Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Rumit


__ADS_3

"Pergi.. dasar tidak berguna, pergi.." teriak Mas Frisya pada pacarnya.. sungguh sangat kasar.


Aku mengelap muka ku yang basah kuyup karena air yang di siram Debora pada ku.


Mas Frisya kembali masuk, melepaskan jasnya dan segera memakaikan pada tubuh ku.


"Dekk.. kamu ga papa ??" tanya mas Frisya


"Aku mau pulang.. aku malu.." ucap ku.


Kami pun segera pulang... Entah mengapa tubuh ku rasanya kedinginan, sangat tidak nyaman.


"Dekk.. kamu kenapa ?? kok menggigil ??" ucap mas Frisya sambil memeriksa dahi ku.


"Dek, badan kamu kok panas banget..?? kamu sakit ??"


"Gak tahu mas.. rasanya kek mulai rasanya."


"Kita ke Rumah sakit ya...??"


"Tidak.. aku hanya sedikit tidak enak badan saja. setelah istirahat pasti lebih baik."


Beberapa menit kemudian aku tertidur...


Setelah sampai dirumah mas Frisya menggendong ku masuk ke dalam rumah..


"Loh, Nona Brenda kenapa tuan ??" tanya bik Sari


"Bik, tolong ambilkan air dan kompres ya buat Brenda.."


"Baik Tuan.."


Beberapa menit kemudian Mas Frisya mulai mengompres ku.


"Gun Woo.. jangan pergi.. aku ikut.." aku mengigau.


"Hm.. Manis sekali saat bisa melihat mu mengigau seperti ini Brenda.


"Tuan.. ini obatnya.." bik Sari memberikan obat penurun panas.


Perlahan mas Frisya membuat ku dalam posisi terduduk dan meminumkan obat penurun panas dengan hati hati.


"Lekaslah sembuh Brenda.. waktu kita tidak banyak untuk pergi ke rumah mami dan ayah mu bersama ku." keluh mas Frisya.


Tiba tiba sebuah telpon masuk di handphone mas Frisya.


"Hai Friz, apa yang terjadi ?? mengapa Debora meminta putus ??"


"Si ****** itu menyiramkan segelas air pada Brenda.. dan kini Brenda sedang sakit.."


"Benarkah ?? kau yakin Brenda sakit karena air yang di siram Debora ??"


"Entahlah Ram tapi, dia mengalami demam setelah kejadian penyiraman itu."


"Apa kau meremas tangan Debora ?? apa kau gila ?? Kau tidak bisa kasar pada semua wanita yang tidak kau sukai Friz."


"aku bahkan akan menuntunnya jika perlu... bagaimana menurut mu ??" ucap mas Frisya pada Rama dengan penuh nafsu membunuh.


"Sudahlah jangan.. bukankah ka masih membutuhkan dia ??"


"Aku tidak perduli, karena dia sudah menyakiti Brenda ku."


"Tolonglah Friz, berhenti melakukan hal hal yang merugikan dirimu sendiri."

__ADS_1


"kau urus saja si Debora itu, katakan yang sebenarnya agar dia tidak ceroboh melakukan hal konyol seperti itu."


Mas Frisya memutuskan telepon.


"Brenda.. Maafkan aku... segeralah bangun.. aku sangat sedih melihat mu seperti ini." Ucap mas Frisya.


Mas Frisya tertidur di samping tempat tidur ku.


Keesokan paginya aku terbangun, mendapati mas Frisya tidur sambil duduk disamping ku, aku mengelus rambut hitamnya.


"Kau sudah bangun Brenda ?? perlukah kita pergi ke rumah sakit ??"


"Tidak.. aku sudah lebih baik.. mengapa kau tidur disini.. mengapa tidak di sampingku saja?? " ucap Ku.


"Hm.. lekaslah sembuh Brenda agar kita bisa segera pergi.."


"Bagaimana dengan Debora ?? apakah dia masih marah ??"


"Tenanglah nanti akan ku jelaskan padanya."


"Aku percaya pada mu.. aku sangat merasa bersalah.."


Rama mengirim pesan pada Frisya..


"Friz Debora semakin marah bahkan dia tidak membalas pesan ku Bagaimana ini ??." Rama.


"Biar aku yang mengurusnya.." Frisya


"Hmmm... Brenda ku yang cantik.. aku harus pergi dulu.. ga papa kan ??"


"Jangann... disini saja dengan ku.." ucap ku sambil bermanja manja pada mas Frisya.


"Sebentar... Nanti aku akan kemari lagi okee."


"Jangan keterlaluan... kau bahkan membuat ku semakin sulit melepas mu, untuk orang lain.." keluh mas Frisya.


"Baiklah.. hati hati di jalan... hubungi aku saat mas ada waktu.."


