Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Menjelang


__ADS_3

Keesokan harinya...


Semalam Juve dan Hakim bermalam di rumah Brenda. Mereka menghabiskan malam dengan bermain kartu, ular tangga, game dan lainnya. Hingga akhirnya mereka kelelahan dan tertidur di depan ruang tengah. Brenda di sofa, sedang Hakim dan Juve di lantai.


"Emhh..." Brenda membuka mata.


"Sudah siang ternyata." Ucap Brenda sambil mengucek matanya dan melihat sekelilingnya.


"Astaga, mengapa kalian tidur dilantai ? Bagaimana jika kalian sampai masuk angin ?" Keluh Brenda sambil mengambil selimut dan menyelimuti Hakim dan Juve.


"Aku akan mandi dan menyiapkan sarapan untuk kalian." Ucap Brenda sambil berjalan naik ke kamarnya.


30 menit kemudian Brenda keluar dan segera menuju dapur. Brenda mulai mengocok telur dan membuat omelette dan dua cangkir kopi panas. Setelah itu Brenda segera membangunkan kedua sahabatnya itu.


"Kak Hakim... Juve ayo bangunlah kalian harus sarapan, aku sudah memasaj untuk kalian berdua." Ucap Brenda sambil menggoyang goyangkan tubuh keduanya.


"Duh Brenda ada apa sih, masih pagi juga." Keluh Juve.


"Ini sudah jam 8 Juve, pagi darimana ?" Ucap Brenda.


Beberapa saat kemudian mereka bangun dan segera membersihkan tubuh mereka dan segera datang ke dapur untuk sarapan.


Brenda melihat kedatangan keduanya.


"Hai, mengapa memakai pakaian semalam lagi ?" Ucap Brenda.


"Lalu, bagaimana lagi... aku dan Hakim tidak membawa pakaian ganti lagi." Ucap Juve.


"Aku sudah menyiapkan pakaian kalian, mengapa tidak memakainya ?" Tanya Brenda.


"Itu pakaian untuk kami ?" Tanya Hakim.


"Bagaimana bisa kau memiliki pakaian pria seperti itu ?" Tanya Hakim.


"Itu dulu milik mas Frisya, hanya saja dia belum pernah memakainya." Ucap Brenda.


"Astaga kau bahkan masih menyimpannya ?" Tanya Juve.


"Hehe, sudahlah jangan terlalu kaget seperti itu, kalian membuat ku malu." Ucap Brenda.


Juve menggelengkan kepalanya. Beberapa saat kemudian mereka berganti pakaian dan segera pergi bersama Brenda.


Mereka sudah berada di dalam mobil.


"Jadi kita akan pergi kemana sekarang ?" Tanya Juve.


"Juve pindahlah ke belakang aku akan menyetir." Ucap Brenda.


Beberapa saat kemudian Brenda mulai menyetir mobil dan membawa mereka pergi menuju rumah Rama.


"Rumah ini tujuan kita ?" Tanya Hakim.


"Benar, aku yakin jika aku masuk mereka akan segera mengusirku, kalian lihat para penjaga itu, mereka sangat ketat bukan ?" Ucap Brenda.

__ADS_1


"Lalu, sebaiknya apa yang akan kita lakukan ?" Tanya Juve.


"Kalian buatlah keributan di depan tempat mereka, dan pancing mereka untuk memperhatikan kalian, sisanya aku akan melakukannya sendiri." Ucap Brenda.


"Aissh, lihat betapa yakinnya gadis ini..." Ucap Hakim.


"Jangan cerewet, ayo segera pergilah... Salinglah menghajar sati sama lain, hahaha." Ledek Brenda.


"Astagaa, apa kami harus berbuat sekeras itu." Ucap Juve.


Beberapa saat kemudian mereka sudah mulai keluar dan mulai bertengkar dan saling mendorong sambil terus berjalan melewati rumah Rama.


Saat sampai di depan rumah Rama.


"Tuan tolong jangan bertengkar disini." Ucap seorang penjaga.


"Tuan, dia merebut kekasih ku... Bagaimana bisa aku membiarkannya pergi begitu saja." Ucap Juve.


"Hai, aku tidak melakukan hal rendah seperti itu...Bukan aku yang mengejar kekasih mu, tapi dia yang mengejarku." Lanjut Hakim.


"Ahh, baiklah kita akan menyelesaikannya di rumahnya dan bertanya langsung padanya siapa yang dia pilih." Ucap Juve.


Selama perdebatan itu berlangsung Brenda tidak menyia nyiakan kesempatan ini dan langsung memanjat dan masuk secara diam diam melewati pagar rumah Rama.


"Kau pikir pengawal bertubuh besar mu bisa menghentikan ku ? Hahaha, aku bahkan pernah benar benar gila bagaimana bisa kau melupakan hal itu." Gerutu Brenda sambil menjajaki rumah Rama yang ternyata hanya dijaga di depan saja.


"Hahh, aku seharusnya sudah menyadari ini haha, aku akan masuk dengan mudah." Ucap Brenda.


