
Brenda terus menarik tangan Kai sambil berlarian.
"Hah hah hah..." Brenda ngos ngosan.
"Hai mengapa melamun seperti itu ?" Ucap Brenda.
"Kau sungguh keterlaluan Bren." Ucap Kai.
"Apa ? Aku keterlaluan apa ?" Tanya Brenda.
"Aku tahu kau menyukai kak Frisya, dan kau tahu aku menyukai mu, tapi jangan memperlakukan ku seperti ini, aku menjadi seperti mainan mu saja." Ucap Kai sedih.
"Aku tidak mempermainkan mu Kai." Ucap Brenda
"Aku memang menyukaimu, aku memang berniat menikah dengan mu." Ucap Brenda
"Kau tidak sungguh sungguh." Ucap Kai.
"Aku bersungguh-sungguh, aku menginginkan mu menjadi pendamping ku." Ucap Brenda mendekati Kai.
Mata mereka saling bertatapan dengan intens. Kai mendekat dan ******* bibir merah Brenda dengan lembut. Sesuatu yang diinginkan Kai selama bertahun-tahun lamanya. Dan kini akhirnya Brenda datang sendiri dalam pelukannya.
"Brenda, aku sudah lama menantikan mu... mengapa kau terlambat datang, hatiku sangat pedih setiap melihat kau hanya memikirkan pria itu, kau hanya datang saat kau merindukannya." Ucap Kai sedih.
Brenda memeluk Kai erat.
"Aku selalu berlaku keterlaluan pada orang orang yang mencintai ku maafkan aku,aku mencintaimu." Ucap Brenda.
Beberapa saat kemudian hujan turun dengan derasnya.
"Astaga, ini masih pagi mengapa bisa hujan sederas ini ?" Ucap Brenda sambil mencari tempat berteduh.
Kai menahan tangan Brenda saat hendak berteduh.
"Ada apa ? Jangan mengajak ku bermain hujan sekarang akuu takut kau sakit Kai." Ucap Brenda.
"Aku ingin memulai segalanya dari awal, mari memulai kehidupan yang bahagia darisini." Ucap Kai.
"Seperti terakhir kalinya dimana kau mengajakku pergi dan dan bermain hujan denganku, saat itu aku sungguh berharap kebahagiaan mu datang dari diriku." Ucap Kai.
"Oh, saat di bazar itu yaa..." Ucap Brenda
Kai Mengangguk .
"Baiklah, ayo kita menikmati hujan ini bersama, aku ingim membangun kenangan indah untuk kita berdua sebelum pernikahan." Ucap Brenda.
__ADS_1
Kai dan Brenda sibuk bermain air disana dan beberapa saat kemudian anak anak panti keluar dan bermain bersama dengan mereka, entahlah bagaimana caranya saat itu ibu panti bisa membiarkan mereka pergi begitu saja.
Kai terlihat bahagia ditengah tengah anak anak kecil itu Brenda tidak pernah melihat Kai sebahagia itu sebelumnya, rupanya Kai benar benar menyukainya.
2 jam kemudian Kai dan Brenda pulang.
"Mbak Naning tolong dong ambilkan handuk untuk ku dan Kai." Ucap Brenda.
Frisya keluar dengan dua handuk di tangannya. Frisya melempar handuk pada Kai dan menyelimuti tubuh Brenda menggunakan handuk dengan lembut.
"Sudah dewasa mengapa masih bermain air hujan, bagaimana jika sakit." Ucap Frisya.
Brenda tersenyum.
"Sepertinya hujan menurunkan tempramental mu mas Fris." Ucap Brenda sambil berlalu masuk untuk mandi.
Kai juga menyusul masuk, namun Frisya hendak menghalangi.
"Suka atau tidak suka aku sekarang adalah pria yang dicintainya, aku berharap kerjasama darimu." Ucap Kai membuat Frisya mati kutu.
