Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Mas Frisya I


__ADS_3

Keesokan paginya...


tok..tok..tok..


"Mas.. Mas Frisya bangun..." seru ku di depan kamar Mas Frisya tidur.


"Apa sih dek, masih pagi udah bangunin mas.. kangen yaa.." sahut Frisya dari dalam kamar.


"Hayuk jalan jalan.. mumpung masih disini... aku mau jalan sendiri takut " ucap ku.


"Baiklah tunggu 5 menit yaa.."


"Iyak cepetan.."


Aku menunggu di depan pintu Kamar mas Frisya dengan menyender di pintu, sambil scroll layar handphone ku, berharap Gun woo menghubungi ku.


Sebenarnya aku sudah merindukan nya, tapi aku takut mengganggunya.


Tanpa sadar di tengah lamunan ku tidak menyadari pintu yang ku sandari dibuka oleh mas Frisya.


Aku langsung jatuh saat pintu terbuka..


**Geedebuk..***


"Aduuh.." seru ku.


"Loh dek kok malah jatuh kebawah sih.. sini lohh di lengan Mas.." ucap nya cekikikan.


"Aduh mas... sakit nih pantat ku.. Masnya sih gak reflek gitu lihat aku jatuh langsung pegangin kek.." ucap ku sambil cemberut.


"Bhahaha, ayo sini mas bantuin bangun katanya kangen yuk sini bangun keburu siang" ucapnya sambil terus menggoda ku.


"Idihh, bukan kangen mass.. tapii jalan jalann.." ucap ku tersenyum.


Aku curi curi pandang pada Mas Frisya sambil tersenyum malu, ternyata Rahman yang dulu imut imut dan lucu, sekarang sudah menjelma menjadi Mas Frisya yang Tampan, dengan dada bidang serta kemapanannya sekarang.


Pikiran nakal muncul di pikiran ku.


"Gimana yaa rasanya jika ku sentuh dada bidangnya.. ehemm, ehh ." ucap ku dalam hati sambil senyum senyum geli.


"Emang gitu ya ekspresi cewek kalo lagi mikir aneh aneh soal cowo ?" ucap mas Frisya.


Sontak pikiran nakal ku hilang,


"Bagaimana bisa dia tahu ap yang aku pikirkan ?? Hadidaww" pekik ku dalam hati.


"Apa an see.. iihh emang siapa yang lagi mikir aneh aneh.. yeee ." ucap ku sambil mengejeknya dengan menjulurkan lidah ku.


"Ihh, makin imut kamu ya dekk " puji mas Frisya.


"Idiih, aku imut emang udah dari orok kakak...ehh, mass hehehe maaf lupaa."


"Ah, lihat itu dek ada pohon buah kersen" seraya menunjuk pada suatu pohon.


"Mana...mana mass... ah boong yakk.. "


"Yee mangkanya tuh mata jangan lihat lurus kedepan aja, sesekali harus melihat kanan kiri dong.."


Aku mengikuti ucapannya untuk menengok ke sisi kanan dan kiri ku.


"Hehehe, iya aku kira jauhh disana mas, hehe."


"Wah banyak yang masak dek, itu merah merah."


"Ahh, iya biar aku ambil. " yak.. yakk.. hiyakk..." ucap ku sambil meloncat mencoba meraih buah kersen.

__ADS_1


"Hahaha, kamu padahal gak gendut, gak kurus tapi gak tinggi juga.. " Mas Frisya meledek.


"Iihh, body shamming yaaa... bisa aku laporin loo..."


"Laporin aja, kan emang kenyataan.. Mas mewakili para netizen haha "


"Iih mas Frisya, asal mas Frisya tahu yaaa.. ini adalah body goals yang diinginkan oleh banyak wanita taukk... gak tauk apa ??"


"Yaa, teresah lahh apa yang adek mau.." ucap nya sambil sibuk mengambil buah kersen.


Tanpa kesulitan, Mas Frisya mengambil buah kersen itu. karena tubuhnya pun yang tinggi semampai.


" Ih mass, jangan di habisin aku mauu.. aku mintaa ambilin dong mass..mass.. mas Frisya..." Rengek ku.


" Sangat manja, persis seperti yang Mas bayangkan, masih belum berubah."


"apaan sii... aku udah dewasa tauk 29 tahun, punya perusahaan, wanita karir yang sukses di usia muda." terang ku.


"Yayaya.. di tambah lagi banyak anak investor yang jatuh hati." ucap nya sambil mengertakan giginya.


"Masss.. itu.. aku pasti bisa mengambil nya jika mas mengangkat ku.. tolong dong..."


"sini biar aku pegang kaki mu dek." ucapnya seraya memeluk paha ku dan mengangkat ku hingga akhirnya aku meraih buah kersen ku.


"Yeeee.. makasih mas Frisya, ehmm einyakk.."ucap ku kegirangan.


"Oh ya bagaimana dengan kencan buta mu dek ??"


"Biasa aja, gak tertarik..."


"Apa kamu gak normal ??" ucap Frisya.