Brenda masuk melewati dapur dan mengambil sebilah pisau dan segera masuk mencari Rama, namun ternyata seorang anak kecil memeluk kaki Brenda dengan tiba tiba.


Kemudian Brenda menggendong si balita dan mengajaknya duduk sambil menonton televisi.


Sayup sayup terdengar suara seorang wanita yang tidak lain adalah suara Debora.


"Zain sayang... Kamu dimana ? Ayo minum susunya sayang." Ucap Debora.


"Aah, nama mu Zain yaa... Maaf aunty melupakannya, jadi Zain maukah kamu membantu aunty ?" Ucap Brenda.


Zain mengangguk.


"Baiklah, biarkan aku menggendong mu." Ucap Brenda sambil mulai merangkul tubuh Zain.


Tak lama kemudian Debora berjalan menuju ruang televisi. Betapa terkejutnya Debora melihat Brenda tengah menggendong Zain yang tengah tertidur di pelukannya dan sebilah pisau ditangannya.


"Ahhhh !! Nona Brenda !!" Teriak Debora histeris.


Brenda masih tidak menjawab ucapan Debora.


"Nona Brenda, tolong jangan sakiti anak ku Nona Brenda, dia tidak tahu apa apa, biarkan aku dan Rama yang akan menyelesaikan urusan kita, tanpa melibatkan orang lain." Ucap Debora masih dengan nada histeris.


Beberapa saat kemudian Rama yang mendengar suara Debora langsung berlari melihat keadaan Debora.


"Apa yang terjadi ? Mengapa kau berteri...." Ucapan Rama terputus ketika melihat Brenda.

__ADS_1


"Bre... Brenda... Bag Bagaimana bisa kau masuk ?" Ucap Rama dengan perasaan takut.


"Tadinya aku pikir kau memiliki itikad baik dan datang sendiri padaku." Ucap Brenda dingin.


"Tapi, hal diluar dugaan... Kau bahkan membuat jarak jauh denganku dan menahan ku agar tidak bisa menemui mu." Ucap Brenda sambil menidurkan Zain di sofa.


"Kau mempermainkan ku..." Ucap Brenda sambil menatap Rama tajam.


"Brenda, aku tidak akan mengingkari janji ku... Kau tahu itu." Ucap Rama ketakutan.


"Kalian berbohong !!!" Ucap Brenda keras.


"Kalian mencoba memutuskan hubungan dengan ku dan mengingkari janji kalian." Tegas Brenda.


"Aku, aku tidak habis pikir padamu Ram, bagaimana bisa kau melakukan hal seperti ini padaku." Ucap Brenda sedih.


"Bagaimana rasanya jika kau harus kehilangan orang yang kau sayangi, seperti balita ini ?" Ucap Brenda.


"Aku tidak berdaya melawan Frisya Brend." Ucap Rama.


"Aku tidak perduli kau sudah berjanji padaku, jika bukan karena mu mungkin saat ini aku dan Frisya tidak akan pernah bercerai." Lanjut Brenda.


"Lihat, aku bahkan bisa menerobos keamanan mu dengan mudah, kau tahu semudah itulah aku akan menghabisi kalian dan balita ini yang pertama." Ucap Brenda.


Rama dan Debora hanya bisa tertegun melihat Brenda.


"Aku akan pergi, ini adalah peringatan untuk kalian berdua." Ucap Brenda sambil tersenyum.


"Dalam beberapa hari kedepan Frisya akan bebas, jika kalian kembali membohongi ku atau melakukan hal yang merugikan ku." Ucap Brenda sambil menyeringai.


"Akan ku pastikan, kalian akan melihat balita ini terpotong potong dihadapan kalian." Lanjut Brenda sambil tersenyum.


Beberapa saat kemudian Brenda keluar dengan santainya dari dalam rumah Rama, para penjaga hanya tertegun melihat Brenda yang tiba tiba sudah ada di dalam tanpa mereka tahu kapan dia masuk.


Selepas Brenda pergi Debora terisak. Rama memeluknya erat.


"Sudah kukatakan, hal seperti itu tidak akan menghentikan Nona Brenda." Ucap Debora ketakutan.


"Maafkan aku, aku seharusnya menepati janjiku, maka ini tidak akan pernah terjadi." Ucap Rama menyesal.


Juve dan Hakim sudah menunggu di mobil.


"Lihat gadis itu dia keluar begitu saja dari sana." Ucap Juve.


"Ya, aku rasa temanku memang benar benar gila, dia tidak memiliki ketakutan apapun." Ucap Hakim.


Brenda segera masuk ke dalam mobil.


"Kalian lama menunggu ku ?" Tanya Brenda.


"Ya, sekitar 45 menit." Ucap hakim.


"Apa yang terjadi ? Apa kau terluka Brenda ? kami mengkhawatirkan mu." Ucap Juve.

__ADS_1


"Tidak, mana mungkin dia berani menyakiti ku, dia bahkan menangis dan memohon padaku, bukankah itu luar biasa." Ucap Brenda yakin.


__ADS_2