Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Mas Frisya II


__ADS_3

****Di jalan pulang ****


" Bren, kamu beli apaan tadi ??" ucap Mami.


"Ehm, entah mi apa namanya.. pokonya pasti bener deh gak salah."


"Emang tante tadi nyuruh Brenda beli apa aja te ??" tanya mas Frisya.


"cuman jahe, kunyit sama lengkuas kok Fris."


"Haah ??" ucap Mas Frisya sambil membungkam mulut nya hendak tertawa.


Mami menatap ku..


" Apa ?? kenapa ?? mami kok lihat aku gitu.."


"Bren, kamu beli apaan ?? sini mami lihat.."


Aku memberikan belanjaan ku pada mami.


"Yaa mpunn Brenda... kamu kok beli jinten, ini kunci, ini.. aduuhh kamu beli apaan sih gadusss..."


"Ih, mami kok gadus siih..."


"Iyaa, padahal cuman di titipin gitu aja gak bisa.." ucap mami.


"Salah ya mii.. sorry aku kan gak tahu mami.. kadi aku lupaaa dikit aja.."


" kamu ini... ini ntar gimana kalo udah nikah? bisa brabe ini mami.. dikirain gak ngajarin kamu.."


"Udahlah tante, ga papa kok.. aku udah maklum dan brenda juga gak perlu masak.. kan bisa memesan dan makan dimanapun Brenda inginkan"


"Tuh dengerin mas Frisya maaa.."


"Jadii ?? udah pasti nihh kalian nihh.. ayo dongg mami udah gak sabar nih gendong cucu.."


"Loh maaa mii... gak gituu.. haduhh.. salah tangkap dehh..kami masih gaadaa apa apa.. sumpah dehh !!" terang ku.


"Masih ga ada apa apa berarti masih banyak peluang buat ada apa apa dong.. " hahaha ucap mas Frisya sambil tertawa.


"Haduhh kalian kirain mami aja udah tinggal tentuin tanggal.." ucap mami.


"iih mami apaan sii.." ucap ku sambil menatap mas Frisya.


Mas Frisya hanya tersenyum balik menatap ku malu malu.


Sepanjang jalan, aku dan mas Frisya saling menggoda yang pasti akhirnya aku yang merengek karena sebal akan ledekan mas Frisya, sementara mami hanya bisa tersenyum sesekali sambil menggelengkan kepala melihat kami.


30 menit kemudian kami sampai rumah.. aku membantu mami memasak di dapur, setelah matang, aku langsung memanggil mas Frisya untuk sarapan karena Ayah dan Mami sudah menunggu di meja makan.


"Mass.. Mas... Mas Frisya... " tidak ada jawaban dari panggilan ku, lalu aku berniat masuk kamar mas Frisya, siapa tahu dia ketiduran dan aku hendak membangunkan nya.


Namun, tiba tiba dari belakang...


"Ngapain dek ??" ucap mas Frisya sambil memeluk ku dari belakang.


"Ah, gak ada cuman mau ngajakin sarapan.." jantung ku berdegub kencang.


"Oh, kirain kangen sama Mas."


"Hm.. gak lah.. " jawab ku singkat.


"Kenapa.?? padahal aku bisa denger degub jantung kamu loh.."


Aku langsung melepaskan pelukan mas Frisya.


"Maaf mas, tapi nanti ada yang harus aku bicarakan sama mas." ucap ku .


Aku dan mas Frisya berjalan menuju meja makan.


"Loh, om.. tante.. kok belum makan ?? udah sarapan aja dulu..."


"Hei Frisya kamu itu tamu kami.. mana mungkin bisa kami makan tanpa mu ??" ucap ayah.


"Iya nih mas Frisya ada ada bae, sini aku ambilin nasi buat semuanya.." ucap ku.

__ADS_1


"Udah bren, kamu ambilin mas Frisya aja, ayah apa kata mami." seru ayah.


"Hmm.. Baiklah.."


"Om, lain kali Frisya akan mentraktir om sama tante yaa.. kalian baik banget sama Frisya."


"Ini mas.." ucap ku sambil menyodorkan makanan dalam piring."


"itu ya harus le, kita harus lebih sering ketemu gitu..."


"Hadeuhh, ayok dimakan udah lapar nih aku.." ucap ku .


"Ni anak dari dulu kalo makan emang gabisa diganggu gugat." ucap mami menegur ku.


Aku hanya serius makan.


15 menit kemudian kami selesai sarapan pagi, dan selesai membersihkan piring kami pindah ke ruang keluarga.


Aku duduk di samping mas Frisya, dan fokus pada handphone ku, tanpa sadar mas Frisya menyenderkan kepalanya di bahu ku, sambil melirik handphone ku.


"Kenapa dek ??" ucap mas Frisya.


"Iniloh mas, kemarin scheduled mengerikan ku udah masuk.. lah ini kok ilang ?? dan Debora gak nge hubungin aku sama sekali sampai sesiang ini. apa ada yang terjadi yaa.." curhat ku pada mas Frisya.


"Udah, gausah di pikirin.. itu udah mas Frisya atasi semua.. mulai sekarang kamu gak perlu kencan buta, atau apalah itu. mas udah atasi semuanya." jelas mas Frisya.


"Beneran ?? kok bisa ??" ucap ku terheran heran.


"Perusahaan mas Frisya itu besar banget... hampir di semua perusahaan yang invest di Hoki Grup, ada saham punya Mas, dan Mas Frisya juga invest besar besaran disana, jadi kalo mereka masih gangguin kamu, ya.. mas bakalan tarik semua invest mas.


