
Beberapa menit kemudian ayah dan mami pergi. Mas Frisya mendekati ku dan mengelus rambut ku.
"Terimakasih sudah jujur, aku akan memikirkannya apakah aku masih akan maju atau akan mundur saja."
Aku memeluk tubuh mas Frisya...
"Masuk yuk.. ga enak dilihat orang."
"heem.." jawab ku.
Kami kembali duduk di sofa sambil melihat acara tv. Mas Frisya menggenggam erat tangan ku.
Wajah mas Frisya nampak sangat serius.
"Mas.. kamu ga papa kan ??" tanya ku.
"Hmm.. iya mas ga papa.. mas rasa ada yang perlu mas selesaikan.. mas akan keluar sebentar.. kamu ga papa kan mas tinggalin bentar.." ucap mas Frisya.
"Mas.. jangan dongg.. aku takut dirumah sendirian.." ucap ku sambil memegang lengan mas Frisya.
"Kamu terlalu manja pada ku Brenda.. bagaimana bisa aku pergi jika kau masih seperti ini..."
"Baiklah.. pergilah.. aku akan tidur di kamar aja..." ucap ku sambil melangkah pergi.
"Brend, gak gitu maksudnya.."
"Iya mas.. aku ngerti... hati hati ya.."
Mas Frisya tidak menjawab ku, dia diam dan berlalu.. dan pergi mengendarai mobil nya, kemudian berhenti di pinggir jalan.
Mas Frisya menghubungi Rama.
"Halo Ram.. gimana ?? udah kau urus perusahaan ayahnya gun woo ??"
"Sudah.. aku juga sudah memberi syaratnya dan dia juga sudah setuju.. Dia akan segera bicara dengan gun woo itu.."
"Benarkah ?? mengapa kau tidak mengabari ku ??"
"Itu karena.. aku masih belum yakin dengan hasilnya.. maka aku masih diam."
"Baiklah.. kau urus itu dengan baik." ucap Frisya sambil mematikan teleponnya.
Rama sungguh tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh bossnya, jika sampai gun woo itu tidak mundur.
***Dalam perjalanan Mami & Ayah***
"Yah.. bagaimana ini ?? Bagaimana kita bisa menghadapi Frisya yah .. dia anak yang sangat baik.."
"Ayah juga gak habis pikit mii... dia sudah menyukai orang lain.. ayah pikir dia tidak pernah memiliki waktu untuk berpacaran." keluh ayahnya.
"Apa kita harus bicara yang sejujur nya saja ya yah ??" ucap Mami..
"Jika tidak ada pilihan lain.. ayah juga udah sreg banget sama Frisya... sudah lama ayah ngarep dia jadi mantu ayah.."
"Betul banget yah... semoga kenyataan ini mampu membuat Brenda mau menikah dengan Friss."
"kita harus mencobanya.."
__ADS_1
"Iya ayah benar."
***Di kediaman Brenda ****
30 menit kemudian mas Frisya pulang sambil membawa sebuah boneka bantal dengan foto kami berdua tercetak di atasnya.
"Aku pulang... dekk.. Brenda ???" panggil mas Frisya.
Mas Frisya melihat ku yang tertidur di kamar mas Frisya.
"Loh kok tidur disini sih.. kok gak di kamar kamu dek ??" tanya mas Frisya
Aku diam tidak menjawab pura pura untuk tidak mendengar.
"Dekk... kamu beneran tidur ?? " ucap mas Frisya sambil menyilakan rambut ku dan menciumi leher ku..
"Aahh, mas Frisya berhenti... geli tauu.. " ucap ku cekikikan menahan geli.
"Kalo kamu suami mas mas bakalan bikin kamu makin geli terus dek.."
"Iih, siapa juga.. yang mauu.. haha... mas Frisya menggelitiki ku hingga akhirnya aku naik diatas tubuh mas Frisya.
Aku **** tubuh mas Frisya yang gagah.. "Mas... kalo aku sampai nikah sama gun woo kamu nikah sama siapa dong ??"
"Ya, kalo kamu mau.. kamu juga nikah aja sama aku.." ucap mas Frisya.
"Tuh kan gilanya keumat dehh, poliandri itu gak boleh mas..." ucap ku.
" Datanglah pada ku... aku bahkan sudah tidak bisa berpikir dengan benar." ucap mas Frisya.
Kami berciuman dengan panas dan lama..
"Gadis nakal... dia bilang mencintai kekasihnya tapi dia enak enakan sama Friss... ntar kalo dia sampai hamil dengan Friss dan menikah dengan lelaki lain bagaimana ini.. bisa gawat" ucap mami saat melihat kami di kamar mas Frisya.
"Dek.. Udah yaa.. kamu keluar.. mas mau istirahat.." ucap Mas Frisya.
"Biarin aku disini mas.. aku pengen istirahat sama kamu.."
Mami Brenda yang mendengar ucapan ku makin gak mengerti dengan anak gadisnya.
"Brenda.. Friss... keluar kalian.." ucap mami.
Aku dan Mas Frisya terperanjat kaget mendengar suara mami dan pintu kamar yang tidak tertutup rapat.
Kami pun keluar dengan perasaan kacau..
"Mami.. kapan pulang ?? kok aku gak denger..." ucap ku.
"Dudukk... kamu juga Friss duduk..." ucap mami tegas.
"Apa yang terjadi dengan kalian... kamu Friss.. bagaimana kamu bisa bisanya mau di permainkan gadis kecil ini.." mami menunjuk pada ku.
"Mami, mami ngomong apaan sih.. siapa yang mainin mas Frisya.. ???" tanya ku.
