
"Jika kamu memang sangat mencintai Rama, ku berjanji akan melepaskan mu lagi.. tapi ku mohon sadarlah.. Jika sampai terjadi sesuatu, aku lebih memilih pergi bersama mu..." ucap Frisya menangis di samping Brenda.
Perlahakn Brenda mendengar suara tangisan yang membuatnya tersadar. Brenda mencari asal suara itu, ternyata dilihatnya mas Frisya nya tengah menangis, entah apa yang membuatnya menangis seperti itu. Brenda mengelus lembut kepala Frisya.
"Brenda... dek... kamu sadar ??" ucap Frisya sambil memeluk Brenda, hatinya terasa sangat lega melihat Brenda tersadar.
"Apakah aku tertidur selama itu ?? sampai sampai mas menangis seperti ini ??" tanya Brenda keheranan.
"Mas, takut kamu tidak akan pernah bangun lagi.." ucap Frisya sambil sedikit tertawa menutupi air matanya.
"Rama... ah, iya.. mas ?? bagaimana dengan Rama ?? " tanya Brenda
Frisya langsung terlihat pucat.
"Mas... Jangan bilang dia sudahh... " ucap Brenda mulai menangis mengingat Rama.
"Tidak.. tidak.. Rama baik baik saja, hanya masuh dalam perawatan dokter.." ucap Frisya sambil mengalihkan pandangan nya .
"Aku ingin menemuinya.." ucap Brenda sambil turun dari ranjang rumah sakit dan segera keluar mencari ruangan Rama.
Frisya terdiam menatap Brenda pergi berlari menuju ruangan Rama.
"Apa kau sungguh sungguh menyukainya dek ??" ucap Frisya seiring hilangnya Brenda dari pandangannya.
Beberapa saat kemudian Brenda menemukan tempat Rama dirawat. Dua orang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan Rama.
"Dokter bolehkah saya menjenguk Rama ??" tanya Brenda pada seorang dokter tanpa memperhatikan dengan jelas wajah si dokter
"Nona Brenda " ucap dokter itu.
"Dokter Andri ?? anda yang merawat Rama ??" tanya Brenda.
"Iya Nona.. Bagaimana kabar anda, lama kita tidak berjumpa.." ucap dokter Andri.
"Iya, sangat lama sekali.. tapi maaf dokter kita bisa membicarakan hal itu nanti, bagaimana kabar keadaan Rama sekarang ??" tanya Brenda tidak menggubris ucapan dokter Andri.
"Baiklah... tapi berjanjilah nanti untuk menemui ku..." ucap dokter Andri.
"Iya, aku akan menemui anda nanti... tolong katakan..." ucap Brenda.
"Dia mengalami Retak di lengan tangan sebelah kirinya, kakinya patah dan lebam di sekujur tubuhnya.." ucap dokter Andri.
"Mengapa dia belum sadar ??" tanya Brenda.
"entahlah kami hanya bisa mengusahakan yang terbaik untuk pasien." ucap dokter Andri.
__ADS_1
Frisya hanya bisa menatap dan mendengar percakapan Brenda dan Dokter Andri, Frisya berpikir jika Brenda sepertinya memang menyukai Rama, hatinya kalut.
"Bolehkah aku masuk ??" tanya Brenda
"Masuklah, aku masih harus melakukan pemeriksaan pada pasien lain." ucap dokter Andri.
Brenda langsung berlari masuk kedalam ruangan Rama.
"Ram .... Rama... Bangunlah... ku mohon bangunlah... " ucap Brenda sambil kepalanya tertunduk pada bahu Rama.
"Apa yang harus aku lakukan ??? bahkan aku masih belum puas menghajar mu saat aku melihat ini.." pikir Frisya.
Perlahan Rama terbangun, dia melihat Brenda berada di bahu tangan kanannya.
"Bren... Brenda... mengapa menangis ??" tanya Rama.
"Ramaa... terimakasih sudah bangun.." ucap Brenda sambil menangis.
"Apa kau pikir aku akan mati semudah ini ??" ucap Rama.
"Huhuhu, kau sungguh membuat ku ketakutan... aku takut jika aku harus kembali kehilangan orang yang aku sayangi.." ucap Brenda.
Rama tersenyum sambil merasakan sakit di sekujur tubuhnya, perlahan tatapannya melihat kearah sudut kamar.
"Yaa, ini aku.." ucap Frisya.
"Bren kamu bisa keluar dulu.." ucap Rama.
"Ada apa ?? mengapa aku harus keluar ??" tanya Brenda.
"Sebentar saja.. ku mohon.." ucap Rama
"Baiklah..." ucap Brenda dengan berat hati.
****
"Apa kau sungguh sungguh ingin membunuh ku Friz.." ucap Rama sekuat tenaga.
"Itu salah mu sendiri... Bagaimana bisa kau pergi bersenang senang dengan Brenda ku dengan menyamar." ucap Frisya.
"Aku hanya sedang membantu mu Fris.. Bagaimana kau bisa menyakiti ku seperti ini.." ucap Rama
"Membantu apa ??" tanya Frisya
"Aku sedang berusaha agar Brenda mau dan bisa bersama dengan mu.." ucap Rama
__ADS_1
"Lantas apa alasan mu, mengapa kau menyamar ?" tanya Frisya
Karena, jika kau tahu aku menemui Brenda kau tidak akan pernah menyetujuinya." ucap Rama
"Benarkah ? apa Debora sudah kemari ??" ucap Frisya mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah.. aku belum melihatnya.." ucap Rama
Frisya terdiam...
"Apa yang akan kau lakukan saat Brenda tahu yang membuat ku seperti ini adalah kau.." ucap Rama.
"Apa kau mengancam ku Ram..." ucap Frisya.
"Aku hanya ingin kau mendapatkan kebahagiaan mu Friss... Begitupun dengan orang lain disekitar mu" ucap Rama
"Tapi, bukankah Brenda menyukai mu ??" tanya Brenda.
"Darimana kau tahu ??" tanya Rama.
"Dia sangat takut kehilangan mu saat kau tidak sadarkan diri.." ucap Frisya.
"Dasar bodoh... Brenda itu pernah sekali kehilangan orang yang paling dia cintai, jadi pantas jika dia merasa trauma dan tidak ingin mengalaminya lagi.. haha begitu saja kau tidak peka Fris.." ucap Rama.
"Apa yang akan kau katakan pada Brenda.." ucap Frisya.
"Aku akan tetap menyatukan kalian, dan melepaskan Debora k..." ucapan Rama terhenti.
"Kau menyukai Brenda Ram ??" tanya Frisya.
"Apa aku benar ??" ucap Frisya
"Entahlah aku hanya tidak sanggup melihatnya tersiksa karena dirimu." ucap Rama.
*****
Di luar ruangan...
Brenda menunggu Frisya dan Rama yang tengah berbincang, dari kejauhan Brenda melihat langkah sesorang yang dia kenal.
"Nonaa Br Brenda..." ucap Debora..
"Debora ??" ucap Brenda.
********
__ADS_1