
3 jam kemudian meeting kami selesai. semua anggota memberikan selamat atas prestasi ku yang mampu menaikan penjualan dan keuntungan yang naik hingga 100% di bulan ini.
Setelah semua orang keluar dari ruangan. Kulihat seseorang masih tetap berada ditempat duduknya.
"Hai tuan... ( Kepala ku melakukan flashback saat seorang pria menyapa ku setelah mengantar Gun Woo pergi). Aahh, andaa yang di Bandara itu ya.."
"Apakah kau baru saja menyadarinya ?? Bukankah sangat tidak sopan melupakan investor terbesar di perusahaan mu ?" jawabnya dengan ketusnya.
"Ahh, maafkan aku... aku sangat ceroboh. tapi itu mungkin karena kita hanya bertemu sekali jadi aku tidak bisa mengenali anda dengan baik."
"Bisakah kau membantu ku ??" ucap nya.
"Tentu, memangnya apa yang bisa kulakukan untuk mu tuan Feri Fer..." ucap ku mengingat ingat namanya.
"Bahkan nama ku saja kau tidak becus menyebutkan nya." dia semakin kesal menatap ku.
Aku hanya menunduk malu, entah apa yang terjadi pada ku, tapi aku seperti kacau setelah Gun Woo pergi.
Frisya menarik tangan ku dan membawa ku keluar kantor, dan masuk kedalam mobil nya.
"Hei tuan kau mau membawaku kemana ??" teriak ku.
Selama di dalam mobil dia hanya diam saja.
"Hai tuan... kita mau kemana ?? apakah kau menculik ku ??"
"Diamlah nanti kau akan tahu juga."
Karena tak kunjung sampai akhirnya aku tertidur pulas di mobil. Setelah 5 jam perjalanan akhirnya kami sampai.
"Hai Putri tidur bangunlah kita sudah sampai." seru Frisya.
"Ehm...dimana kita ?? Loh kok kayak pernah lihat..."
mataku terbelalak saat sadar dimana kini aku berada.
"Astaga, bukankah ini rumah ku.. ah aku pulang.. Mami.. ayahh... " seraya membuka pintu mobil dan berlari menuju rumah.
"Mamiii.... Ayahh.... aku pulang..." aku berseru sambil membuka pintu rumah.
"Brenda... putri kecil ku.." Ayah menimpali.
"Bagaimana kabar mu nak ?" seraya ibu memeluk ku erat.
"Aku sangat baik mami.. ayah.. "
"Mengapa kau tidak pernah berkunjung, kami sangat merindukan mu.." seru ayah.
"Aku sangat sibuk ayah, maafkan aku... aku juga saaanggatt merindukan kalian." sahut ku.
"Terimakasih ya nak, sudah membawa Brenda pulang." ucap Mami, pada Frisya.
"jangan berterima kasih tante, saya senang melakukannya." kawan Frisya ramah.
"Iih, dia itu nyulik aku tauk mii, tadi aku abis meeting langsung di bawa kemari ga bilang bilang loh." kesal ku.
"Dia.. diaa... jangan panggil gitu, gak sopan.. panggil dia Mas gitu loh Brenda.. " sahut mami mengagetkan ku.
"Mas ??? Mas masan tah mi ??" hihihi aku cekikikan.
Mendengar hal itu raut wajah Frisya berubah.
"Gadis nakal " Mami menjitak kepala ku.
"Aduuh Mami.. kok aku di jitak sihh, sakit tauk.." ucap ku seraya mengelus kepala ku.
"Bagaimana pun dia lebih tua umurnya dari mu Brenda..." tegas Mami.
__ADS_1
"Emang mami kenal dia siapa ?? Apakah dia anak teman ayah ?? kok sampek belain
gituu.." ucap ku.
Ayah menatap Frisya..
"Nak ? kamu belum bilang kamu siapa sebenarnya ?"
"Saya kira dia akan mengenali saya ternyata kenyataannya dia tidak mengenali saya sama sekali." sahutnya.
"Brendaa.." ayah melototkan matanya pada ku.
"Aiish, mumpung aku disini aku mau masakin mami yaa..." seraya aku berjalan menuju dapur tanpa memperdulikan Frisya.
10 menit kemudian ....
"Apa yang kau masak ??" Frisya di samping ku.
"Aku memasak sup kesukaan ku, kau harus mencobanya sebagai tanda terimakasih ku."
"Baiklah, apakah masih lama ??"
"Tidak, hanya tinggal menunggu sebentar lagi sudah selesai, sudah tunggulah di meja makan aku akan segera menghidangkan sup ini." sahut ku.
Frisya pergi menuju meja makan, sedang aku masih berpikir bagaimana bisa seorang Pria yang baru ku kenal sudah akrab dengan orang tua ku ?? entahlah nanti akan ku tanya padanya.
"Ayah... Mamii... yukk di makan ini sup favorit ku, buatan ku." hahaha kami tertawa bersama.
Ayah dan Mami, menikmati sup buatan ku sedang Frisya menikmatinya dengan piring yang berbeda .
Aku makan sup ku dengan lahap, tanpa terasa sup ku habis lebih dulu. aku melihat ayah dan Mami, lalu pandangan ku pindah pada sup Frisya yang masih banyak, Frisya pun menatap ku.
