
Keesokan harinya, Brenda merasa sangat malas untuk pergi kemana mana jadi dia memutuskan untuk sekedar bergulang guling ria di atas tempat tidur.
Tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Apakah itu Mas Frisya ??" tanya Brenda pada dirinya sendiri.
Kemudian Brenda berjalan menuju pintu dan mengintip dari lubang pintu.
"Rama ?? Apa yang dia lakukan disini ??" ucap Brenda.
Kemudian Brenda membuka pintu.
Rama terkejut melihat Brenda yang masih mengenakan pakaian tidurnya.
"Apakah aku salah kamar ??" tanya Rama
"Maksudmu apa Ram ??" tanya Brenda sambil tersenyum.
"Waauw, ini sudah siang, sedang Seorang Brenda masih dengan baju tidurnya... ini seperti bukan dirimu Bren." ucap Rama.
"Aku haya ingin bermalas malasan hari ini.." ucap Brenda.
"Apakah kau yakin ?? apakah kau tidak ingin aku menemani mu ??" tanya Rama.
"Jika kau memaksa.. " ucap Brenda sambil tertawa.
*****
Akhirnya Brenda berganti pakaian dan pergi dengan Rama.
"Kemana kita akan pergi Ram ??" tanya Brenda
"Kau bilang sedang bosan, bagaimana jika kita pergi ke Duque de Caxias .." ucap Rama.
" Duque de Caxias ?? " tanya Brenda
"Yaa... disana kau bisa berbelanja barang barang bagus sekelas dirimu, bukankah wanita paling suka belanja saat mereka bad mood ??" tanya Rama
"Hehehe, bagaimana bisa kau menjadi pengertian seperti ini Ramaa.." ucap Brenda
"Haaah.. aku kan tipe cowok idaman.." ucap Rama.
"Baiklah, Ayo segera berangkat.." ajak Brenda.
"Tunggu sebentar... aku harus memakai ini dulu.." ucap Rama sambil mengenakan topi, kaca mata, syal dan masker.
"Apa yang kau lakukan Rama ??" tanya Brenda
"Aku harus melakukan ini agar aku tidak dikenali Frisya, bisa gawat jika Frisya menemukan ku.. " ucap Rama.
__ADS_1
Mereka keluar dari hotel dan Rama mengajak Brenda untuk mencari halte bis.
"Mana mobil mu ?? mengapa kita naik bis hari ini.." tanya Brenda saat ada dalam bis.
"Jika kita naik bis, penyamaran ku akan gagal.." ucap Rama
"Apakah kau tidak pamit padanya terlebih dahulu ??" tanya Brenda
"Aku mengatakan pada dirinya jika aku ada urusan di kantor kedubes jadi aku akan pulang saat malam hari.." ucap Rama.
"Memangnya jujur tidak bisa.." ucap Brenda
"Tidak bisa, masih ada yang harus aku lakukan.." ucap Rama
*****
Saat bis mereka terhenti karena lampu merah. Saat itu Rama yang sedang menyamar sedang asik bercengkrama dengan Brenda, tanpa sadar ternyata ada Frisya yang sedang mengendarai motor juga sedang berhenti dan menatap tajam kearah mereka.
" Brenda.... siapa laki laki yang bersamanya ? apakah itu kekasih baru Brenda.. tidak tidak !!! aku tidak bisa membiarkan ini terjadi !! Aku harus mengikuti kemana mereka berdua pergi.. Akan aku habisi dia bahkan sebelum Brenda menyadarinya." ucap Frisya dengan nada mengancam membuat bulu kudu Rama mendadak merinding.
****
"Apa ini.. apa yang terjadi ?? mengapa aku merasa merinding seperti ini... seperti seseorang sedang mengutuk ku.." pikir Rama dalam hati.
"Baiklah... tapi Kemarin.. mengapa kau tidak datang ?? tumben sekali... " ucap Brenda.
" Rama... apa yang terjadi pada mu ??" tanya Brenda
"Jangan kaget seperti itu.. aku dan Debora beserta semua pelayan Frisya sudah sering mengalami hal seperti ini.." ucap Rama
"Apa maksudmu Rama ?? Mas Frisya tidak mungkin menghajar kalian.." ucap Brenda membela frisya.
"Kau memang mengenal Frisya dengan baik.. ini bukan luka pukulan atau hantaman, tapi ini hasil dari perintah yang diberikan Frisya pada kami, untuk kami selesaikan.."ucap Rama.
