
2 jam kemudian mereka pulang dari taman. Ashlan memutuskan untuk mampir sebentar ke rumah Brenda.
"Masuklah, apa aku masih harus membopong mu ?" Tanya Brenda saat sudah sampai di dalam rumahnya.
"Waaw, seperti ini rumah SEO Brenda ?" Ucap Ashlan.
"CEO bukan Seo tuan Ashlan. Kenapa dengan rumah ku ? Apa terlalu biasa untuk mu ?" Tanya Brenda.
"Benar, aku pikir tempat ini akan seperti mu, yang dipenuhi dengan banyak hal yang akan membuat siapapun enggan berpaling." Ucap Ashlan.
"Kau benar, tempat ini memang menggambarkan tentang diriku... Terutama hatiku, hahaha..." Brenda tertawa geli mendengar ucapannya sendiri.
"Hatimu ? Apa yang kau maksud ?" Tanya Ashlan.
"Lihatlah, ruangan ini barang barang yang ada disini sangat sederhana bukan ?" Ucap Brenda.
"Dan bukankah masih banyak ruang kosong yang seharusnya masih bisa dipenuhi dengan banyak hal disini." Lanjut Brenda sambil menunjukkan beberapa sudut ruangan.
"Jadi secara tidak langsung kau mengatakan jika hatimu kosong ?" Tanya Ashlan.
"Tidak juga, aku hanya sedang menunggu seseorang." Ucap Brenda.
"Siapa pria beruntung itu ?" Tanya Ashlan.
Ashlan berjalan mengelilingi ruangan, dan berhenti di sebuah sudut yang disana terdapat sebuah bingkai foto.
"Apa dia yang kau maksud, sedang kau tunggu ?" Tanya Ashlan.
"Hehe, kau menemukannya ?" Ucap Brenda cengengesan.
"Tunggu sebentar aku akan mengambil cemilan dam segelas susu di dapur." Ucap Brenda.
Ashlan mengikuti Brenda ke dapur sambil membawa bingkai foto itu.
"Astaga, bagaimana kau bisa ikut kemari ?" Ucap Brenda.
"Aku takut kau tinggal sendirian disana, inikan bukan rumah ku." Ucap Ashlan.
"Baiklah baiklah, duduklah disana aku akan membuat coklat hangat dan kookies untuk mu." Ucap Brenda sambil mengaduk coklat hangat buatannya.
Ashlan memperhatikan Brenda dari belakang dengan celmek dan rambut yang dia ikat ala ala ekor kuda.
"Kau sedang membuat apa ?" Tanya Ashlan.
"Aku sedang menghangatkan makanan yang tadi dibuat oleh bik Sari." Ucap Brenda.
"Aku boleh makan disini ?" Tanya Ashlan.
"Tentu saja, hey.. mengapa kau membawa bingkai foto itu kemari ?" Tanya Brenda.
"Kau masih menyukainya ?" Ashlan balik bertanya.
"Apa urusannya dengan mu Ashlan ?" Brenda masih menjawab dengan pertanyaan.
"Tentu saja, aku harus tahu siapa saingan ku." Ucap Ashlan.
"Saingan apa, saingan mu sesungguhnya bukan dia, tapi aku.. diriku sendiri." Tegas Brenda.
"Untuk apa menyingkirkan orang lain jika kau mampu mendapatkan hatinya, saingan mu tidak akan berarti." Lanjut Brenda.
"Apa aku tidak cukup tampan untuk mu Brenda ?" Tanya Ashlan.
Jika aku hanya mencari pria tampan mungkin saat ini aku sudah menikah berkali kali Ashlan." Ucap Brenda.
"Tapi aku tidak akan melakukan hal rendah seperti itu, karena ada hati yang sedang ku nanti." Lanjut Brenda.
Wajah Ashlan mulai cemberut.
__ADS_1
"Makanan sudah siap, makan yuk." Ajak Brenda.
