Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Hari yang Berat..


__ADS_3

Aku langsung memacu Bmw ku dengan kecepatan tinggi agar tidak terlambat dengan meeting hari ini.


10 menit kemudian aku sampai di kantor, aku segera di sambut Debora dengan tergesa gesa.


"Nona, ada perubahan jadwal.."


"Aissh kau ini bisa tidak menyambut ku dengan lebih baik."


"maaf nona.. karena mendadak jadi saya tidak bisa menyambut anda lebih baik."


"Katakan, ada apa ??"


"Rapat yang seharusnya dilakukan dua kali siang dan sore nanti, mereka ingin ini dilakukan bersamaan."


"Mengapa ??"


"Karena mereka pikir, perusahaan mereka berhubungan, dan bisa saling menguntungkan jadi sekalian saja meeting bersamaan."


"Terserahlah.. Apkah mereka sudah di ruang meeting ??"


"iya Nona mereka sudah menunggu anda."


"berikan kepada ku berkas berkas milik ku."


"Ini Nona."


Kami berjalan menuju ruang meeting, kulihat dalam berkas tertera nama perusahaan BOOM&FOOD dan DINGINONIC.


"Aku akan mengatasi ini dengan baik." ucap ku dalam hati.


Saat kaki ku melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang meeting, aku merasa 2 pasang mata dari dua arah berbeda sedang menatap ku dengan tajam, hingga akhirnya aku duduk di kursi ku sendiri.


Aku melihat ke arah kanan ku, kulihat ada tatapan hangat dan senyum yang mengembang disana, yang tidak lain adalah senyum seorang Kak Beno. Aku membalasnya dengan senyum anggun ku.


Aku melihat ke arah kiri ku, kulihat ada kebencian disana. jangankan tersenyum berkedip saja tidak. Siapa lagi kalau bukan Mas Frisya.


"Hmm... Pria ini, dia yang mencampakan ku di jalanan, malah dia yang menatap ku dengan tajam seperti itu." ucap ku dalam hati.


"Sepertinya haru yang berat masih akan terus berlanjut, hingga Gun Woo pulang." gerutu ku.


***Meeting Di mulai ****


"...Inovasi yang akan saya kembangkan adalah dimana kita akan mengumpulkan segala jenis makanan dari berbagai negara, menjadi satu, jadi kita bisa menarik banyak pelanggan yang suka kuliner dan juga kecanggihan teknologi. seperti di jalanan L.A banyak sekali makanan dari berbagai negara yang di jajakan dipinggir jalan, namun sayangnya itu kurang higienis, jadi kita akan membuat pelanggan bukan hanya makanannya yang nikmat tapi juga teknologi yang kita tawarkan pasti sangat menarik perhatian konsumen..." penjelasan ku saat meeting berlangsung.


Meeting berjalan sekitar 1 jam, dan harus terhenti karena jam makan siang.


Mas Frisya tiba tiba mendatangi ku..


" Dengan siapa kau pulang kemarin ??" tanya mas Frisya dengan kasar memegang tangan ku.


"Aku ?? tentu aku naik bislah.. haha tolonglah jangan menatap ku seperti itu, saat itu kan hari masih siang, jangan sok perhatian lah.. aku lapar.."


"Aku bertanya dengan sungguh sungguh." tangannya mengepal matanya memerah tampak dia sangat marah.


"Lalu ?? jika aku masih menjawab dengan jawaban yang sama lantas apa yang akan kau lakukan ?? Apa kau akan terus meremas pergelangan tangan ku hingga tulang ku remuk ?? Atau kau akan melempar ku keluar?? atau ??? kau akan menghantam kan ku ke tembok ??"

__ADS_1


Frisya tidak menjawab. Mendengar jawaban ku mas Frisya melepaskan genggamannya pada tangan ku, mungkin dia mulai sadar jika cengkeraman tangannya terlalu kuat.


Aku tersenyum..


"Ternyata aku benar... kau Frisya... Bukan Rakhman ku, Rakhman yang selalu menyayangi ku, Bahkan Rakhman tidak akan pernah menatap ku dengan pandangan setajam. kau tidak akan pernah jadi Rakhman ataupun Rakhman tak akan mungkin menjadi kau Frisya."


Wajah Mas Frisya langsung berubah menjadi merah padam, sepertinya kemarahannya mulai mereda mendengar ucapan ku.


Aku berlalu melenggang pergi keluar ruang meeting. Lalu Aku pergi ke ruangan ku.. aku menangis.. Ntah siapa dia.. tapi aku sangat kecewa padanya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk" ucap ku tanpa melihat siapa yang masuk karena ku pikir itu adalah Debora.


"Apakah kau membutuhkan tissu ms. Brenda..atau kau butuh pundak untuk melepaskan beban mu ms. Brenda ??"


Suara yang tidak asing bagi ku, suara yang seperti sangat ingin ku dengar untuk menenangkan diri ku.


