
Siang harinya...
"Mas... kamu gak boleh pergi pergi lagi yaa... ntaran aja pas udah nikah baru kita pulang bareng.. " ucap Brenda
"Iya... Mas janji.. " ucap Frisya
"Oh iya dek, kamu pilih pilih gaunnya dimana ? " tanya Frisya
"Disini aja deh.. " ucap Brenda
"Disini kan tidak ada butik.. " ucap Frisya
"Kita bisa buat disini kok mas.. " ucap Brenda
"Siapa yang buat ?" tanya Frisya
"Itu, Ibu panti... jahitannya rapi banget.. " ucap Brenda
" Benarkah ?" tanya Frisya
"Kamu lupa ?? Ibu panti kan dari dulu yang bikin baju buat anak anak panti ... " ucap Brenda
"Ah, ya kamu benar.. " ucap Frisya terlihat tidak tertarik dengan topik pembicaraan.
"Mas, aku salah ngomong.. " tanya Brenda.
"Gak.. ga kok.. " ucap Frisya
"Mas cuman kesal saja... " ucap Frisya
"Kesal ?? kenapa ?" tanya Brenda
"Mengapa nasib membawa mas sampai jadi seorang yatim piatu.." ucap Frisya
"Memang kenapa ?" tanya Brenda
"Ya.. andai aku bukan seorang yatim piatu pasti akan lebih mudah mendapatkan mu, mungkin aku tidak perlu berjuang hingga selama ini.. " ucap Frisya menunduk.
"Mas... Aku malah menikmati semua proses panjang ini, terimakasih sudah terus bersama dengan ku.. " ucap Brenda sambil mencium pipi Frisya.
"Kamu gak menyesal sudah bersama ku ?" tanya Frisya
__ADS_1
"Apa yang harus aku sesalkan ? aku mencintai mu, semua orang punya masa lalu.. " ucap Brenda
"Mas beruntung memiliki kamu dan Kai.. " ucap Frisya
" Kai yang menyebalkan itu ?" tanya Brenda
"Iya, kamu tahu... mas mu ada disini sekarang ini karena bantuannya.. " ucap Frisya
"Benarkah ? ahahaha, rupanya dia sungguh sungguh saat itu, padahal aku menertawakan dirinya karena ku pikir mana mungkin dia membantu mas, sedang pekerjaannya hanya menari haha.. " ucap Brenda
"Kau belum mengenali Kai dengan baik, kau tahu... dia bisa mendapatkan apapun di dunia ini dengan mudah tapi sejak kecil, dia adalah seseorang yang menyukai proses, dia tidak menyukai hal yang instan, maka dari itu dia memilih menjadi Idol, agar memiliki banyak saingan dan menjadi sesuatu atas kemampuannya sendiri, tanpa tahu siapa ayahnya." ucap Frisya.
"Benarkah... pantas saja dia begitu kemarin saat aku mentertawakannya. " ucap Brenda
"Banyak kejutan dalam diri Kai, padahal dia hanya melakukan sesuatu untuk ku, namun itu benar benar beimbas besar.. " ucap Frisya dengan mata berbicara lebih banyak tentang Kai.
" Idih.. ternyata disini ada fansnya Kai ya.. haha.. " ucap Brenda cekikikan.
"Hm.. yaa terserah kamulah dek.. " ucap Frisya
"Frisya, besok kamu sama Brenda cari gedung deket deket sini ya.. " ucap Mami
"Ya, kalian berdua yang urus yaa.. kan kalian yang mau nikah.. " ucap Mami
Brenda langsung terdiam, pikirannya menerawang jauh kebelakang dimana saat hari itu dia juga melakukan hal ini bersama dengan Gun Woo.
Brenda sejenak tenggelam dalam pikirannya, hatinya rasanya sangat pedih, Brenda memejamkan matanya sejenak.
"Tuhan... jika Gun Woo bukan jodoh ku, biarkan aku hidup bahagia dengan dia yang ku pilih sekarang, namun jika Gun Woo jodoh ku, satukan kami di kehidupan yang akan datang. " ucap Brenda sebelum kembali membuka matanya.
"Dek... Brenda.... " ucap Frisya sambil memegang wajah Brenda yang sedari tadi melamun.
"Ah, iya... ada apa ??" tanya Brenda
"Kok ada apa ?? Kamu ituloh daritadi melamun apa ? mas dari tadi panggil panggil gak di gubris.. " ucap Frisya
"Hm.. maaf, aku baru saja tenggelam dalam kenangan .. " ucap Brenda jujur.
"Kenangan apa hingga membuat mu mengacuhkan mas... " ucap Frisya
"Maafkan aku... Bagaimana pun aku pernah melakukan hal ini dengan Gun Woo... " ucap Brenda menunduk sedih.
__ADS_1
"Aku juga pernah melakukannya apa aku harus mengingatnya ? " tanya Frisya dingin.
"Kau tidak mungkin melakukannya... " ucap Brenda terkekeh.
"Mengapa begitu ? " tanya Frisya.
"Iya, karena kau tidak menyukai Debora sama sekali, haha.. " ucap Brenda.
"Bagaimana kau bisa tahu ?" tanya Frisya
" Tentu, kau mengatakannya berkali kali pada ku.. " ucap Brenda sambil tersenyum manja pada Frisya.
"Astaga... Bagaimana aku bisa kesal padamu saat kamu bisa tersenyum semanis ini.. " ucap Frisya.
"Hahaha, dasar tukang gombal.. " ucap Brenda.
*****
2 minggu kemudian...
Gaun pengantin sudah hampir selesai, gedung juga sudah beres, berkas berkas pernikahan juga sudah rampung, undangan juga sudah mulai di sebar.
Kehidupan Brenda benar benar terasa sangat sempurna dan bahagia, perhatian dari Frisya yang tidak pernah surut membuat Brenda semakin mencintai Frisya.
Frisya pun tidak pernah menunjukkan sisi gelapnya, atau mungkin sudah lenyap terkikis rasa cinta dari Brenda yang bertubi tubi dia rasakan.
****
Rumah Kai.
"Aku akan jadi manusia paling bahagia dihari itu.. " ucap Kai namun dengan ekspresi wajah sebaliknya.
"Apa kau akan hadir ? " tanya Ayah Kai.
"Tentu, aku sudah berjanji padanya.. " ucap Kai.
" Nak, jika dia memang jodoh mu, dia tidak akan pergi kemana mana, dia akan tetap berada disisi mu.. " ucap Ayah Kai.
"Terimakasih ayah, aku lebih tenang setelah mendengar ucapan Ayah.. " ucap Kai.
*****
__ADS_1