
"Hentikann... Seperti anak kecil saja." seru ku tak tahan melihat mereka berdua dan tangan ku yang kesakitan."
"Biar aku yang mengantarkannya." Mas Frisya langsung merangkul dan mendorong ku berjalan keluar ruang meeting.
"Hai, kau tidak bisa memperlakukan Nona Brenda seperti itu..."
Ucapan Vilgar tidak di gubris oleh mas Frisya.
"Mas Frisya, bisa tidak kamu pelan menyentuh tangan ku, ini beneran sakit." keluh ku pada mas Frisya.
Mendengar aku memanggil Frisya dengan sebutan "Mas" itu membuat langkah Kak Vilgar terhenti.
"Perlukah aku menggendong mu dek ??" tanya mas Frisya
"Ga usah sok perhatian dehh.. ntar malah ditinggalin di pinggir jalan aja loh yaa.." gerutu ku.
"Bisakah kau memaafkan ku Brenda.." mas Frisya meminta maaf sambil menyentuh tangan ku.
"Bisakah kau minta maaf sejak tadi pagi tanpa meremas pergelangan tangan ku mas Frisya ??" balas ku.
"Maaf, aku.. aku.. sangat khawatir pada mu.. jadi aku..."
"Hadeuh, sudahlah.. jika kau khawatir, kau tidak akan meninggalkan gadis tinggal sendiri di jalanan saat larut malam."
"Aku tidak sepenuhnya meninggalkan mu sendirian Brenda.. Aku sudah meminta seseorang untuk menjemput mu."
"Lantas ??? mengapa aku tidak melihat batang hidungnya ??"
"Dia menunggu mu didepan Cafe, dia melihat mu masih asik dengan makanan mu, beberapa saat kemudian dia melihat mu menghilang, kemudian dia melihat mu kembali di meja mu, namun sayang dia harus ke toilet dan mendapati mu sudah tidak ada disana, bahkan dia mencari mu didalam cafe, namun tidak menemukan mu, mendengar itu... membuatku merasa sangat frustasi."
"Beruntung saja aku bertemu kak Vilgar... dia mengantarku pulang dengan selamat dan tidak kedinginan."
" Aku sangat mengkhawatirkan mu Brenda, maafkan aku."
"Hadeuhh jika ka memang mengkhawatirkan ku, mengapa tidak datang saja kerumah.. lihat sendiri keadaan ku, bukan malah marah marah dan meremas pergelangan tangan ku begini."
"Apakah sangat sakit.."
"Heii, Mass.. lihat tangan mu sebesar dan sekuat itu, sedang tangan ku kecil begini.. untung gak remuk."
"Sini biar aku bertanggung jawab atas ini.." dia menarik tangan ku yang memar dengan lembut dan meletakkannya di dadanya yang bidang..
"Aduuh kanakk... hangatt... " pekik ku dalam hati.
"Tangan mu mengapa tiba tiba terasa sangat dingin dek.. sabar yaa.. sebentar lagi kita sudah sampai."
Aku tidak menjawabnya. beberapa saat kemudian kami sampai.
"ayo biar ku gendong kamu dek."
__ADS_1
"Gendong ?? Hallo... yang sakit ini pergelangan tangan ku bukan kaki ku kale mas Frisya."
"Iya si, gemes aja gitu lihat kamu jalannya pelan banget."
Aku hanya menggelengkan kepala.
Dokter pun datang dan hendak memeriksa ku yang ternyata adalah dokter Sadid.
"Brendaa..." ucap kak Sadid saat pertama kali melihat ku lagi. raut wajahnya cemas melihat ku sebagai pasien yang akan diperiksa oleh nya.
"Kaaaak Sadiiiiid...." jawab ku dengan suara manja seperti adik pada kakaknya.
"Apa yang terjadi padamu... kamu sakit apa?? mana yang sakit biar kakak obati."
"Disini.. " sambil menepuk bahu .
Mas Frisya melongo melihat tingkah ku.
"Bukankah yang sakit pergelangan tangan nya, tapi sekarang kok bahunya?" tanya Mas Frisya dalam hati.
"Kamu kok bisa sampai bahunya sakit kena apa ??" tanya Kak Sadid.
"Sakit.. sakitt kangenn sama kamu kak.. hihihi peluukk.. " seru ku.
Sontak saja Sadid yang memang sangat mencintai Brenda, langsung memeluk Brenda dengan hangat.
