Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Ada apa dengan 23 thn lalu ?


__ADS_3

Keesokan harinya...


"Dek.. bangun yuk, udah pagi nih.." ucap Frisya.


"Adek ngantuk... males mo bangun.." ucap Frisya


"Kita sekalian jalan jalan, menghirup udara segar.." ucap Frisya.


"Enggak, diluar dingin.." ucap Brenda.


******


Tempat Ayah dirawat...


"Yah, kita menginap sehari lagi aja ya..." ucap mami.


"Ah, ayah benci bau rumah sakit.." ucap Ayah.


"Nggak, bukan dirumah sakit..." ucap mami


"Dimana ?" tanya Ayah..


"Inikan dekat dengan rumah kita yang lama yah... kita bisa tinggal disana untuk beberapa hari.." ucap mami.


"Loh, ini... Astaga, Ayah lupa.. baiklah ayah setuju dengan ide mu mami " ucap Ayah.


Setelah menyelesaikan administrasi Ayah dan mami segera pergi meninggalkan rumah sakit dan segera pergi menuju rumah lama mereka yang dekat dengan panti.


Saat pertama kali sampai dirumah dan masuk ke dalam, ingatan mami seperti memasuki lorong waktu, tepatnya 23 Tahun yang lalu.


Mami tidak bisa mengingat dengan jelas, apa yang terjadi pada hari itu, tapi yang diingat mami adalah saat dimana mami menjemput Brenda sekolah lalu dititipkan di tempat ayah bekerja, dan segera pulang mengemasi pakaian dan menutupi semua properti rumah seperti sofa dll, dan segera pergi meninggalkan rumah.


Mami mulai membersihkan rumah yang penuh debu itu dan segera meminta ayah untuk beristirahat..


Mami mulai menelpon Brenda untuk memberitahu keadaan ayahnya, dan meminta Brenda dan Frisya untuk menemani mami dan ayahnya.


"Ayah sakit apa mi, kok sampek harus di observasi beberapa hari ?" tanya Brenda


"Ayahmu kelelahan, hipertensi dan jantungnya juga sedikit bermasalah.." ucap mami sedih.


"Mi, Brenda akan segera datang, mami tenang ya.. nanti Brenda kabari lagi.." ucap Brenda.


"Iya nak... mami juga gak apa apa kok kamu jangan panik.." ucap mami.

__ADS_1


"Iya mi.." ucap Brenda sambil menitihkan air mata.


Disisi lain saat Brenda bertelepon dengan Maminya, saat itu juga Frisya sedang menerima telepon penting dari Rama.


Brenda berjalan untuk mencari Frisya, dan menemukannya ekspresi wajah Frisya, dengan sisi lainnya, dia seperti pembunuh berdarah dingin.


"Haahh ~~ Pak tua itu berani beraninya dia mengusik ku.." ucap Frisya dingin .


"Aku tidak bisa berbuat apapun Fris, dia memaksa masuk ke dalam ruangan mu.." ucap Rama.


"Apa yang dia cari ?" tanya Frisya


"Entahlah, aku ditahan para pengawalnya.." ucap Rama.


"Baiklah, sepertinya aku memang harus menemuinya... sudah terlalu lama aku menghindarinya, itu pasti membuatnya besar kepala " ucap Frisya membuat Brenda gemetaran saat mendengar suara Frisya seperti seekor singa yang diusik saat lapar laparnya.


Beberapa saat kemudian, Frisya menyelesaikan teleponnya dan berbalik.


"Loh dek kamu disini ?" tanya Frisya


Ah, iya... itu Ayah keadaannya belum membaik mas jadi mami meminta kita untuk pergi kesana." ucap Brenda


"Dek.. bukan maksud mas gak mau pergi kesana, tapi mas ada sedikit masalah.. ada seseorang yang mengganggu apa yang sudah mas bangun selama ini.." ucap Frisya serius.


"Kamu sangat pengertian, mas semakin sayang sama kamu.. " ucap Frisya


"Terimakasih.. ayo sekarang kita berkemas, kamu juga harus segera pergi.." ucap Brenda


Beberapa saat kemudian mereka pun sudah siap, mobil Brenda juga sudah tiba.


"Mas, hati hati dijalan ya sayang " ucap Brenda sambil memeluk Frisya.


"Kamu juga... sudah kamu berangkat dulu, mas berangkat setelah kamu.." ucap Frisya


"Baiklah.. " ucap Brenda sambil masuk ke dalam mobil.


Dalam mobil Brenda melihat ke arah Frisya, Frisya pun balik melambaikan tangannya.


"Dia seperti seseorang yang memiliki banyak wajah.. " ucap Brenda sambil melajukan mobilnya.


Tak lama kemudian Frisya juga masuk ke dalam mobilnya dan segera memacunya di belakang mobil Brenda.


Di persimpangan jalan mereka berpisah karena Brenda harus mengambil arah berlawanan dengan Frisya.

__ADS_1


Setelah berpisah di persimpangan Frisya segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya membuatnya harus segera sampai untuk memberi pelajaran kepada mereka yang berani mengusik apa yang sudah dibangunnya.


2 jam kemudian Brenda sampai.


Brenda keluar dari mobil dan mematung, karena setelah bertahun tahun baru kali ini dia kembali menginjakkan kakinya kembali disini.


Otak Brenda seperti memutar klise klise dimana dia seperti bermain dengan seorang anak perempuan kecil, entah siapa itu.


"Aku rasa aku tidak memiliki teman perempuan saat masih kecil " ucap Brenda


Seingat Brenda dia adalah seorang gadis yang lebih senang bermain dengan anak lelaki daripada anak perempuan.


"Mungkin aku merasa lelah, aku harus segera masuk dan melihat keadaan ayah " ucap Brenda.


"Mami.. aku datang " ucap Brenda.


"Brenda, loh mas mu mana kok gak masuk ? " tanya Mami.


"Maaf mi, mas Frisya bilang ada yang harus dia selesaikan, jadi dia akan menyusul kemari.." ucap Brenda


"Sayang sekali... dia pasti lelah harus kesana kemari.." ucap mami.


"Gimana keadaan Ayah ? " tanya Brenda sambil menggenggam tangan ayahnya.


"Ayah seharusnya masih di rawat inap, tapi dia memaksa pulang, jadi daripada pulang kesana kita perlu 2 jam perjalanan tapi dari sini kita hanya butuh 15 menit " ucap Mami


"Mami, memang yang terbaik... Brenda pikir rumah ini sudah di jual.." ucap Brenda


"Hm... tidak saat itu.. tidak jelas juga bagaimana keadaannya, yang pasti mami langsung membereskan segalanya dan pergi dengan terburu buru." ucap mami.


"Brenda jadi kangen sama ibu panti... "ucap Brenda


"Kamu berkunjung saja Brenda.. pasti dia merindukan mu.." ucap Mami.


"Iya, tapi apa ayah baik baik saja ?" tanya Brenda


"Iya, pasti nanti saat kamu kembali ayah sudah terbangun. " ucap Mami.


"Baiklah... Brenda pergi dulu ya mi.." ucap Brenda.


"Bye sayang, have fun.." ucap mami.


******

__ADS_1


__ADS_2