
Aku pergi menuju parkiran, dan segera melajukan mobil ku untuk pergi ke mini market untuk membeli sabun untuk aku membersihkan rumah, dan segera pulang.
Saat sampai di depan rumah, aku hendak membuka pintu gerbang. Aku melihat Mas Frisya berdiri sambil menyilangkan kaki seperti sudah menunggu ku.
"Ngapain disini ?? Mau jutekin aku lagi ?" tanya ku
"Nggak mas Frisya hanya mau minta segelas kopi, boleh ??" ucap Mas Frisya.
Aku tidak yakin, tapi dia menatap ku dengan tatapan yang tidak aku mengerti.
"Jangan menatap ku seperti itu... masuklah bik Sari tidak akan pulang hari ini, jadi aku lagi sibuk."
"Baiklah aku tidak akan mengganggumu Bren.." ucap mas Frisya.
"Duduklah dulu Mas, aku buatin Kopinya."
"Astaga Brenda.. ini rumah perempuan.. kok berantakan sekali...???"
"Hehe Mangkanya aku harus bersih bersih.."
"Terimakasih..." ucap mas Frisya seraya mengambil segelas kopi buatan ku.
"Mas Frisya aku ganti baju dulu yaa.. gerah nih.." ucap ku.
"Mas juga gerah loh dek.." ucapnya seraya mengedipkan mata.
"Sekarang adek tadi Bren, Brenda.. " gerutu ku sambil menggelengkan kepala.
5 menit kemudian aku sudah keluar mengenakan, pakaian ternyaman ku yaitu daster. karena aku pikir pasti akan lebih leluasa untuk bersih bersih dengan pakaian seperti ini.
Saat aku berjalan ke bawah, mata mas Frisya terus mengikuti ku hingga aku sampai di hadapannya.
"Kamu kenapa mas ??" ucap ku sambil memulai membersihkan sofa tempat mas Frisya duduk.
Mas Frisya berdiri dan memeluk ku dari belakang.
"Mas apa yang kamu lakukan.."
Mas Frisya terlihat gemas saat melihat ku mengenakan daster yang terlihat berukuran lebih besar dari tubuh ku.
Tak lama kemudian, Biar mas ikut bantuin kamu bersih bersih.... " ucap Frisya.
"Tidak perlu, itu berlebihan mas Frisya.. " ucap ku menolak.
"Ya, tapi aku tidak tahan jika hanya melihat saja.. " ucap Frisya..
"Apa kau sudah terbiasa melakukan hal seperti ini ?" tanya ku.
"Tentu saja, aku harus membiasakan diri, karena ini sangat menyenangkan bisa melakukannya bersama seorang yang kucintai.. " ucapannya membuat ku malu.
Setelah selesai membantu ku berbenah, mas Frisya tertidur di sofa ruang tamu, aku tidak tega melihatnya, jadi aku memberikannya bantal dan selimut hangat.
__ADS_1
"Kau pria yang sangat manis mas Frisya " ucap Brenda.
waktu sudah menjelang sore, mas Frisya terbangun aku yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi, hanya sedang berpura pura sedang memejamkan mata.
"Brenda.. maafkan aku, yang merepotkan mu, aku kagum padamu karena kau mau melakukan ini sendiri, kau sungguh sungguh calon istri idaman." ucap mas Frisya seraya mengecup kening ku.
"Bukankah itu adalah sebuah kewajiban setiap wanita mas Frisya ?" ucap ku sambil membuka mata.
"Kau mendengarnya... ?" mas Frisya kaget.
"Tentu, aku kan sudah bangun daritadi mas.." ucap ku.
"Nakal kamu ya.." sambil mas Frisya mencubit hidung ku.
"Apa kamu bener Rakhman kecil ku dulu ya mas ??"
"Emang kenapa ?? " menatap ku tajam.
"Menikahlah dengan ku... aku berjanji akan memberikan semua aset ku untuk mu dek.."
"Maass... gak semuanya akan berakhir dengan uang."
"Kamu punya uang... sedang Gun Woo memiliki hati ku." jawab ku.
Mas Frisya terdiam...