"Aku kenyang, aku akan pulang." ucap Ashlan.
"Begitulah pria tampan memperlakukan ku." Ucap Brenda sambil memakan makanannya.
Ashlan berhenti dan melihat Brenda.
"Kau marah ? Baiklah aku mengerti kau hanya ingin pulang." Ucap Brenda.
Ashlan menatap Brenda lekat lekat. Brenda membantu Ashlan memakai kembali sepatunya.
"Astaga, kau harus membayar mahal ini Ashlan." Ucap Brenda
Beberapa saat kemudian Ashlan menarik wajah Brenda dan mulai menciumnya, Brenda sebenarnya ingin sekali marah dan menolak perlakuan Ashlan. Namun tidak bisa dipungkiri jika Brenda pun sudah lama tidak melakukannya. Beberapa saat kemudian mereka selesai berciuman.
"Kau bahkan tidak menolaknya, apa kau menyukai ku ?" Ucap Ashlan.
Kepalang malu Brenda untuk mengakuinya.
"Apa maksud mu ? Berciuman bukan sesuatu yang cukup untuk dibesar besarkan, apa kau seorang remaja yang baru saja melakukan ciuman pertama mu ? Mengapa kau sangat heboh." Bela Brenda pada dirinya sendiri.
"Begitukah ?" Ucap Ashlan.
"Apa diumur ini, kita harus melakukan aktivitas ranjang agar bisa mengatakan jika kau mencintaiku ?" Ucap Ashlan.
"Hei, apa kau ingin ini kunjungan pertama dan terakhir mu disini ?" Ucap Brenda tegas.
"Baiklah, lain kali aku akan membuat mu memohon." Ucap Ashlan dengan mengedipkan matanya.
"Bye Brenda.." Ucap Ashlan.
Brenda melambaikan tangannya dan tersenyum. Setelah Ashlan pergi, Brenda segera kembali masuk kedalam rumah.
"Brenda... Bodoh !! Bodoh !!" Maki Brenda pada dirinya sendiri.
"Hahh, sepertinya aku memang sedang mengalami pubertas kedua, astaga apa yang aku bicarakan." Ucap Brenda sambil memukul-mukul kepalanya.
Setelah itu Brenda segera masuk ke dalam kamarnya dan segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya kembali.
"Ahh, berendam seperti ini memang paling menyenangkan, aku bisa melepaskan semua rasa penat ku disini." Ucap Brenda sambil bermain gelembung sabun.
2 jam kemudian Brenda menyelesaikan mandinya dan segera berpakaian dan tidur.
Malam harinya....
Brenda terbangun dari tidurnya pukul 7 malam.
"Astaga, gelap sekali..." Ucap Brenda sambil berjalan perlahan dan menghidupkan lampu rumahnya.
Beberapa saat kemudian, suara pintu rumah Brenda diketuk.
"Siapa ?" Tanya Brenda dari dalam.
"Bren ini aku dan Hakim." Ucap Juve.
Brenda segera membuka pintu rumahnya.
"Aahh, kalian akhirnya datang juga, bik Sari sedang pulang kampung jadi aku sendirian di rumah." Keluh Brenda
"Haruskah kami menginap disini ?" Tanya Hakim.
"Itu bukan ide yang buruk, hehehe..." Ucap Brenda cengengesan.
"Tapi, bagaimana jika sesuatu sampai terjadi ?" Celetuk Juve.
"Waahh..."
__ADS_1
"Wahh..." Sahut Brenda dan Hakim bersamaan.
"Kau seorang psikiater bisa mengatakan hal seperti itu, tidak wah, sepertinya dia harus melakukan test pada dirinya sendiri rupanya." Ucap Hakim.
"Kak Hakim, aku padamu..." Ucap Brenda sambil mengacungkan jempol pada Hakim.
"Ahh, aku kan hanya bercanda mengapa kalian sangat serius." Bela Juve.
