Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Patah hati Pertamaku


__ADS_3

Keesokan harinya....


Aku bangun pukul 07.00 lalu mandi, sarapan pagi.


"Selamat pagi Nona Brenda." Sapa Bik Sora sambil tersenyum.


"Selamat pagi." sambil menikmati sarapanku, tanpa menengok kepadanya .


"Nona tadi pagi tukang bunga datang kemari, dan mengantar Bunga ini." jelas bik Sora.


kulihat siapa pengirimnya.


"Ahhh, ini dari Richard. Bagaimana dia bisa tahu rumahku.." pikirku


lalu tiba tiba Handphone ku berbunyi, sebuah pesan masuk.


"Selamat Pagi Bunga Cantik ku." Sapa Richard lewat pesan singkat.


"Ya, selamat pagi juga Richard."balasku.


"Kau suka bunganya? " tanya Richard


"Yaa, tapi kuharap ini adalah bunga bank hahaha." Candaku.


"Jangankan, hanya bunga bank, Segala asetku adalah milikmu, bahkan diriku pun siap ku berikan kepada mu, asal kau mau menjadi pendamping ku.," balas Richard.


"Astaga, lelaki ini... dia membuat otakku membeku."pekik ku.


Aku tak membalas lagi

__ADS_1


Aku langsung bersiap pergi ke Perusahaan Hoki, untuk menyelesaikan beberapa berkas, yang menantiku beberapa hari lalu.


"Selamat pagi Nona Brenda." Ucap para pegawai berjejer menyambut ku, dengan kepala tertunduk.


"Ya, Selamat pagi, kembalilah pada pekerjaan kalian, jika ada keluhan silahkan ke ruanganku." titahku dengan dingin.


Para pegawaiku mengerti jika aku memang seseorang yang selain terlihat Cantik, Anggun, dan mempesona, namun juga dingin.


tapi sangat baik dan pengertian pada pegawai.


"Debora, Segera ke ruanganku dan, bawa berkas yang perlu aku tanda tangani." ucapku singkat.


"Baik, Nona Brenda. ini 9 berkas yang perlu anda tanda tangan, dan ini 1 pengajuan kerjasama dari Perusahaan EL." jelasnya dengan hati hati.


"Perusahaan EL ? mengapa aku baru mendengarnya?" ucapku terkejut.


"Itu adalah perusahaan yang di pimpin oleh CEO Tuan, Richard El. yang bekerja di bidang farmasi dan bioteknologi." terangnya.


"Apa saya perlu melakukan, reservasi pada perusahaan EL terlebih dahulu Nona Brenda ?" tanya dia dengan penuh perhatian.


"Ah, tidak perlu. biar aku yang mengurusnya sendiri." jelasku.


"Baik Nona Brenda, mungkin ada hal lain yang bisa saya lakukan, untuk anda?" Debora menawariku.


"Cukup kau bawa, berkas berkas ini. dan kembalilah pada pekerjaan mu." terangku.


"Ahh, mungkin ini cara Richard mendekati ku. hahaha, tapi... Bagaimana jika dia bicara mengacau seperti di pesan tadi pagi?" aku mulai kebingungan lagi.


Handphone ku berbunyi... sebuah panggilan masuk.

__ADS_1


"Halo, Richard.."


"Bagaimana? apakah hari ini kita bisa bertemu dan membicarakan Bisnis?


"Boleh, kita bertemu di gerai Makanan saat pertama kali kita bertemu." Tiba tiba telfon langsung mati.


"Ahh, sangat tidak sopan tuan El ini." gerutuku


Aku langsung pergi keluar kantor menuju Restaurant Big, tempat kami bertemu kemarin.


tak kusangka dia sudah berada di meja nomor 22, tempat kami kemarin.


"Maaf, sepertinya aku terlambat."


"Oh, tidak cantik... aku memang sudah ada disini sebelum menelfon mu."


"Hahaha, niat sekali kamu."


"Yaa, aku tidak ingin wanitaku menunggu."


aku terdiam tidak mengerti apa yang dia ucapkan.


"Katamu, kau akan membicarakan tentang Bisnis ?? Bagaimana soal itu.."


"Sesungguhnya aku ingin mengatakan hal yang lebih penting dari sebuah bisnis.


Brenda.... sebenarnya, Sejak pertama aku bertemu denganmu, aku sudah menyukai mu, dan aku ingin mengenalmu lebih dekat, atau aku langsung saja melamar mu ?"


HH ajka ua uoa ..

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2