"Mas Frisya.. kamu beneran pacaran sama Debora ??"
"Apa Debora akan marah jika tahu bosnya melakukan hal aneh dengan pacarnya ??"
"Hahaha, Brendaa.. Brendaa... kamu pikir karena dia asisten mu maka dia tidak berhak marah.. begitu ??"
"Yakali mas.. soalnya dia berkali kali bilang kalo dia gak pantes buat kamu.. pantesnya tuh sama sekelas aku gitu.."
"Yaaa, entahlah... pokoknya kamu jangan menangis kalo tiba tiba dapat undangan pernikahan yaa."
"Loh, kamu udah mau nikahin dia ??? ngebet amat ?? beneran ?? bulan ini kah ??"
" ya gak gitu juga kali bren, udah dehh mas pulang dulu.."
"iya iyaa.. bercanda.. jangan marah dong" ucap ku sambil menghentikan langkahnya.
"Mas, bermalam disini yaa.. aku takut.. "
"Iya, sini biar mas mu berasa jadi suami mu untuk malam ini saja."
(suara handphone berdering)
"Haloo.. "
"Halo Brenda ku sayang... bagaimana kabar mu?? "
__ADS_1
"Gun woo... hmmmm kangeennn... riinnnddduuuuuu.... sayaannggg.." manja ku pada gun woo.
"Apakah kau sedang berbohong ??? jika kau rinduu pasti kau menghubungi ku, kau bahkan tidak pernah menghubungi ku sejak aku pergi" keluh gun woo.
"Sebenarnya aku ingin menghubungi mu setiap aku merindukan mu.. tapi terkadang aku berpikir itu akan mengganggu pekerjaan mu.. sedang pekerjaan ku sendiri juga sedang sibuk sibuk nya." jelas ku.
"Apakah kau masih mencintai ku ??" tanya Gun woo.
"Sangaattt... sangat, mencintaimu... Apakah kau sudah tidak mencintai ku ??"
"Brendaa.. aku disini berjuang untuk mu.. aku akan membahagiakan mu, aku berjanji."
"kapan sih pulang sayang... masih lama ya.."
"Sabar 5 bulan lagi aku akan segera pulang, dan kita akan segera menikah..Apakah kau setuju..??"
"Sangat setuju.. tapi... sebelum bertunangan dan menikah jangan lupa, ka harus segera bertemu dengan ayah dan mami ku.."
"Kau benar, bagaimana bisa aku melupakan calon mertua ku.. aku akan membawakan mereka banyak hadiah..."
"Ahh, kau berlebihan gun woo..."
Aku dan Gun Woo masih terus membicarakan tentang kami, saling melepas rindu, saling menggoda dan saling memuji.
tanpa terasa 2 jam sudah kami bertelepon, aku lupa jika mas Frisya masih ada bersama ku di kamar.
"Ini sudah 2 jam Brenda... jika masih berlanjut aku pergi saja." ucap mas Frisya sambil berbisik.
"Astaga Sayang, aku lupa... aku ada beberapa berkas yang harus aku cek, karena besok pagi ada meeting.. bisa kita melanjutkannya besok??" ucap ku sambil memegangi tangan mas Frisya enggan melepasnya pergi.
"Baiklah, hati hati di sana.. jaga hati ku.. muah"
"muah.. percayalah menjaga cinta mu adalah kewajiban ku."
"Bye Brenda ku sayang.."
"Bye gun woo ku sayangg..."
Aku segera menutup telfon.
"Mas... kamu marah ??"
"Tidak... karena sekalipun aku marah.. tidak ada yang bisa kulakukan."
"kita minum di balkon yuk.."
"Apakah kau sejago itu hingga mengajak ku?"
"Tentu tidak, tapi karena biasanya akan banyak yang menolong ku jadi sekalipun saat mabuk aku menyedihkan, tapi aku tetap selamat, hihihi "
Malam ini pun kami habiskan dengan minum bersama, entah aku minum berapa gelas.. tapi yang aku tahu saat pagi aku sudah tertidur di kamar sedang mas Frisya tidur di sofa.
__ADS_1