"Kau masih saja belum berubah Brenda.." ucapnya sambil tersenyum.
"Makanlah milik ku" ucap ku... ayah dan mami tertawa.
"Hehehe, aku jadi malu... tapi tenang aku akan memberikan mu roti, oke.. tidak kalah enaknya kok, hehe" Seraya memberikan roti kismis pada Frisya.
Selesai makan, Aku duduk di ruang keluarga...
Frisya melihat lihat koleksi foto masa kecil ku.
"Astaga, kau imut sekali Brenda ?" seraya menunjuk pada suatu foto.
"Iya itu foto ku saat smp, saat itu aku sudah terlambat datang les, eh malah diajakin foto, itu pas ku ngambek gitu ehh, imut banget ternyata, hehe"
"Kau memang sangat cantik sejak kecil."
"Heii, aku cantik dari orok keles " hahaha kami tertawa bersama.
"Brenda... ada yang ingin aku sampaikan padamu, bisakah kita berjalan jalan di perkebunan..??"
"Oke, ayo.. aku juga tidak bisa menyia nyiakan waktu, hehe."
***** Perkebunan ****
"Apakah kau kedinginan Brenda ?? " tanya Frisya.
"Sedikit, tapi tidak apa apa masih bisa ku tahan."
"Brendaa.. Aku merindukan mu.."
"Aisssshh, baru 2x ketemu udah rinduu.. " ucap ku geli menahan tawa.
"hmm sebenarnya sudah lama aku ingin menemui mu, tapi waktu terus saja tidak memihak ku." ucap nya serius.
__ADS_1
"Memangnya kamu siapa seh..?" tanya ku ke heranan.
"Aku adalah... Rakhman, teman baik mu di panti."
"Rakhman ??? haha apakah kau bercanda, darimana kau tahu nama itu?? "
"Apakah wajah ku terlihat seperti orang sedang bergurau brenda, bagaimana aku tidak tahu sedang itu adalah diriku sendiri."
Aku tidak begitu saja percaya pada perkataannya, tapi aku tidak bisa berbohong saat dia mengucap kata Rakhman, jantung ku berdegub kencang.
"Entahlah, kepala ku sedikit sakit. aku akan pulang dan beristirahat."
Aku berlarian menuju rumah dan segera masuk kedalam kamar ku. aku membuka lemari ku, dan mengambil sebuah foto.
"Benar kah lelaki dewasa itu kau Rakhman ??" ucap ku sambil menatap foto Rakhman kecil.
Di depan pintu kamar ternyata Rakhman menguping ucapan ku, lalu dia masuk.
"Brenda.."
"Mengapa kamu masuk ?? inikan kamar ku ??"
"Maaf tapi aku tidak bisa melihat mu kebingungan seperti ini, hubungi Rama tanyakan tentang ku padanya. dia adalah asisten ku."
Aku tidak menjawabnya, namun aku langsung menelfon Rama.
"Ya Brenda, ada apa ? tumben sekali kau menelfon ku ?" sambut Rama .
"Jawab dengan jujur, Siapa Tuan Frisya ?"
"Apakah kau ingin bertemu dengan nya ? aku akan membuatkan janji."
"Hentikan Ramaa!! jawab siapa Frisya itu sebenarnya?"
" ada apa dengan mu... Baiklah, dia Rakhman.. teman mu saat di panti dulu.."
"Ba bag bagaimana bisa jadi Frisya ? lalu, bagaimana bisa..." aku mulai menangis.
Belum selesai aku berbicara, Frisya menarik dan mematikan ponsel ku.
"Hentikan.. sudah jangan menangis.." Frisya menarik ku dalam dekapannya.
Beberapa saat kemudian aku merasa lebih baik.
"Brenda tatap aku dan lihat, apakah aku tidak mirip sama sekali seperti Rakhman mu yang dulu ??"
Aku menatapnya..
"Jika kau memang Rakhman, bisakah kau menunjukkan bekas luka di kepala mu."
"Tentu.." ucap nya sambil menunjukan bekas luka di kepalanya.
Flasback....
*******
Dulu saat kami masih kecil, aku adalah anak yang sangat temperamen, dimana saat aku marah, aku akan melempar segala benda yang ada di sekitar ku, suatu ketika Aku bermain boneka kesayangan ku, lalu tiba tiba datang Bella seorang anak panti yang dengan tiba tiba merebut merusak dan melempar boneka ku sontak saja aku langsung menjerit, begitu anak anak panti dan inu panti datang, Bella tidak mengaku bahkan mengatakan sebaliknya jika aku yang melakukannya sendiri. aku sangat marah dan melempar segala benda yang ada di sekitar ku, tanpa sengaja sebuah gunting ku lempar, dan mengenai kepala Rakhman kecil saat itu.dan kurasa bekasnya tidak akan hilang.
Kembali ke kamar Brenda*****
"Astaga sungguh sungguh masih ada.. jadi kamu beneran Rakhman.." aku menepuk lengannya.
"Bagaimana bisa kau tidak menemui ku selama ini.. Apakah kau tidak merindukan ku?" ucapku tersedu sedu.
Aku akan menceritakan semua selepas kau pindah ke kota Brenda.
__ADS_1
******
BERSAMBUNG.....