"Waaw, aku gak nyangka.. mas sekaya itu


yaa.." ucap ku keheranan.


***Di seberang tempat duduk kami.***


"Duh Ma, lihat mereka berdua sudah seperti pasangan yaa.." ucap Ayah.


"Ihh, Ayah mah telat.. Mami tadi malah lihat mereka kayak anak cowok ceweknya mami tauuk.. lucu banget." ucap mami.


"Duhh.. ayah ketinggalan dong... semoga aja mereka emang berjodoh yaa mi."


Aku samar samar mendengar ucapan mami dan ayah ku, langsung menyerobot.


"Ihh, mami sama ayah apaan siihh... kami gaada apa apa yaaa... yakan mas Frisya.."


"Ada Om tante, masih dikit cuman " ucap mas Frisya sambil nyolek lengan ku.


"Bagus.. baguss le.. om suka.. om merestui yaa.." Ayah dan mas Frisya berjabat tangan sambil berpelukan.


Setelah itu mereka semua tertawa bahagia, namun tiba tiba terdengar suara handphone berdering, mas Frisya pamit untuk mengangkat telfon.


Sementara mas Frisya masih bertelepon. ayah masih saja terus menggoda ku.


**Mas Frisya**


"Hm, benarkah gosip itu ?? aku akan menanyakannya langsung, ya mungkin aku akan pulang besok pagi."


***Ruang keluarga..***


Setelah mas Frisya masuk, ayah baru berhenti menggoda ku.


"Dek sepertinya nanti sore kita harus


segera...." tidak diteruskan karena diserobot ucapan ayah.


"Segera lamaran gitu.. hihihi" ucap ayah.


"Oh, om andai brenda memintanya pasti akan saya lakukan meskipun harus sekarang." ucap mas Frisya.


"Iih, godain akoo teroos.. " sebal ku.


"Ih gitu aja ngambekk.. gak dehh nunggu kamu mau beneran... " ucap mas Frisya.


"Tadi mau ngomong apaan mas ??"

__ADS_1


"Kita harus segera pulang... aku ada pekerjaan yang ga bisa di handle Rama."


"Owww... mamiii ayaahhh.. tolong cegahh aku.." huhuhu...


"Mami sama ayah sebenernya gak tega denger kamu di kota tanpa pasangan bren.. segera menikahlah biar kami gak kepikiran mulu."


"Bukannya di cegah malah di suruh nikah" sahut ku.


"Tentu dong kan mumpung jodoh udah di depan mata.." hehe ucap mas Frisya.


"Aku bisa gila nih.. yaudah aku mau siap siap dehh..."


"Siapin hati yaa Bren. " seru ayah.


"Gak taaaooooooo...." ucap ku sambil melenggang pergi.


Sekitar pukul 5 sore Aku dan mas Frisya bersiap pamitan pada Mami dan ayah.


"Mami, aku pergi dulu yakk... janji dehh bakalan sering berkunjung... "


"Ahh, kamu janji mulu gak beneran... sehat sehat ya nak bahagia selalu ." ucap mami.


"Ayaahh... doain aku bahagia selalu yaa... semoga selalu dalam lindungannya."


"Ammiinn..ammiinnn.. pasti genduk kecil ayah... Ayah kirain kamu mau nikah dulu disini trus pulang ke kota bawa suami."


"Iih ayah mahh mulai lagi dehh.."


"Ya dehh gakk.. gakk." seraya mengecup kening ku.


"Hati hati ya Fris, jaga anak tante."


"Pasti tante, Frisya bakalan jagain si kecil dengan baik.. " hehe ucap mas Frisya.


"Apaan siih si keciill.." gerutu ku.


"Le, jujur Om harap kamu akan jadi mantu om ya le..."


"Saya juga begitu mengharap Om jadi ayah mertua saya om." ucap ayah dan mas Frisya seraya sambil berpelukan.


"Astagaa... apa apaan merekaa sii.. udah yuk mas mumpung belum gelap loo..."


Kami pun menikmati perjalanan pulang kami, aku memfoto jalan setapak yang menurut ku tidak ku temukan di kota.



"Indah deh mas " ucap ku.


"Iya, indah kek kamu.." ucap mas Frisya.


"Udah dehh ini udah jalan pulang.. ganti topik yukk.." sahut ku.


"Ehm, ganti topik yaa.."


"Iyakk.. tanya aku apa aja pasti aku jawab." ucap ku.


"Oke, jawab jujur... benar kah kalo beberapa pria yang berkencan dengan mu tempo hari pergi karena kiss mark itu ??"


Aku terkejut ,Aku terdiam tidak menjawab.


"Sepertinya memang benar yaa.." sahut mas Frisya.


Aku masih terdiam, tidak tahu harus berkata apa.


"Baiklah pertanyaan yang lain... Lalu ?? siapa Seung Gun Woo itu ?? Apa hubungan mu dengannya."


"Darimana mas tahu tentang Gun woo ??"


"Aku bisa tahu apapun, yang ingin ku ketahui brenda..."


"Itu... Gun Woo... sebenarnya dia...diaa..itu.. em.. dia itu kekasih ku " ucap ku jujur.


Ku pikir lebih baik dia mendengar langsung dari ku sebelum Rama yang mengatakan padanya.


"Apakah kau berniat ingin menikah dengan nya ??" ucap nya.

__ADS_1


"Entahlah aku masih menunggu nya pergi ke L.A. untuk bisnisnya."


Mas Frisya tiba tiba menghentikan mobilnya dan memukul keras ke arah stang, tampak jelas raut wajah kecewa di wajahnya, namun dia tidak mengucapkan apapun.


__ADS_2