Mas Frisya hanya mengangguk dan pergi. Frisya segera menelfon Rama


"Halo Ram, dimana Debora sekarang ??"


"Dia sekarang ada di toko bunga dekat cafe Bintang."


Frisya mematikan teleponnya dan segera memacu mobilnya ke toko bunga dekat cafe Bintang.


5 menit kemudian Frisya bertemu dengan Rama dan menunggu Debora. mereka melihat Debora keluar dari toko bunga.. saat melewati mobil Frisya dia langsung menarik tangan Debora untuk masuk ke dalam mobil.


"Haii.. kauu.. mengapa kau menarik ku sekasar ini ?? aku Seorang wanita tuan.. "


"Diamlah dan ikut bersama ku."


"Kalian menculik ku ??" ucap Debora.


"Hentikan, atau ku lempar kau keluar.." ucap Frisya kasar.


"Heyy Frizz dia itu wanita.. jangan terlalu kasar padanya.." ucap Rama mengingatkan.


Frisya terdiam dan mencoba menguasai dirinya. Mereka berhenti di rumah Frisya.


"Masuklah.." ucap Frisya dengan nada sedikit merendah.


"Tidak.... " ucap Debora sambil melihat ke arah Rama yang memberikan isyarat untuk tidak membantah ucapan Frisya.

__ADS_1


"Apaan??" tanya Debora.


"Diamlah jika kau masih ingin pulang hidup hidup dari sini." ucap Rama mewanti wanti.


"Apakah dia semenakutkan itu ??" tanya Debora.


"Ada pepatah mengatakan, kau boleh menganggu macan liar tapi jangan tuan Frisya.."


Debora sedikit ketakutan, meskipun dalam chatt Frisya tidak sama sekali kelihatan mempunyai seperti pribadi seperti itu.


"Duduklah..." ucap Frisya pada Debora.


"Ada apa ??" tanya Debora merendahkan suaranya.


"Apa kau menyukai ku Debora ??" ucap Frisya.


"Tentu.. jika aku tidak menyukai mu, aku tidak mungkin menjadi pacar mu.." ungkap Debora.


"Sayangnya itu hanya ada di mimpi mu Debora."


"Maksud mu ??" Debora tidak mengerti.


" Aku tidak pernah mengatakan cinta padamu, aku tidak pernah mencintai mu, bahkan aku tidak pernah berkirim pesan dengan mu."


"La.. laluu.. siiapa yang men Dm ku ??"


"Dia.." ucap Frisya sambil menunjuk Rama.


"Kauuu ??? apa apaan ini ?? jika kau yang menyukai ku mengapa kau memakai nama tuan Frisya ???" protes Debora pada Rama.


"Aku butuh sedikit bantuan mu Nona." ucap mas Frisya.


" Apa ?? apa kau ingin menggunakan aku agar Nona Brenda cemburu begitu ??" ucap Debora sambil melotot dan menunjuk nunjuk Frisya.


Rama hampir kehilangan akal melihat tingkah Debora yang tidak sopan menunjuk nunjuk Frisya.


"Turunkan tangan mu, atau ku buat jari mu tidak lagi dapat kau gunakan." ancam Frisya sambil menatap Debora dengan tatapan tajam.


Melihat Frisya mengucapkan hal itu, Debora gemetar ketakutan.


"Berpura pura lah menjadi kekasih ku... aku masih berharap Brenda mau melepaskan gun woo." ucap mas Frisya dengan mata berkaca kaca.


"Bukankah mereka akan segera bertunangan.. tapi ku dengar Nona Brenda belum sama sekali bertemu dengan ayah tuan Gun Woo.."


"Benarkah ?? "tanya mas Frisya tertarik.


" Iya tuan, ku dengar Gun Woo sedang membangun perusahaan nya sendiri, sedangkan perusahaan ayahnya sedang membutuhkan banyak investor, jadi jika Nona Brenda menikah dengan gun woo maka, ayahnya bisa menyelamatkan perusahaan nya.."


"Benarkah seperti itu ??" ucap Frisya.


"Jika memang seperti itu... mungkin kau bisa menjadi investor disana dan meminta dia agar membatalkan keinginannya untuk menikahi Brenda, Friz.." ucap Rama.


"Kau benar... tapi sayangnya aku tidak bisa melakukannya sendiri, karena ada yang harus aku lakukan dengan Brenda selama beberapa hari kedepan."


"Lalu ?? apa kita akan diam saja Friz.." ucap Rama.


"Tidak... untuk sementara kau urus dia Ram, berikan tawaran dalam jumlah yang cukup fantastis."


"Baik Friz.. aku akan melakukan sebaik mungkin.."


Debora hanya melihat Frisya dan Rama. ternyata ada orang yang mencintai Nona Brenda hingga sanggup mengeluarkan uang berapa pun untuknya.


****

__ADS_1


__ADS_2