
Malam harinya...
Brenda sudah memasak sejak sore, dia meminta agar mbak Naning istirahat terlebih dahulu agar tidak sakit.
Beberapa saat kemudian Frisya keluar dari kamarnya dengan rambut basahnya dan kaos hitam lengan pendek yang membuat terlihat gagah.
Brenda melihat sebentar dan menelan ludah saat melihatnya dengan seraya memalingkan wajahnya berpura pura tidak melihat apapun.
Frisya duduk di kursi meja makan.
"Kamu masak apa de ?" Tanya Frisya sambil memperhatikan Brenda dari belakang.
"Aku masak sea food mas Fris." Sahut Brenda seraya menata masakannya di piring.
"Waaw, sepertinya kemampuan memasak mu meningkat ?" Ucap Frisya.
"Tentu saja, kak Hakim dan Juve sering menginap jika aku tidak bisa memasak kan kasihan mereka." Lanjut Brenda.
"Dasar gadis centil masih saja tidak berubah." Ucap Frisya lirih.
"Mas Fris, aku mendengar ucapan mu. Aku akan pergi memanggil mami terlebih dahulu ya." Ucap Brenda
Frisya tersenyum melihat Brenda yang sibuk.
Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di meja makan dan segera memulai makan malam.
"Jadi kapan kalian akan kembali ke kota ?" Tanya Ayah.
"Ayah, Mami baru saja bertemu mereka mengapa sudah bertanya hal seperti itu." Ucap mami kesal.
"Bukan begitu mi, ayah hanya bertanya karena ayah ingin menahan mereka agar disini lebih lama lagi." Sahut Ayah.
"Ekhemm... Jadi begini Mami dan Ayah tidak perlu khawatir, Frisya akan berada disini sampai beberapa waktu." Ucap Frisya
Brenda tersenyum mendengar ucapan Frisya.
"Tuh kan kalo anak mami pasti pengertian." Puji mami.
__ADS_1
"Mami berlebihan. " Sahut Frisya malu malu.
15 menit kemudian mereka menyelesaikan makannya.
"Mami sama Ayah minta maaf ya sama kalian berdua, mami dan ayah belum sepenuhnya pulih jadi masih harus beristirahat belum bisa menemani kalian." Sahut Ayah.
"Iya gak apa apa yah, Brenda dan mas Frisya mengerti kok, sudah ayah kembalilah ke kamar ayah." Ucap Brenda.
Setelah itu Brenda duduk di sofa ruang tamu.Frisya datang dan memeluk Brenda dari belakang.
"Apa yang kau lakukan ?"Tanya Frisya.
"Aku sedang meminta Meta mengalihkan saham ku atas nama mu." Ucap Brenda.
"Mengapa sangat terburu buru ?" Tanya Frisya keheranan.
"Aku harus menepati janjiku, agar aku segera bisa menghitung berapa jumlah sisa kekayaan yang aku miliki." Ucap Brenda.
"Katakan padaku, apa apa akan kau lakukan dengan uangmu yang sedikit itu ?" Ucap Frisya.
"Aku akan tinggal disini, aku tidak akan kembali setelah semuanya selesai." Ucap Brenda.
"Kenapa, apa yang kau lakukan disini ?" Frisya keheranan.
"Tempat ini tidak terlalu buruk, aku akan membuka usaha di bidang properti, membuka perumahan dan sebuah toko kecil." Lanjut Brenda.
"Toko kecil ?" Tanya Frisya.
"Benar toko kecil, disana aku akan menjual bahan bangunan dan toko cat dengan warna lengkap hahaha." Ucap Brenda membayangkan masa depan.
"Brenda sepertinya kamu sedang sakit ya De ?" Ucap Frisya lagi.
"Sudah tidak perlu mengalihkan kepemilikan saham, aku merinding mendengar rencana mu itu." ucap Frisya
"Hahaha, mana mungkin aku membatalkannya ? Semuanya sudah selesai." Ucap Brenda.
"Mas masih ingat air terjun yang kita datangi dulu ?" Tanya Brenda.
__ADS_1
"Ya, itu tempat yang indah." lanjut Frisya.
"Aku pikir itu adalah tempat milik negara, tapi ternyata bukan itu milik salah seorang warga." Lanjut Brenda
"Jadi aku membelinya, dengar. Aku akan tinggal di tempat kecil ini aku akan membangun banyak perumahan disini dengan target pemasaran orang orang kota yang sudah pening dengan kebisingan kota disini aku akan menawarkan keindahan alam, udara yang sejuk dan kedamaiannya, dan sambil mengembangkan usaha Properti ku, aku akan melayani pembeli di toko kecil ku." Ucap Brenda menggambarkan masa depannya di tempat kecil itu.
"Kau sedang menjelaskan proposal kecil mu padaku ?." Ucap Frisya sambil tersenyum.
"Hehe, tidak aku hanya menggambarkannya saja sedikit." Ucap Brenda.
"Kau menggambarkannya dengan baik hahh... Aku merasa kau menyerahkan semuanya padaku karena ingin hidup lebih baik, dan membuat hidup ku lebih berat." Ucap Frisya.
"Mas Fris, aku senang bisa melihat mu lagi kembali dirumah ini. Aku berharap siapapun kelak yang akan menjadi pendamping mu, dia akan bisa membuat mu bahagia." Harap Brenda.
"Kau pria yang sangat tampan, dan adik Ashlan si Lena dia terlihat begitu cantik. Mungkin kelak anak kalian akan benar benar menjadi luar biasa." Ucap Brenda.
Frisya menatap Brenda sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
"Mengapa menatapku seperti itu, kau menakuti ku mas Fris." lanjut Brenda.
"Brenda, mari kita rujuk kembali." Ucap Frisya perlahan.
Brenda menoleh kaget.
"Apa yang kau katakan ? Kau sudah memiliki tunangan bagaimana bisa meminta kembali dengan ku, jangan keterlaluan kamu mas Fris." Ucap Brenda tegas.
"Aku masih mencintaimu, aku sudah yakin akan hal itu sekarang." Ucap Frisya bersungguh sungguh.
"Mas Fris, jangan melakukan hal seperti ini bukan karena kita sekarang sedang dekat kamu bisa mengatakan hal seperti ini, apalagi memutuskan hubungan mu semudah itu." Ucap Brenda
"Lalu apa yang harus aku lakukan ?" Ucap Frisya.
"Aku tidak tahu, tapi jangan pernah pergi meninggalkan wanita mu hanya karena impian kecil seorang mantan." Ucap Brenda.
Brenda kembali ke kamarnya.
"Aku tahu aku mungkin masih menyukainya tapi bukan berarti aku bisa melukai wanita lain saat aku bisa mencegahnya." Ucap Brenda sambil berusaha memejamkan matanya.
__ADS_1