"Dua kali... Dua kali sudah mami lihat kamu, melakukan hal yang tidak senonoh pada Frisya..." ucap mami
"Kapan sih mii.. mami kok tega banget bilang gitu ke aku.." aku mulai menangis.
__ADS_1
"Kemarin, di depan televisi.. kamu ngapain ??? haahh ??? barusan ??? kamu ngapain ??? " ucap mami meninggikan suara nya.
"Mami aku bisa jelasin..jangan marah marah begini.." ucap ku.
"Kemarin saat melihat kamu melakukan itu pada Friss mami pikir itu karena kalian sepasang kekasih.. tapi ternyata bukan, dan bahkan kamu akan menikahi lelaki lain... harga dirimu dimana Brenda... ????" ucap mami sambil sebuah tamparan keras mendarat di pipi ku.
"Tante.. hentikan, Frisya yang bikin brenda melakukannya.. jangan terlalu keras pada Brenda.. friss mohon." bela mas Frisya.
Ayah yang saat pulang tadi masih Berbincang dengan tetangga baru pulang saat mendengar suara mami sedikit menjerit.
"Loh.. loh.. lohh.. mi.. kenapa.. Brenda ?? kamu kok nangis.. Friss kenapa ???" tanya Ayah kebingungan.
"Katakan yang sebenernya sama gadismu ini yah.. dia harus menikah dengan Frisya apapun alasannya." tegas mami.
"Om.. tante.. tidak usah begini... sudah cukup.. jangan menyakiti Brenda.."
Mami pergi ke kamar mami dan ayah dan beberapa saat kemudian keluar dengan banyak album foto.
"Kau.. gadis nakal.. lihat ini.. lihat satu per satu.. pahami tiap foto." ucap mami.
"Sudah mi, duduklah terlebih dahulu biar ayah yang bilang.." ucap ayah menenangkan mami.
Aku melihat satu persatu album foto di atas meja. Aku melihat seorang lelaki mirip dengan Mas Frisya namun terlihat masih belia sekali, mungkin saat itu berumur 19 tahun. dia berfoto dengan Ayah dan mami...
Foto kedua... aku melihat beberapa foto saat mereka merayakan hari raya bersama sama, masih dengan anak lelaki itu.
Foto selanjutnya.. dia seperti sedang belajar, mami membawakan nya segelas susu.
Foto selanjutnya... Dia mulai mengenakan jas, dan foto berempat dengan seorang lelaki yang sudah tua.
Foto selanjutnya, aku melihat Foto anak lelaki mirip mas Frisya tadi menangis tersedu sedu.
Aku mengambil Album foto yang lain...Alangkah kagetnya aku, saat melihat foto Ayah ku terlelap dengan banyak alat bantu medis yang melekat pada tubuh nya.
Kepalanya di perban, matanya terlelap.. aku tidak tega melihat foto ini..
Selanjutnya, Foto mami menangis di pelukan anak lelaki itu..
Aku tidak sanggup untuk menahan tangis ku melihat semua album foto ini.
"Kenapa kamu menangis... ?? Apa kamu tidak bertanya... mengapa yang tidak ada hanya foto kamu, padahal kau putri kami." ucap mami.
"Siapa lelaki kecil ini ?? apakah kamu mas Frisya ??" tanya ku.
"Brenda.. Bagi kami, Frisya adalah anak kami.. anak lelaki kami."
"Om.. sudahlah.." ucap mas Frisya.
"Berhenti memanggil kami begitu nakk..aku kangen dipanggil mami sama kamu Friss.." ucap mami sambil memeluk mas Frisya.
Frisya tidak tahu, bagaimana semuanya bisa kacau sepeti ini.
"Dulu.. kamu ingat saat kamu berumur 19 tahun ?? saat kamu baru saja merintis usaha mu ?? Keuangan mu belum stabil seperti sekarang... Ayah mu sakit Brenda.. ayah mu terkena pembekuan darah di otak, dan membutuhkan biaya miliaran untuk operasinya, untuk perawatannya, dan segala macam obat obatannya, belum lagi ayah mu harus di operasi sampai 5 kali karena darah di otaknya mudah sekali membeku, dokter sampai bingung di buatnya.... dimana kamu saat itu ?? Kami sempat memberi tahu dirimu, tapi kamu tidak meresponnya... mami hampir Frustasi... tapi kemudian.. Frisya mencari kami.. dia bagaikan anak kami yang hilang, dia ada.. dia siap kapan pun kami membutuhkannya, entah itu uang, entah itu dukungan moril, bersama dengan ayahnya mereka seperti malaikat.. hingga ayah mu bisa sehat seperti sekarang ini.. kau kira hal baik yang selalu datang pada mami dan ayah mu.. Frisya selalu datang mengunjungi kami.. dia selalu memperhatikan kami.. mungkin uang miliaran yang pernah Frisya keluarkan untuk kami bisa kau ganti... tapi waktu dan umur ayahmu... andai Friss tidak datang.. bisakah kau membayangkan nya.. sekarang kau malah mempermainkan dia... apakah itu waras untuk mu.." panjang lebar mami menjelaskan segalanya pada ku.
Aku tidak mampu menjawab apapun...
"Tempo hari, saat kau kemari dengan Frisya.. tengah malam dia kembali dan menangis pada kami.. sekalipun mami tidak melahirkan Frisya tapi sakit sekali melihat Anak ku Frisya menangis." ucap mami tersedu sedu.
__ADS_1
"Lalu ?? yang ku perbuat adalah semakin membuatnya kesal di kantor.." ucap ku dalam hati..
*********