Frisya hanya bisa terdiam saat Kai mengatakan hal seperti itu, entahlah aku bingung dengan sikap Frisya yang semakin hari semakin tempramental dan sulit dimengerti.
Malam harinya...
Mami dan Ayah Brenda sedang menonton televisi. Beberapa saat kemudian Brenda dan Kai datang dan disusul oleh Frisya.
"Apa yang membuat mu begitu bahagia Bren..." Ucap Mami.
"Hmm... hmmm... hmmm..." Bersenandung sambil melirik Kai.
"Nak Kai, tante minta maaf ya nak kami baru bisa menemui kamu sekarang, soalnya kami juga masih harus bolak balik check up di rumah sakit, maklum kami sudah tidak muda lagi." Ucap Mami.
"Iih, tumben ngakuin kalo udah gak muda lagi ?" Tanya Brenda.
"Ihh, apa harus tua itu dibanggakan." Ucap mami gemas sambil mencubit pipi Brenda lembut.
"iih mami.." Ucap Brenda.
"Oh ya Fris, gimana perkerjaan kamu ?" Tanya Ayah.
"Baik baik saja yah, Frisya juga semakin terdepan dalam segala hal." Ucapnya sambil melirik Kai.
"Ahh, iya Ayah percaya padamu nak kamu san Brenda sama sama berbakat." Ucap Ayah.
"Bagaimana dengan nak Kai, apa pekerjaan kamu nak ?" Tanya Ayah.
__ADS_1
"Saya, pemilik Akacorps." Ucap Kai.
"Wooh, yang mengelola banyak stasiun televisi dan banyak bisnis lainnya itu ya ?" Tanya Ayah.
Kai tersenyum.
"Wah, hebat masih muda bisa memiliki perusahaan sebesar itu, padahal tampilan kamu seperti anak anak muda jaman now ya." Ucap Ayah
"Ayah, Kai itu orangnya terlalu rendah hati dan sangat lembut dia seperti anak gadis." Ucap Brenda.
"Ya ya ya, pertahankan sikap terpuji seperti itu, itu adalah aset." Ucap Ayah.
"Tapi bagaimanapun juaranya dihati Mami ya hanya Frisya." Ucap Mami.
"Memang siapa juga yang akan menjatuhkannya dari hati mami." Ucap Brenda.
Frisya tersenyum.
Kai merasa aneh dengan sikap Mami Brenda seperti sedikit terganggu dengan kehadirannya.
"Frisya sayang, jadi kapan kamu dan Brenda akan rujuk ?" Tanya mami seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Frisya juga sedang mencari tanggal yang pas Mami." Ucap Frisya.
"Tunggu... Siapa yang akan rujuk dengan mas Frisya ? Mami ?" Ucap Brenda seenaknya.
"Brenda, mulai kapan kamu berani bersikap tidak sopan seperti ini pada Mami ?" Ucap Mami kesal.
"Mami, jangan jadi mas Frisya dua deh." Ucap Brenda.
"Tolong biarkan Brenda hidup dengan tenang sekali saja." Ucap Brenda.
"Maksud kamu apa ? Tega kamu ya bilang gitu sama Mami." Ucap Mami.
Brenda merasa percuma jika mereka melanjutkan percakapan ini jadi Brenda beranjak pergi.
"Kai, ayo ikut dengan ku." Ucap Brenda.
"Kemana ?" tanya Kai.
"Sudah jangan cerewet." Ucap Brenda sambil tersenyum.
"Brenda Mami belum selesai bicara." Ucap Mami setengah berteriak.
"Mami, inget dong mami punya darah tinggi loh dijaga moodnya, ntar sakit rugi sendiri loh." Ucap Brenda menghindari konflik.
__ADS_1
"Mami, Ayah, mas Fris aku sama Kai pamit keluar dulu, bye.." Ucap Brenda sambil beranjak pergi ke mobil dan segera memacu mobilnya.