Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Tawaran


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Brenda menundukkan kepalanya.


"Kita harus lekas melanjutkan perjalanan, jika tidak mereka akan merasa khawatir." Ucap Brenda lirih.


"Kau benar benar masih menyukai ku ?" Tanya Frisya.


Brenda menghela nafas panjang.


"Banyak hal yang masih harus kupikirkan dari sekedar hal seperti ini." Ucap Brenda sambil membuka pintu mobil.


"Pak masuklah kita harus melanjutkan perjalanan." Ucap Brenda menyadari sopir yang sejak tadi maju mundur di depan mobil.


Beberapa saat kemudian mereka melanjutkan perjalanan, 1 jam kemudian...


"De, lihat ini jalan yang dulu kita lewati berdua kan ?" Ucap Frisya.


Brenda mengangguk.


"Lihat, itu pohon buah ceris yang dulu kita datangi saat kita jalan jalan kemari." Kenang Frisya.


"Saat itu aku sangat bahagia." Ucap Brenda.


"Apa sekarang kau tidak bahagia ?" Tanya Frisya.


"Entahlah, jangan banyak bertanya kita akan segera sampai." Ucap Brenda dingin.


Frisya merangkul bahu Brenda.


"Berhenti memperlakukan ku seperti ini, kau membuat ku semakin sulit melupakan mu." Ucap Brenda tegas.


"Mengapa...." Ucapan Frisya terputus.


"Permisi tuan dan nona, kita sudah sampai." Ucap si sopir.


Brenda langsung hendak bergegas keluar dari mobil, namun dia menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Frisya.


Brenda tersenyum...


"Mas Fris, ayo turun mami akan senang saat melihat mu." Ucap Brenda riang.


Frisya tersenyum. Brenda menarik tangan Frisya lembut.


"Dimana ruangannya ?" Tanya Frisya.


"Kita akan segera sampai." Ucap Brenda.


Beberapa saat kemudian ketika mereka sampai.


Suasana menjadi hening, beberapa dokter dan perawat berlalu lalang. Brenda melihat hal itu, pikirannya kacau nafasnya sesak. Frisya menariknya dan memeluknya di dadanya.


Brenda mulai meneteskan air .


"Mas Fris, mama mas..." Ucap Brenda penuh linangan air mata.


Frisya tidak tahan melihat Brenda yang terlihat rapuh.


"Dokter, apa yang terjadi ?" Tanya Frisya pada seorang dokter.


"Keadaannya melemah tuan, maaf saya tidak bisa mengatakan apapun saat ini." Ucap si dokter.


"Mas Fris, jika terjadi sesuatu pada Mami dan Ayah aku tidak akan memaafkan diriku sendiri." Ucap Brenda.


Frisya mengelus punggung Brenda.


"Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan mu." Ucap Frisya menenangkan Brenda.


1 jam kemudian. Brenda terlihat seperti kehilangan semangatnya. Tiba tiba suara jeritan terdengar dari dalam ruangan itu. Brenda terperanjat kaget dan segera berdiri.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian dua orang perawat mendorong seseorang yang terbujur di tempat tidur rumah sakit dengan seluruh tubuh tertutup dengan kain.


"Mami... Mamiiii... mam..." Brenda pingsan seketika.


Frisya membelalakkan matanya, seketika air matanya berderai deras. Beberapa saat kemudian Brenda dibawa ke ruang ugd. tak lama kemudian Brenda sadar.


Brenda membuka matanya dan melebarkan pandangannya.


"Mas Fris... Mami mas..." Ucap Brenda kembali menangis.


"Bertahanlah, mungkin ini yang terbaik untuk mami." Ucap Frisya.


"Ayo kita lihat mami untuk terakhir kalinya." Ucap Frisya.


Brenda masih lemas tapi dia menguatkan dirinya dan berusaha berjalan menuju ruang jenazah sambil merangkul Frisya.


Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di depan jenazah tadi. Perlahan Frisya membuka penutupnya. Seketika Brenda menjerit.


"Mas Fris, mami mas Fris..." Ucap Brenda sambil menangis sesenggukan.


"Brenda, kamu ngapain nangis ? Coba kamu lihat dulu." Ucap Frisya


"Gak mas Fris, aku gak sanggup lihat mami seperti ini." Ucap Brenda sambil menenggelamkan wajahnya di dada Frisya.


"Ya tapi lihat dong itu bukan mami." Ucap Frisya keheranan.


"Hahhhh ??" sahut Brenda mendengar ucapan Frisya.


Beberapa saat kemudian Brenda memberanikan diri melihat jenazah itu.


"Huaaaaaa...!!!" jerit Brenda.


Setelah itu mereka duduk di kantin, Frisya membeli minuman untuk Brenda. Brenda masih terdiam mematung mengingat kejadian tadi.


"Kamu baik baik saja kan de ?" Tanya Frisya sambil menahan tawa.


Frisya menggelengkan kepalanya.


"Huaa, bagaimana bisa aku sampai salah kamar." Rengek Brenda.


Terdengar suara gelak tawa Frisya mendengar rengekan Brenda.


"Berhentilah menertawakan diri ku, aku sungguh malu sekali.. sepanjang jalan pikiran ku hanya tertuju pada ayah dan mami, dan bagaimana caranya aku bisa membawamu segera kemari." Ucap Brenda.