****
Tidak terasa 1 jam 29 menit berlalu, mereka sudah sampai di Duque de Caxias, mereka harus segera turun dan memutuskan percakapan mereka. Melihat Brenda tertarik dengan percakapan nya tentang Frisya, Rama merasa ini saat yang tepat untuk mulai berbicara serius agar mendapatkan bantuan dari Brenda untuk menghentikan kebengisan Frisya pada orang orang yang ada disekitarnya.
"Bren.. apakah kau ingin minum kopi ?? disini rasanya lebih dingin.." ucap Rama
"Aku merasa hangat Ram.." ucap Brenda
"Entah sejak di bis tadi aku merasa sedikit kedinginan.." ucap Rama lebih tepatnya dingin karena merasa ada yang tengah mengawasinya.
"Baiklah, aku kan memesan kopi, kau duduklah dulu disini.." ucap Brenda
******
"Brenda bahkan yang membeli kopi untuknya.. apa tidak salah.. apa dia tidak bisa lakukan itu sendiri " Gerutu Frisya yang sedang menguntit Rama dan Brenda yang duduk agak jauh dari mereka.
__ADS_1
****
"Ini kopi untuk mu Ram... " ucap Brenda
"Terimakasih, kau yang terbaik Bren.." ucap Rama
"Bisa kau katakan lebih jelas padaku Ram ??" tanya Brenda
"Begini... Kemarin aku, Debora dan beberapa pelayan.. kami semua perintahkan untuk berkebun sejak pukul 3 pagi, mungkin karena aku lelah dan mengantuk akhirnya aku terpeleset dan jatuh menimpa pohon dan inilah hasilnya. " ucap Rama.
"Berkebun sejak pukul 3 pagi ?? apa itu masuk akal Ram ??" tanya Brenda
"Sejak berpisah dengan mu, hal hal yang tidak masuk akal, perintah yang konyol sering kami alami, terutama Debora... Menikah dengan Frisya seperti menjatuhkan dirinya ke dalam neraka yang tidak pernah dia tahu seberapa dalam neraka itu.." ucap Rama sambil menitihkan air mata mengingat kembali apa yang sering dialami oleh Debora.
"Maaf aku tidak tahu harus menjawab apa.." ucap Brenda sambil menunduk.
"Masih belum terlambat.. untuk mengeluarkan kami dari neraka yang tidak berdasar ini Bren.." ucap Rama
"Maksud mu apa Ram ??" tanya Brenda
"Kembalilah pada Frisya... Aku bersungguh sungguh meminta bantuan mu.. hanya kau harapan ku satu satunya, kaulah kelemahan dari Frisya.." ucap Rama
"Tapi Debora sahabat ku... aku tidak mungkin..." ucapan Brenda terpotong.
"Aku yakin.. bahkan Debora tidak akan marah ataupun menolak.. bagi ku sudah cukup aku melihatnya mendapatkan kekerasan fisik dari Frisya.." ucap Rama sambil menitihkan air mata memohon dengan tulus.
"Mengapa kau harus menangis seperti ini ??" tanya Brenda
"Jujur saja Bren, aku mulai menyukai Debora.. namun sayangnya Frisya sangat kasar padanya.. aku merasa tidak sanggup untuk melihat nta tersiksa lebih lama lagi.." ucap Rama.
****
" Tidak dapat dipercaya, bahkan pria itu menangis untuk mendapatkan hati Brenda." ucap Frisya geram.
*****
"Aku mohon padamu Bren.. sebenarnya kemari hanyalah sebuah alasan ku, sebenarnya ini yang ingin aku sampaikan pada mu.. " ucap Rama sambil memegang erat tangan Brenda.
Hati Brenda berkecamuk melihat sahabatnya tidak berdaya seperti ini, hatinya terasa sakit.
"Ram... aku tidak tahu harus menjawab apa atas permintaan mu... tapi.. mungkin jika aku bertemu dengan Debora, mungkin aku akan mulai memikirkannya." ucap Brenda
"Kau bersedia untuk bertemu dengan Debora ??" tanya Rama
"Tentu saja.. dia sahabat ku.." ucap Brenda
"Terimakasih Brenda.. dia pasti senang bisa bertemu dengan mu lagi.." ucap Rama.
*******
__ADS_1