"Kemarilah kak, aku butuh keduanya.." sahut ku dengan sedikit tersenyum mendengar tawarannya.


Kak Beno duduk bersebelahan dengan ku, aku menyandarkan kepala ku di bahunya.


"Ini tissu untuk mu, menangislah aku akan menemani mu "


Aku menangis sekitar 20 menit.


"Brenda.. emh, maksud ku ms. Brenda..."


"Sudah panggil saja aku Brenda, kau juga bukan pelayan Beno, tapi anak tunggal pemilik Dinginonic, tapi selama ini aku memperlakukan mu seperti pelayan, Aku sangat malu.."


"Mengapa ??"


"Entahlah, bagiku kau seperti Permata.. sangat indah Anggun dan menawan. tapi..."


"Tapi apa ??"


"Baru saja aku melihat mu bertengkar dengan dia, kau tidak memiliki rasa takut, kau memang wanita yang sungguh berkharisma."


"Astaga.. aku hanya membela diri kak ben..."


"Panggil aku Vilgar, itu nama asli ku."


"Ahh, baiklah kak Vilgar... kau banyak memuji ku... bayar tauk."


"Ah, bayar yaa.. berapa uang yang harus ku bayarkan ??"


"Bukan uang kak, tidak semua hal berkaitan dengan uang."


"Lalu ??"


"Peluk aku sebentar saja, aku rasa hari ini sudah cukup berat untuk ku."


"Baiklah..kemari mendekatlah, kau seperti panda saja Brenda.. senang dipeluk "


"Pelukan hangat akan menguatkan orang lain, tadi pagi saja bibik Sari ku suruh memeluk ku sebelum aku berangkat bekerja."

__ADS_1


"Sungguh ?? Bibik pembantu kan maksud mu Brenda ??"


"Iyaa, bagaimana lagi.. aku hanya tinggal dengannya, aku merindukan Mami.. jadi aku minta peluk bibik saja, hihi"


"Lain kali, jika kau butuh pelukan ataupun pundak, aku siap untuk mu."


"jangan berharap terlalu banyak pada ku, aku tidak seperti yang kau bayangkan kaka."


"Baiklah... tapi biarkan aku berpikir positif tentang mu."


"Tentu..."


Kami pun mengakhiri pelukan kami, aku merasa lebih baik karena didengarkan.


"Nona Brenda, Sudah saatnya meeting di lanjutkan.." ucap Debora sambil menerobos masuk dan kaget saat melihat Vilgar duduk berdekatan dengan ku.


"Sudah jangan kaget begitu, Kemarilah kenalkan ini Vilgar kau pasti sudah bertemu dengannya tadi di ruang meeting kan??"


"Ha a Haii tuan Vilgar.. saya Debora.."


"Aku Vilgar, Debora ?? nama yang bagus." seraya mereka berjabat tangan.


"Duuh, tukeran Ig gitu... atau tukeran Wa gitu, hihi."


"Ah, Nona Brenda bisa saja..(malu malu) baiklah meeting di mulai 5 menit lagi, aku membawakan anda sandwich ini, karena aku tahu anda belum makan nona Brenda, mungkin anda bisa berbagi, karena sandwich nya ada dua." sambil melirik Vilgar.


Aku


"Yaa, baiklah.. aku akn makan dengan kak Vilgar, kau makan dengan kak Vilgar di restaurant saja yaa.. " goda ku.


Debora berlari sambil menutupi wajahnya karena malu .


"Dia Asisten yang sangat perhatian pada mu Brenda, kau sangat beruntung."


"Yaa, mungkin dia sudah jadi foto copy ku di perusahaan ini, itu ucapan para pegawai yang pernah ku dengar."


"Menarik..." kami tertawa bersama dan segera menghabiskan sandwich yang di bawa Debora tadi.


5 menit kemudian kami sudah sampai di ruang meeting.


Mas Frisya kembali menatap ku, meskipun tidak menatap ku tajam seperti tadi. Aku enggan menatapnya, aku hanya melirik sedikit saja.


Aku kembali menerangkan tentang proyek yang akan aku bangun, saat aku hendak mengambil kardus yang berisi sampel, aku tidak menyangka bahwa kardus itu lumayan berat hingga akhirnya tangan ku yang di remas mas Frisya tadi terasa sakit, lalu kehilangan keseimbangan dan kardusnya pun terjatuh, sedang tangan ku pun terkilir.


Kak Vilgar Mendekati ku..


"Kita ke klinik ya, sejak kapan tangan mu memar seperti ini ??"


"Lepaskan dia, aku akan membawanya ke rumah sakit." ucap mas Frisya


"Hai mengapa kau menyerobot, aku yang pertama bertanya.." ucap kak Vilgar.


"Lalu, apa yang hendak kau lakukan" suara mas Frisya meninggi.


"Hentikann... Seperti anak kecil saja." seru ku tak tahan melihat mereka berdua dan tangan ku yang kesakitan."

__ADS_1


****


__ADS_2