
Beberapa bulan kemudian...
(Suara Handphone berdering..)
"Duuh siapa sih.. pagi pagi udah telpon." keluh ku yang masih mengantuk.
"Hallo.." Sahut ku.
"Selamat pagi Brenda sayang.." suara gun woo.
"Gun Woo... ehmm... sayang.. kamu kapan pulang.. telfon mulu gak pengen ketemu aku gitu.."
"Iya sayang, seminggu lagi aku janji bakalan pulang.."
"Iih, beneran ?? yaampun kurasa keberuntungan akan datang pada ku saat kau kembali pulang sayang.."
"Kau terlalu memuji Brenda.. Apakah kamu ingin sesuatu biar ku bawakan dari sini ??"
"Tentu saja... tolong bawakan aku cincin dengan berlian yang cantik." hihi tawa ku.
"Aku akan membawakan mu sekoper cincin, aku berjanji.."
"Tentu, jika kau memang mencintai ku.. tepati janji mu.. "
"Iya sayang... ya sudah segera bangun dan berangkat bekerja."
"Iya, Gun woo.. jaga kesehatan ya sayang.."
"Tentu.. aku harus menjaga kesehatan demi kamu.."
"eeaa gede dah kepala aku "
"Ya sudah bye sayang.. I Love u"
"Bye, I love u too.."
Setelah bertelepon dengan Gun Woo aku langsung mandi, menyegarkan diri. dan segera turun untuk sarapan.
"Nona Brenda, sarapannya sudah siap."
"Yaa bik bentar lagi aku turun."
"Wahh.. Sup kesukaan aku.. makasih yaa bik udah dimasakin sup ini.."
"Iya Nona Brenda harus makan yang banyak."
"Baiklah sudah dulu aku berangkat bekerja.. bye bik Sari.."
"Bye Nona Brenda hati hati di jalan.."
15 menit kemudian aku sampai kantor dan selalu mendapati Debora dan mas Frisya berpacaran.
Aku tidak marah hanya saja pemandangan ini membuat ku sedikit risih.
"Selamat pagi kalian yang lagi pacaran ??" Aku menyapa seperti biasanya.
"Ah, Nona Brenda jangan begitu.. membuat saya malu.."
"Yaa seharusnya memang begitu, atau kalian bisa jalan di luar kantor saja.. "
"heii apa kau semalam tidak tidur dengan nyenyak hingga pagi ini kami judes seperti ini.."
"Tidur ku itu selalu dan harus nyenyak, cuman kan pacar aku lagi gaada dan kalian malah enak enakan pacaran.."
"Hahaha bisa saja kau Brenda.. Oh yaa.. ada yang ingin aku sampaikan di kantor mu.."
"Baiklah ayo masuk."
__ADS_1
"Debora, aku akan menemui Brenda dulu.." ucap mas Frisya pada Debora sambil menyentuh pipinya.
"Iya, silahkan.." Ucap Debora dengan wajah terpesona.
**Dalam ruangan ku..***
"Ada apa mas Frisya??"
"Aku hanya mau bilang jika aku akan menambah invest ku jadi 2x lipat bulan depan, bagaimana ??"
"Wahh, sungguh kau akan melakukan nya ??"
"Tentu... apakah kau bahagia ?"
"Terimakasih ya mas Frisya.." seraya aku memeluk mas Frisya, begitu pun mas Frisya balik mendekap ku.
"Apakah kau merasa kesepian Brenda.."
"Sedikit mas... ehmm.. mmm.. mmm.." Mas Frisya menciumi bibir ku dengan lembut.
" Apakah Gun Woo masih lama untuk pulang?"
"Tidak, dia bilang seminggu lagi dia akan pulang."
"Brenda... bolehkah aku menginap di rumah mu malam ini, sebelum gun woo pulang.??"
"Mau apa kau mas ?? menginap di rumah ku"
"Biarkan aku bermanja manja sejenak dengan mu.."
"Kau ini..."
Saat kami sedang asyik berbincang, tanpa kami sadari seseorang berdiri di depan pintu sambil membawa nampan berisi minuman. menguping pembicaraan kami..
"Atau kita makan malam saja.. bagaimana ??"
"Ku jemput kamu nanti malam jam 7 malam.. bagaimana..??"
"Baiklah.. aku menunggu mu.."
"Aku pulang dulu ya.." seraya dia mengecup bibir ku dan *** sedikit payudara ku dengan lembut..
