
Dulu, aku sering mendengar...
Hidup adalah pilihan,
tapi... tapi... mengapa aku tidak bisa
membuat mu, untuk tetap bersama ku,
Mengapa langkah langkah ini justru membawa mu semakin pergi ?
****
Flashback, Seminggu setelah kunjungan Brenda menemui Frisya.
"Permisi... Pos.... " ucap seseorang pak pos.
"Dari siapa pak ?" Tanya bik Sari.
"Kantor urusan agama bu " ucap pak pos.
"Astaga, apa yang terjadi... " ucap bik Sari lirih.
"Tolong tanda tangan disini... " Ucap pak pos
"Terimakasih ya pak... " ucap bik Sari
***
Setelah itu bik Sari langsung masuk ke dalam rumah, mencari Brenda.
"Nona Brenda... Nona, dimana ?" tanya bik Sari.
"Aku baru menyelesaikan pekerjaan ku bik, ada apa ?" tanya Brenda yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Ada kiriman paket surat.. " ucap bik Sari
" Benarkah ? dari siapa ?" tanya Brenda.
Bik sari terdiam, tidak berani menjawab.
Brenda mulai membuka surat itu.
" Kantor urusan agama ? " ucap Brenda shock.
Brenda langsung menyobek amplop itu dan segera membacanya.
"Gugatan cerai dari mas Frisya ??" ucap Brenda lirih, tubuhnya terhuyung dan jatuh ke lantai.
" Nona Brenda, anda baik baik saja nona ?" ucap bik Sari histeris.
__ADS_1
Brenda menghela nafas panjang.
"Bik, aku akan pergi sebentar... " ucap Brenda sambil kembali berdiri setelah beberapa saat mencoba untuk mengumpulkan kekuatannya.
Brenda memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia merasa ini akan semakin memburuk jika dia tidak bisa mengontrol emosinya.
Beberapa saat kemudian, Brenda menunggu Frisya keluar.
" Mengapa datang lagi kemari ?" tanya Frisya dengan nada dingin.
" Setidaknya duduklah dulu. " ucap Brenda.
"Makanlah sesuatu, aku membawa makanan kesukaan mu.. " ucap Brenda.
Frisya mencicipi makanan yang dibawa oleh Brenda, setelah selesai makan...
" Mas, tadi ada pos datang membawa ini, aku tidak mengerti.. sebenarnya apa maksud ini mas ?" ucap Brenda sambil menyerahkan surat gugatan cerai.
"Brenda, aku sudah memikirkan ini, Tidak ada gunanya lagi kita bersama, kau dan aku sepertinya tidak berjodoh.." ucap Frisya.
"Tahu apa kau tentang jodoh ?" ucap Brenda tegas.
Frisya terdiam...
" Brenda... Lupakan saja aku !" ucap Frisya.
Brenda langsung terdiam..
Hati ku serasa dihujam dengan keras, disini bahkan aku yang dikhianati, tapi, mengapa dia yang memutuskan segalanya... "
Hati Brenda berkecamuk*.
" Mengapa diam ? " tanya Frisya
"Jika kau terus diam, aku akan pergi saja... " ucap Frisya.
"Pikiran macam apa yang ada di kepala mu Fris... saat kamu mengkhianati ku, tapi justru kamu yang mengakhiri ku.. " ucap Brenda
"Apa kau sudah tidak mencintai ku ? Mengapa dengan mudahnya kau melakukan ini pada ku ?" protes Brenda.
" Maafkan aku Brenda, sebenarnya... Aku masih memiliki wanita lain selain dirimu.. " ucap Frisya.
" Tidak mungkin, itu pasti hanya alasan mu saja kan ?" tanya Brenda tidak percaya.
" Kau bisa mencari tahunya sendiri, kau masih ingat Debora ? saat aku ceraikan ternyata dia tengah hamil saat itu.. " ucap Frisya
" Aku terlambat mengetahuinya. " ucap Frisya
" Bukankah dia sekarang menjadi kekasih Rama ?" tanya Brenda
__ADS_1
" Aku bisa melakukan apapun Bren, itulah alasan mengapa setelah perceraian ku dengan Debora. Dia tidak pernah lagi menghubungi mu.. " ucap Frisya.
" Kau kejam Fris... kau membodohi ku, aku membenci mu.. " ucap Brenda sambil berlari pergi..
Brenda langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Rama.
Setelah sampai, Brenda langsung menggebrak pintu rumah Rama dengan keras.
Sontak membuat orang dalam rumah terperanjat kaget.
"Nona Brenda ?" ucap Debora yang saat itu benar benar sedang menggendong seorang anak kecil.
Dadanya terasa sesak.
" Katakan pada ku, benarkah ini anak Frisya ?" tanya Brenda.
"Ah Nona, itu.. " ucap Debora.
" Jadi benar... Oh astaga, jadi ini adalah kenyataanya .. " ucap Brenda
Debora langsung duduk sambil memeluk kaki Brenda.
" Maafkan saya nona Brenda, saat itu Frisya sedang mabuk dan kami melakukannya, sungguh aku tidak bermaksud seperti ini.. " ucap Debora.
" Iya, baiklah aku mengerti, rupanya aku hanya terlalu percaya diri jika Frisya benar benar mencintai ku.. " ucap Brenda
" Aku pergi... maaf mengagetkan dirimu.. " ucap Brenda.
Brenda segera pulang.
Setelah sampai di rumah Brenda segera mandi untuk merendam tubuhnya yang terasa sangat lelah dengan keadaan ini.
Setelah beberapa lama kemudian, Brenda kembali menatap surat gugatan cerai yang dilayangkan oleh suaminya..
" Kau tahu Fris... Kita adalah do'a yang pernah dipeluk oleh semesta dan kemudian dihapus oleh sebuah perceraian... " ucap Brenda.
" Apa aku harus menandatangani ini sekarang ?" tanya Brenda pada dirinya sendiri.
" Kau sebenarnya pria baik, sayangnya.. ambisi dan cinta itu beda tipis. " ucap Brenda.
" Mungkin alasan mu sampai saat ini belum menyentuh ku, mungkin karena kau mulai mencintai Debora, atau kau mulai mencintai anak mu itu.. "
" Baiklah aku akan mulai mencoba berhenti untuk mencintaimu, karena mencintai mu sendirian adalah hal yang tidak waras.. " ucap Brenda.
Akhirnya Brenda mulai menghubungi pengacaranya dan memintanya untuk memindahkan semua aset miliknya dan juga perceraiannya.
"Anda yakin akan bercerai nyonya ?" tanya pengacara Brenda Mr. Dang.
" Iya Mr. Dang... semakin lama bertahan bukannya semakin baik, malah akan membuat ku semakin banyak terluka. " ucap Brenda.
__ADS_1
" Baiklah, anda tidak perlu datang untuk mediasi jika memang tidak berkenan untuk hadir. " ucap Mr. Dang.
Brenda mengangguk.