"Ah, tuan.. maaf.. Brenda sudah seperti adik saya sendiri ( mengucap pada Mas Frisya). Sudah yaa Brenda.. kamu seharusnya sudah cukup dewasa untuk menjalani semua masalah mu, hari berat mu pasti akan segera berlalu.."
"Terimakasih... datanglah berkunjung saat kau tidak sibuk..."
"Ya.. aku dan istri ku akan segera berkunjung saat kami ada kesempatan."
"Istri ?? Kamu sudah beristri ?? Astaga.. bahkan aku tidak diundang saat pernikahan mu kak sadid ??"
"Maafkan aku Brenda.. saat itu aku pergi ke luar negeri, aku sangat frustasi karena dirimu, suatu ketika aku bertemu monica.. hanya dia yang bisa mengerti aku.. aku merasa sangat berterimakasih akan kehadiranya dalam hidup ku, hingga akhirnya aku menikahinya."
"Maafkan aku yang sudah sangat menyakiti mu dimasa lalu kak, tapi aku bahagia kini kau sudah bahagia dan bahkan, aku memiliki kakak perempuan... kumohon bawalah dia kepada ku, aku sangat ingin bertemu dengannya."
"Tentu.. jadi mana yang sakit..tolong jawab dengan sungguh sungguh.." ucap kak sadid sambil tersenyum.
"Ini.. " sambil menunjukan pergelangan tangan kanan ku yang memar.
"Astaga, bagaimana bisa begini.. ini bukan hanya memar tapi juga terkilir... tunggu akan aku ambil obatnya."
"Bukankah ini lelaki yang lamarannya Brenda tolak beberapa bulan yang lalu ... Astaga.. bahkan dia masih saja menyukai wanita ini." ucap Mas Frisya dalam hati.
"Ini obatnya.. kembalilah jika dalam 3 hari memarnya belum hilang."
"Baik kak terimakasih.."
__ADS_1
"Brenda.. Hiduplah dengan Bahagia, kebahagiaan mu adalah kebahagiaan semua orang."
"Termasuk kakak gitu.. hehe.. yaudah yaa.. aku balik dulu.. bye kak Sadid."
"Bye Bren."
Aku dan Mas Frisya kembali menuju mobil dan Mas Frisya langsung mengantar ku pulang. 10 kemudian kami sampai di rumah ku.
"Masuk dulu yuk.."
"Apa tidak apa apa Bren ?"
"Ya, ga papa .. "
"Silahkan duduk.. bik Sari lagi ga ada dirumah, dia lagi pulang lagi nengokin cucu sama anaknya."
Aku ke dapur dan mengambil jus mangga dan ku berikan pada Mas Frisya.
"Minum dulu Auss kann ??" ucap ku seraya memberikan segelas minuman.
"Duduk sini dek di samping mas.." sahut Mas Frisya.
"Ada apaan mass ??" tanya ku singkat.
"Apakah kau kecewa dengan tindakan ku semalam??" ucap nya sambil mengelus rambut ku.
"Tentu saja aku kecewa, aku tidak habis pikir bagaimana bisa seorang Lelaki dewasa meninggalkan seorang gadis sendirian di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya.." jelas .
"Maafkan aku, aku hanya sangat Frustasi mendengar penjelasan mu, mungkin aku sudah berharap banyak."
"Mas Frisya, ku harap kamu tidak terlalu banyak berharap kepada ku. Aku adalah orang yang cukup konsisten pada ucapan ku sendiri, jadi aku tidak akan meninggalkan Gun Woo, sebab aku sudah berjanji padanya, dan aku juga mencintai nya." terang ku.
"Apa rencana kalian kedepannya ??"
"Aku akan menunggu Gun Woo pulang dalam beberapa bulan lagi, dan kami akan segera bertunangan... tidak lama kemudian kami akan menikah."
"Menikah ?? secepat itu??"
"Kami sudah cukup lama menjalin hubungan Mas Frisya, aku merasa lebih baik jika aku segera menikah."
"Baiklah... sepertinya itu keputusan terakhir mu..."
"Tolong jangan pergi dari hidup ku... tetaplah menjadi orang orang baik di sekitar ku Mas Frisya." seraya aku memegang tangan mas Frisya yang hendak beranjak.
"Amat beruntung dia yang mendapatkan mu Brenda.. Aku pergi dulu.."
"Aku menyayangi mu mas Frisya, hati hati dijalan... bye bye... " ucap ku seraya melambaikan tangan.
Frisya membalas lambaian tangan ku dengan senyum manis nya.
__ADS_1