
Keesokan harinya...
Brenda bangun pagi dan membantu mbak Naning untuk memasak sarapan untuk semua orang.
Mami berjalan menuju dapur.
"Udah bangun kamu Bren." Sapa Mami.
"Udah mi." Sahut Brenda sambil sibuk memotong sayuran.
"Brenda, kamu lagi marahan sama Frisya ya ?" Tanya Mami.
"Nggak juga kok mam, cuman Brenda gak suka sama sifat tempramental nya mas Frisya, dia begitu kasar dan bertingkah seperti bos." Ucap Brenda.
"tapi Frisya melakukannya kan karena kamu bersama dengan pria lain." Ucap Mami.
"Mami, siapapun dia jika seseorang itu memang sikapnya baik, dia akan tetap baik, apalagi pada seseorang yang memang dia cintai." Ucap Brenda.
"Mas Frisya begitu kasar, aku tidak bisa bersama pria seperti itu, lebih baik aku bersama Kai mami." Ucap Brenda
Frisya berada dibalik pintu mendengar ucapan Brenda, Frisya menitihkan air matanya. Kai melihat itu dari atas, seumur hidup Kai melihat Frisya sebagai sosok kakak yang sangat keras dan tidak pernah memperlihatkan sisi lemahnya namun kali ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa dia sangat rapuh.
30 menit kemudian Brenda dan mbak Naning selesai memasak dan segera memanggil semua orang datang ke meja makan.
Beberapa saat kemudian mereka berkumpul dan makan bersama.
"Hm, gimana rasanya ?" Ucap Brenda pada Kai.
"Hm, ini luar biasa aku tidak percaya jika kamu memasak sebaik ini Bren." Ucap Kai.
Brenda tersenyum mendengar pujian Kai. Kai melirik Frisya yang terlihat begitu tidak nyaman dengan kehadirannya.
"Mas Frisya, makanlah dengan banyak aku melihat mas sedikit pucat." Ucap Brenda.
__ADS_1
"Aku pucat karena aku pikir mungkin aku terlalu memikirkan mu." Ucap Frisya.
Brenda langsung terdiam tidak melanjutkan ucapannya.
"Mami, ayah, setelah makan kita duduk minum teh di ruang tengah yuk."Ajak Brenda.
"Baiklah, mungkin ada hal penting." Ucap ayah sambil tersenyum.
15 menit kemudian mereka menyelesaikan makannya dan duduk bersama. Brenda duduk diantara Frisya dan Kai dihadapan mami dan ayah. Suasana menjadi hening dan canggung.
"Apa hanya ayah disini yang merasakan kekakuan ini ?" Ucap ayah.
Brenda menyikut lengan Kai memberikan kode padanya.
"Ekhemm... ehmm..." Kai berdehem ria.
Semua orang menatap Kai yang bertingkah aneh. Terlihat beberapa kali Kai menghela nafas panjangnya.
"Tuan dan nyonya, mungkin anda sudah melihat saya disini berkali kali dan mungkin sudah tahu nama saya, tapi saya pikir kita belum berkenalan secara resmi," Ucap Kai.
"Perkenalkan nama saya Kai, saya putra semata wayang mendiang tuan Min Ho pemilik Akacorps, ayah saya adalah adik dari ayah angkat kak Frisya, jadi secara tidak langsung saya dan Frisya adalah kakak beradik." Jelas Kai.
Mami dan ayah membelalakkan matanya.
"Dan hari ini, selain itu saya juga ingin mengatakan jika sebenarnya saya dan Brenda sudah saling mengenal cukup lama dan saya berencana untuk melamarnya menjadi istri saya." Ucap Kai.
Seketika mata Frisya memerah.
"Tapi Brenda adalah milik Frisya nak." Ucap mami setelah tahu jika Kai masih adik dari Frisya.
"Brenda sudah menjalin hubungan dengan saya nyonya... Dan Brenda sudah meminta untuk saya segera melamarnya." Ucap Kai.
"Kamu bersungguh-sungguh Brenda ?" Tanya Ayah.
__ADS_1
Brenda tersenyum yakin sambil merangkul lengan Kai. Frisya menunduk dan mengusap air mata yang menetes di matanya. Beberapa saat kemudian Frisya memilih pergi.
Mami yang sangat menyayangi Frisya tidak tega melihat putranya seperti itu.
"Kai, kamu anak yang baik... Tapi maaf, tante tidak merestui hubungan kalian berdua Brenda hanya akan menikah dengan Frisya," Ucap mami Brenda seraya pergi meninggalkan mereka.
Kai hanya terdiam menatap Brenda.
"Apa lamaran ku ditolak ?" Ucap Kai dengan polosnya.
Brenda tidak bisa mengatakan apapun.
"Nak Kai, maaf tentang apa yang dikatakan mami Brenda, nanti kita bicara lagi ya. Ayah akan bicara pada mami." Ucap ayah menenangkan.
Ayah mengikuti mami pergi ke kamarnya.
"Atas alasan apa ? mengapa kau menolak pria yang jelas-jelas mencintai dan dicintai putri mu ?" Tanya Ayah.
"Bagaimana dengan Frisya jika Brenda menikah dengan Kai ?" Tanya mami sambil menangis.
"Lalu mau kamu bagaimana untuk Brenda ? kamu ingin kejadian seperti Gun Woo kembali terulang lagi ?" Ucap ayah .
Sejenak ingatan mami Brenda pergi pada ingatan dimana dia juga menentang hubungan Brenda dan Gun Woo yang berakhir dengan hal hal buruk.
Hati mami Brenda begitu pedih mengingat penderitaan putrinya dimasa lalu.
"Apa aku harus menyetujuinya yah ?" Tanya mami Brenda.
"Brenda juga berhak mendapatkan kebahagiaan tolong restui dia." Lanjut ayah.
"Bagaimana dengan Frisya, kita tidak bisa melupakan segalanya begitu saja." Ucap mami.
"Kita mengenal Frisya dengan baik, ayah percaya orang baik akan bertemu dengan orang baik, dia pasti akan segera bertemu gadis baik lainnya, jangan khawatirkan hal itu." Lanjutnya.
__ADS_1
Mami Brenda mengangguk tidak berdaya.