"Astagaa.. pertanyaan macam apa itu ???"


"Hehehe, abisnya kamu berkencan tapi bilang gak tertarik.. ."


Setelah 1 jam berjalan jalan, akhirnya kami sampai di rumah.


"Mas, btw aku kayaknya jadi males pulang deh.. pinginya disini aja..." manja ku.


"Yaudah, nikah aja yuk sama mas ??"


"Idihh, ngomong nikah kek ngomong mau bab nih mas Frisya." ucap ku sambil memonyongkan bibir ku.


" Kamu tuh kayak orang mau bab tapi sembelit, di ajakin beneran malah nahan nahan, akhirnya sulit beneran."ucap nya seraya terkekeh.


Aku melihat Mami yang berjalan menuju rumah.


"Mamii... mas Frisya godain aku mulu nih... cubit kek, nakal banget."


Mami hanya menggelengkan kepala.


"Eh kalian berdua daripada berantem mulu, sini ikut Mami ke pasar, barusan mami cari bahan makanan disini gak ada, orangnya pada keluar kota." ucap Mami pada kami.


"Pasarrr ???" Aku dan mas Frisya saling bertatapan.


"Iya, pasar.. bukan mall gays.." ucap mami kek anak muda.


" Bhahaha " Aku dan mas Frisya bebarengan.


"Hayuk mii, " seru ku sambil berlarian.. Mami dan mas Frisya menyusul dari belakang.


Sampai di depan gang aku langsung belok ke kanan. aku bercerita bila aku dan mas Frisya jalan jalan dan makan buah kersen.


Namun tiba tiba tak kudengar langkah kaki Mami dan mas Frisya, setelah aku menoleh... kulihat mereka ternyata berjalan berlawanan arah dengan ku.

__ADS_1


"Aiish, kalian..... " seru ku sambil berlarian menuju mereka.


" Hahaha " Mami dan mas Frisya tertawa geli melihat ku sebal karena salah jalan.


"Iihh di ketawain , tegaaa... bukannya ke pasar lewat sana yaa.." ucap ku.


"Mangkanya gadisss, sesekali tuh pulang.. jangan kerja mulu, pasarnya dimana.. lewatnya kemana.." ledek mas Frisya


"Emang salah ya mii.." tanya ku.


"Pasarnya itu udah pindah sejak 3 tahun lalu Bren... kamu itu perempuan harus tau loh." ucap mami.


"Iya mii, aku bakalan sering pulang deehh..." ucap ku.


Setelah 30 menit berjalan kaki, kamipun sampai di pasar...


"Bren, kamu sama mas Frisya ke arah sana yaa, beli jahe, kunyit, sama lengkuas." ucap mami.


"Oke mii.." ucap ku tanpa pikir panjang.


Aku dan mas Frisya berjalan ke arah Selatan pasar.


Sampai di suatu ruko aku mulai kebingungan dengan apa yang akan ku beli.


Aku mendengar ibu ibu menyebutkan beberapa bumbu dapur yang menurutku mirip dengan yang diminta mami.


"Mbak, kencur.. kunci.. sama...emmm.. jinten 1 kilo." ucap ku pada penjual bumbu itu.


"Dek kamu inget mami tadi nyuruh beli apaan?? "


"Tenang mas.." ucap ku meyakinkan


" hihi padahal aku juga gak tau apaan tadi yang di pesen mami ". ucap kudalam hati.


"Ini mbak.. 50.000 semuanya.." ucap nya sambil kedip kedip mata.


"Idihh, mbak lagi sakit yaa matanya kok kedip kedip gituu si.." tanya ku.


"gak mbak, itu... itu siapa sih ganteng amat mbakk.. kenalin napa ??" ucap nya genit.


"Oke." ucap ku.


"Mas itu diajak kenalan mbak mbak penjual tuuh, katanya ganteng amat." ucap ku sambil cemberut.


"Ah, hai mbak.. aku Frisya.." ucap mas Frisya membuat ku keheranan.


"Duuh, wes ganteng ramah lagi... mas ikut kerumah yaa.. aku pinter bikin masakan enak loo.. pasti suka dehh.." ucap mbak penjual dengan genitnya.


"Ah, udah aah.. aku mau pergi aja mau cari mami." aku memotong pembicaraan mereka.


Mas Frisya mengejar ku, yang berjalan cepat.


"Kenapa sih dekk.. kok jadi ketus begitu.." ucap mas Frisya.


"Ih, gak siapa yang ketus, cuma gak suka aja lihat cewek kok ya genitnya sedunia gitu."


"Kamu cemburu ??"


"No gak mungkin "


"Kita lihat aja nanti... nyesel kamu ngelepasin mas."


"Iih, itu Mami....Mamiii...Mamii.." ucap ku sedikit berteriak.


"Dek, jangan teriak teriak malu.."

__ADS_1


Aku tidak menjawabnya, aku hanya melirik saja.


Beberapa saat kemudian kami sudah ada di jalan pulang.


__ADS_2