Frisya mengelus rambut Brenda.


"Mas Fris, aku ingin membuat sebuah kontak dengan mu." Ucap Brenda.


"Kontrak ?" Tanya Frisya.


"Ya, kontrak kerjasama... Aku sungguh sungguh membutuhkan bantuan mu sekarang." Ucap Brenda.


"Aku ingin mendengarnya." Ucap Frisya sambil melipat kedua tangannya.


"Berpura puralah untuk kembali padaku sampai keadaan mami membaik." Ucap Brenda penuh harap.


"Apa yang kau tawarkan ?" Ucap Frisya.


"Kau boleh mengambil saham ku yang berada di 20 perusahaan berbeda." Ucap Brenda.


"Berapa totalnya." Ucap Frisya sambil menenggak minumannya.


"Aku perlu waktu untuk memeriksanya, tapi aku yakin itu cukup besar." Ucap Frisya.


"Kau mengapa menjadi berpikiran pendek seperti ini ?" Ucap Frisya.


"Kau bahkan sebenarnya bisa meminta kepada ku tanpa menawarkan apapun." Ucap Frisya.

__ADS_1


"Aku ingin kau langsung bersedia, aku tidak memiliki waktu untuk merayu mu." Ucap Brenda.


"Aku bisa melakukan hal itu tanpa bayaran apapun, aku juga anaknya." Ucap Frisya.


"Tidak, sampai kapan pun kau adalah orang lain kecuali saat kau menjadi suami ku dulu sudah terimalah, aku tidak ingin berhutang budi apapun." Ucap Brenda.


"kau harus tahu apapun yang sudah kau janjikan akan benar benar menjadi milik ku, aku tidak akan ragu ragu untuk mengambil apa yang menjadi milik ku." Ucap Frisya.


"Aku mengenalmu dengan baik." Lanjut Brenda.


"Baiklah, jadi mulai hari ini kau akan berpura pura menjadi pasangan ku, ahh tidak hanya itu kita harus nampak sangat bahagia." Ucap Brenda tersenyum pada Frisya.


Frisya tersenyum ngeri melihat senyum Brenda.


"Baiklah, ayo kita ke kamar mami dan ayah." Ucap Brenda.


Brenda dan Frisya berjalan berdampingan menuju kamar mami dan ayah. Beberapa saat kemudian mereka sampai.


"Kau yakin ini kamarnya ?" Ucap Frisya.


"Hehe, iya aku yakin." Ucap Brenda.


Frisya mengetuk pintu, Brenda membuka pintunya.


"Mami, ayah...!!" Seru Brenda.


"Frisya..." Ucap mami dan ayah bersamaan.


"Mami, ayah Frisya sangat merindukan kalian." Ucap Frisya sambil memeluk erat mami dan ayah bergantian.


"Mami sangat senang bisa melihat kamu disini nak." Ucap Mami.


"Brenda kemarilah..." Panggil ayah.


"Akhirnya ada juga yang menyadari kehadiran ku." Ucap Brenda dalam hati.


"Terimakasih ya, kamu berhasil membawa Frisya kemari menemui mami dan ayah." Ucap Ayah.


"Untuk apa berterimakasih ayah ? Lagipula kami juga masih saling menyayangi satu sama lain." Ucap Brenda.


"Maksudnya ?" Tanya Mami.


"Mami, Frisya sebenarnya tidak bisa lama-lama jauh dari Brenda, jadi kami memutuskan untuk menjalin hubungan kembali."Ucap Frisya.


"Apa kalian akan rujuk ?" Ucap Ayah.


"Hahaha, untuk itu kami belum terpikir sampai disana, biarlah semua berjalan seperti air mengalir saja yah, jika memang mas Frisya adalah jodoh Brenda pasti kami akan segera kembali." Ucap Brenda.


Mami dan ayah terlihat sangat bahagia mendengar hal itu.


"Mami, ayah, mohon segeralah sembuh... Kita akan melakukan hal hal menyenangkan Frisya berjanji." Ucap Frisya.


Mami tersenyum melihat Frisya dan Brenda secara bergantian. Beberapa saat kemudian dokter dan beberapa perawat pun datang untuk mengecek kondisi ayah dan mami.


"Bagaimana dokter ?" Tanya Frisya.


"Hm, hasil pemeriksaannya lebih baik dari tadi pagi, apa anda sedang bahagia nyonya ?" Tanya dokter.


"Iya dokter putra saya baru saja datang." Ucap mami.


"Aah, anda pasti putranya ya." Ucap dokter pada Frisya.


Frisya mengangguk .


"Tuan sebaiknya anda harus sering berkunjung, mereka akan menjadi lebih bahagia saat anda sering mengunjungi mereka." Ucap dokter.


"Terimakasih dokter atas saran anda saya akan lebih sering berkunjung." Ucap Frisya senang mendengar keadaan mami membaik dan itu berkat dirinya.

__ADS_1


"Baiklah, jika besok pagi keadaan anda terus seperti ini kalian berdua akan diperbolehkan untuk pulang." Ucap dokter membuat semuanya bahagia.


__ADS_2