"Ehm.. emm... Dasar nakal..." ucap ku pada mas Frisya .
Malam harinya....
Aku menggunakan gaun warna putih kesukaan ku. Aku berlenggak lenggok di depan kaca melihat gaun yang ku kenakan.
"Kamu udah cantik banget dekk.."
Mas Frisya mengagetkan ku, tiba tiba dia berdiri di depan pintu Kamar ku.
"Mas... kamu.. emm.." pikiran nakal muncul di pikiran ku saat melihat mas Frisya memakai setelan kemeja warna hitam di depan kamar ku.
"Mas... sinii.. cium cium dikit dulu yuk.." ucap ku sambil mengedip mata dan menepuk pinggir ranjang.
"Kamu nakal yaa.. godain mas nya.."
"kan dikit ga papa seminggu lagi juga kamu ga akan bisa deketin aku.."
"Brenda... berselingkuhlah dengan ku... aku berjanji akan melakukan apapun untuk kebahagiaan mu tanpa mengganggu hubungan mu dengan gun woo."
"kebanyakan ngomong dehh.."
Aku langsung duduk berhadapan diatas pangkuan mas Frisya.
"Emm, ehmm.. mmmmm" hanya itu yang terdengar dari kami berdua..
__ADS_1
Frisya tidak pernah membiarkan waktu berlalu begitu saja, dia mulai kembali menyentuh payudara ku dan memainkan biji merah ku, rasanya sangat geli.
Aku sedikit menggodanya dengan menggoyang goyangkan pinggul ku diatas pangkuan mas Frisya.
Aku merasa ada yang menyembul keras, memaksa untuk keluar.
Lidah ku, ku liarkan di mulut mas Frisya membuatnya semakin kepanasan.
"Dekk.. ayo.. mas udah gak kuat.." ucap mas Frisya tiba tiba.
"gak kuat gimana sih mas.." ucap ku masih terus menggodanya sambil memainkan putingnya yang terbalut kemeja.
"Gak kuat nahan lapar..." ucapnya.
Aku langsung membelalakan mata ku.
"Udah yukk cium ciumnya, mas pengen makan nih.." ucapnya sambil merapikan pakaian nya.
"Beneran ??.. oke..." ucap ku setengah kecewa.. entah kecewa karena apa.. aku pun tidak mengerti.
15 menit kemudian aku dan Mas Frisya sampai dan segera menuju meja pesanan kami.
"Brenda... kamu cantik seperti putri dengan pakaian seperti ini.." ucapnya sambil menggenggam tangan ku.
"Mas... kamu ngajakin aku kerumah mami kan ?? kapan ??"
"Yaa, tergantung kamu, kapan maunya.."
"Seminggu lagi gun woo sudah disini, mana mungkin aku pergi kesana dengan mu..??"
"Baiklah, besok Saja kita kesana.. kau mauu ??l
"Tentu... aku sudah merindukan mami dan ayah.."
Mas Frisya menggenggam tangan ku sambil tersenyum menatap ku.
"Brenda.. teruslah berbahagia seperti ini.. aku sangat bahagia melihatnya.."
"yaa.. dan nanti aku akan mengenalkan mas, sama gun woo.. agar kita tetap bisa berhubungan baik."
"Hm.. aku tidak yakin, tapi melihat mu seperti nya yang kau katakan benar."
Tiba tiba, seseorang datang tanpa aku tahu darimana asalnya, tiba tiba menyiramkan segelas air ke wajah ku.
Mas Frisya yang melihatnya langsung mendorong wanita itu ke tembok.
"Bruukkkk"
"auuhh Kamu.. tega banget malah belain dia.."
Ucap wanita itu yang ternyata adalah Debora.
Aku diam mematung tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Mas Frisya menarik paksa Debora keluar.
Aku merasa sangat bersalah pada Debora.
"Jalang, bagaimana kau bisa melakukan ini pada Brenda."
"Kamu itu pacar ku kak, kamu kok tega.. lepasin ini sakit tangan ku."
"Aku bahkan akan meremukkan tangan mu yang sudah menyiram Brenda jika perlu."
"kakk.. tega kamu yaa.."
"Pergi.. dasar tidak berguna, pergi.." teriak Mas Frisya pada pacarnya.. sungguh sangat kasar.
__ADS_1
*** Bersambung bunggg..***