"Ahh, aku memiliki rencana kecil untuk kita malam ini." Ucap Brenda.
"Ada apa ? Jika itu ide gila lebih baik jangan, aku tidak berani melakukannya." Ucap Juve.
" Hahaha, Hahaha." Brenda dan Hakim kembali menertawakan Juve.
"Terserahlah, terserah kalian aku ikut saja." Ucap Juve.
"Memang seharusnya seperti itu." Ucap Hakim.
"Memangnya apa rencana mu Brenda ?" Tanya Juve.
"Kemarilah..." Ucap Brenda sambil memeluk kedua kepala sahabatnya itu agar mudah untuknya berbisik.
" Kamu yakin Brenda ?" Ucap Hakim.
"Jika menurut mu dia menyadari hal itu, pasti dia sudah menyiapkan keamanan."Ucap Hakim.
"Benar, kami berdua bisa bisa mati dikeroyok mereka." Sahut Juve.
"Ah, mengapa kalian sangat penakut ?" Ucap Brenda.
"Aku ini adalah istrinya Frisya." ucap Brenda yakin.
"Astaga, sabar Brenda, sabar..." ucap Hakim dan Juve bersamaan.
"Apa kau membawakannya obat Juve ?" Tanya Hakim.
"Astaga, aku tidak gila... maksud ku dulu aku adalah mantan istri Frisya, jadi apa kalian pernah mendengar jika jodoh itu sebenarnya adalah cerminan dari diri kita sendiri, jadi aku yakin jika sebenarnya aku tidak jauh berbeda dari Frisya, aku pasti kejam seperti dia." Ucap Brenda yakin.
"Ahh, gadis ini menakutkan saat mengatakan hal seperti ini." ucap Juve.
"Kau benar Juve." Sela Hakim.
"Aku bahkan masih ingat saat dia dan orang suruhannya menghentikan ku di tengah jalan dan menghajar ku sampai babak belur, setelah itu keesokan harinya aku harus dirawat seminggu dirumah sakit, dan tidak hanya itu, saat aku kembali bekerja tiba tiba aku mendapatkan surat perintah agar aku dipindahkan di tempat yang jauh dan terpencil." Ucap Hakim penuh kengerian.
"Benarkah seperti itu ?" Tanya Brenda penasaran.
" Benar, bahkan sebelum aku ditugaskan di wilayah sengketa, dia pernah membakar klinik ku dan menyekap ku didalam sana." Lanjut Juve.
"Aku, aku minta maaf atas nama Frisya pada kalian berdua."Ucap Brenda.
"Tapi meskipun seperti itu, kami masih bersyukur karena ternyata kau baik baik saja, tidak perlu mengalami hal seburuk kami." Ucap Juve.
" Entah apa yang terjadi, tapi apa yang dikatakan oleh Juve sama seperti yang aku pikirkan saat aku berada ditempat terpencil itu.
"Kalian sungguh sungguh menyayangi ku ternyata, aku berjanji Frisya akan meminta maaf pada kalian secara langsung." Tekad Brenda.
"Kami percaya padamu Brenda." Ucap Juve.
"Bisa melihat mu kembali bahagia dengan orang yang kau sayangi itu sebenarnya sudah cukup, tapi jika kau bisa melakukan hal seperti itu, aku juga akan sangat bersyukur." Lanjut Hakim.
"Aku berdoa, semoga kalian segera mendapatkan seseorang yang baik untuk kalian berdua, kalian layak mendapatkan wanita yang baik." Ucap Brenda.
"Bagaimana jika kita melakukan idemu besok saja Bren, aku yakin mereka pasti sudah menyiapkan pengawal." Ucap Hakim.
"Benar, bagaimana jika malam ini kita menyusun rencananya saja dulu ?" Ucap Juve.
Brenda tidak berdaya melawan kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
" Baiklah, aku tidak akan gegabah dan akan menuruti saran kalian berdua." Ucap Brenda.