat.
Aku teringat akan ucapan mas Frisya tadi sebelum kami makan di cafe.
**** "Hm, Brenda.. kita sudah dekat.. 2 jam lagi kita sampai, bisakah kau pulang dengan menyetir mobil sendiri ?? ada yang harus aku lakukan disini." ****
"Astaga... apakah mas Frisya meninggalkan ku sendiri disini ??, lalu mobilnya di bawa juga.. astagaa ini sudah hampir jam 9 malam, bagaimana aku bisa pulang.. " ucap ku kebingungan.
Aku berjalan menuju halte bis terdekat, tiba tiba seseorang menyapa ku.
"Apa yang sedang kau lakukan disini ms. Brenda ??"
Aku menatap darimana suara itu berasal.
"Kak Benooo.... huhuhu..hiks hiks..hiks..." Aku langsung memeluknya.
"Apa... Apa yang terjadi padamu ??" ucap nya melihat ku menangis.
"Aku tidak bisa pulang... bisa kau antar aku pulang.. ini sudah larut, aku takut.." jelas ku.. aku tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya.
"Masuklah ke dalam mobil ku" ucapnya mempersilahkan ku.
"Istirahat lah... pakai ini ( melepas dan memberikan jaketnya pada ku ) agar kau tidak kedinginan"
" terimakasih kak... " ucap ku.
Tak lama kemudian aku tertidur karena kelelahan. 2,5 jam kemudian kami sampai di rumah ku.
"Nona Brenda, kita sudah sampai.."
"terimakasih... besok aku akan berkunjung, tapi.. entahlah kurasa aku tidak enak badan."
Setelah itu, Beno segera pergi...
Saat sampai di kamar ku aku langsung merebahkan tubuh ku di tempat tidur ku yang nyaman.
Pikiran ku menerawang hari sebelum hari ini, segalanya terasa sangat sempurna... aku di keliling orang orang yang menyayangi ku.
Tapi hari ini... aku seperti di hempaskan begitu saja di bumi. Sangat menyakitkan... Aku seperti enggan untuk kembali bertemu Frisya. Setelah lelah termenung, aku tertidur.
Keesokan harinya aku masih enggan untuk bangun. Seseorang datang mengetuk pintu kamar ku.
"Nona Brenda... ini saya Debora... boleh saya masuk ???"
"Masuklah..." jawab ku singkat.
__ADS_1
"Nonaaa... Apa kabar ?? mengapa beberapa hari ini sulit sekali dihubungi ??"
"Aku bahkan tidak menyentuh handphone ku sejak kemarin."
"Ayolah Nona.. bersemangatlah dan lihat pesan email dari Tuan Gun woo.."
" Gun Woo ??? Aku bahkan tidak tahu dimana handphone ku sekarang."
"Apakah anda kecopetan nona ??"
"Sudahlah.. Singkatnya kau urus semua barang barang ku yang hilang itu."
"Baiklah nona Brenda... apakah anda hari ini akan pergi ke kantor ??"
" Yaa, apakah ada meeting penting hari ini ??"
"Ada Nona Brenda, siang ini dan nanti sore dengan.."
"Kau siapkan saja, aku akan membuka pesan email gun woo dari laptop ku."
"Baiklah nona, saya akan kembali ke kantor dulu... "
"berhati hatilah, jalanan ramai pagi ini."
"Anda sangat perhatian Nona, terimakasih."
Aku membaca pesan email dari gun woo.
" Hai Brenda, aku sangat merindukan mu... aku mencoba menghubungi mu, namun sulit sekali jadi aku memutuskan mengirim pesan ini padamu, Maaf lama sudah aku tidak memberikan mu kabar, aku sangat sibuk dengan semua ini.. Apakah kau baik baik saja.. aku dengar dari Debora, kau terlihat sangat kacau akhir akhir ini, ku mohon hiduplah dengan bahagia hingga aku pulang."
"Gun Woo.. mengapa kau meninggalkan ku sendiri disini, mengapa kau tidak membiarkan ku ikut dengan mu.. disini sangat kacau." keluh ku.
Saat aku hendak membalas pesan Gun Woo tiba tiba suara bik Sari memanggil.
"Nona... maaf mengganggu anda, Nona Debora tadi berpesan agar mengingatkan anda untuk pergi ke kantor pukul 10, dan ini sudah waktunya.
"Baiklah aku akan bersiap siap."
"Baik Nona saya permisi."
Aku segera bersiap siap untuk pergi menuju Hoki Grup. Aku meminta bik Sari mengepang rambut ku agar terlihat lebih segar.
"Bik, aku pergi dulu..." Aku berpamitan pada bik Sari.
"Hati hati non, jangan terburu buru." senyuman yang sangat manis mengingatkan ku pada Mami.
"Bik, bisa gak aku minta tolong sesuatu."
"Tentu, apapun itu untuk Nona Brenda.."
"Peluk aku sebentar saja bik... Aku merindukan Mami."
"Loh, katanya baru pulang dari rumah Nyonya besar ??"
"Udah peluk pokoknya.."
Mungkin manja ku sungguh keterlaluan bahkan pada bik Sari pun aku sangat manja, tapi apalah daya.. ini memang diriku.
"Sudah Non berangkat...nanti terlambat.."
"Hehe makasih ya bikk.. akhir akhir ini segalanya agak rumit, aku jadi agak depresi deg rasanya."
"Jalani hidup dengan rasa syukur dan ikhlas Non, segalanya pasti terasa lebih mudah."
"Terimakasih.. aku berangkat dulu, bye bye bik Sari."
__ADS_1
"Byebye Nona Brenda."
******