
Keesokan harinya...
Ini adalah hari libur jadi Brenda sedikit bermalas malasan. Brenda bahkan enggan makan dengan benar, dia menscroll layar handphonenya terus menerus. Bahkan salad sayuran hijau yang disukainya akhir akhir ini tidak bisa membuatnya makan dengan benar.
"Nona Brenda, apa ada yang mengganggu pikiran anda ? Mengapa sejak tadi anda terus mengacuhkan makanan anda ?" Tanya Bik Sari khawatir.
"Aku baik baik saja bik, aku hanya sedang bermalas-malasan saja." Ucap Brenda tanpa menatap bik Sari yang berada dihadapannya.
"Nona Brenda, segera menikahlah lagi." Ucap Bik Sari.
Brenda mengalihkan pandangannya ke bik Sari.
"Ada apa bik ? Apa aku terlihat menyedihkan ?" Ucap Brenda sambil memperhatikan bik Sari.
"Seharusnya anda setidaknya sudah memiliki seorang putra atau seorang putri yang cantik seperti anda." Ucap Bik Sari.
"Ya, mau bagaimana lagi bik... Aku juga tidak mungkin menghamili diriku sendiri." Ucap Brenda seenaknya.
"Anda bisa mulai dengan seseorang yang bernama tuan Ashlan itu." Ucap Bik Sari.
"Ashlan ? Hahaha, kami hanya berteman bik, tidak lebih dari itu." Sanggah Brenda.
"Tapi hampir setiap hari dia datang dan membawa tanaman bunga kemari." Ucap Bik Sari menjelaskan.
"Apa maksudnya membawa tanaman bunga kemari ?" Brenda penasaran.
"Apalagi nona ? Dia membawa tanaman bunga untuk ditanam disini, itu adalah suatu tanda jika dia ingin sesuatu tertanam disini dan berbunga dengan indah." Terang bik Sari membuat Brenda mengerti.
"Hahaha, tapi sayangnya hubungan diantara kami tidak seperti itu." Ucap Brenda.
"Nona Brenda, jangan menunggu tuan Frisya lagi... Dia sepertinya benar-benar sudah tidak menginginkan anda." Ucap bik Sari.
"Darimana bibik tahu ?" Tanya Brenda.
"Saya tinggal bersama anda sejak anda belum genap berusia 20 tahun, hingga sekarang nona Brenda, bagaimana saya tidak tahu tentang anda." Ucap Bik Sari.
"Ya, mau bagaimana lagi... aku tetap tidak mengerti." Sela Brenda.
"Saya tahu, selama setahun ini, anda tidak pernah berhenti mengirimkan makanan, pada tuan Frisya." ucap bik Sari.
Brenda terkejut dengan ucapan bik Sari.
"Ekhemm... Darimana kau mengetahuinya ?" Tanya Brenda.
"Anda bukan tipe orang yang mudah menyerah nona, saya tahu itu." Ucap bik Sari
"Lalu, apa masalahnya ? Aku masih mencintai Frisya, aku masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama dengannya, aku ingin memiliki anak dengannya, aku sangat ingin menua dengannya, apa aku salah ?" Ucap Brenda penuh kesal.
"Tidak salah nona Brenda... Asalkan semua itu berbalas, tapi tidak dengan ini.." Ucap bik Sari.
"Tuan Frisya tidak pernah menerima apapun pemberian anda, karena dia tahu anda yang membawanya." Ucap Bik Sari.
Mata Brenda berkaca kaca.
"Sudahlah bik, jangan membahas Frisya lagi... Bagaimanapun dan seperti apapun dia, aku akan kembali bersamanya." Ucap Brenda bertekad.
"Bagaimana jika dia menolak ?" Jawab bik Sari
"Itu artinya, Frisya ingin aku membawanya mati bersama ku, bersama perasaan ini." jelas Brenda.
Bik Sari tidak mampu lagi menjawab ucapan nonanya itu karena Brenda mungkin lebih keras dari batu, meskipun perasaannya lebih lembut dari sutra.
Brenda segera kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan segera pergi keluar untuk sekedar mencari udara segar.
"Nona, ini sepatu anda." Ucap bik Sari.
__ADS_1
"Terimakasih.." Sahut Brenda singkat.
"Saya minta maaf atas kelancangan saya ikut campur dalam urusan anda nona Brenda." Ucap bik Sari.
"Bik, kamu bahkan sudah seperti Mami bagiku... Oh ya, jika bibik merindukan anak bibik, bibik boleh pulang beberapa hari." Ucap Brenda
"Apa itu boleh saya lakukan nona ?" Tanya Bik Sari.
"Tentu saja, aku tahu bibik sangat merindukannya apalagi cucu bibik, sudah pulanglah saja sementara waktu." Ucap Brenda manis.
"Baik nona Brenda, saya sangat bersyukur dengan kemurahan hati anda." Ucap Bik Sari.
"Tentu saja, aku yakin bibik betah bekerja dengan ku juga karena itu kan ?" Ucap Brenda.
Bik Sari mengangguk. Beberapa saat kemudian Brenda mulai keluar dari rumahnya, begitu melewati gerbang rumah, Brenda melihat Ashlan duduk di kap mobilnya dengan segelas kopi panas di tangannya.
Brenda memperhatikannya.
"Hai !!" Sapa Ashlan.
"Hai, mengapa kau berada di luar sini ?" Tanya Brenda.
"Aku menunggu mu keluar." Sahut Ashlan.
"Apa bik Sari dan kau sudah saling berkomplot untuk memata mataiku sekarang ?" Ucap Brenda sambil memicingkan matanya.
"Aah, tidak bukan begitu... Aku dulu pernah bertanya pada Bik Sari, apa dihari libur seperti ini kau suka pergi keluar ?" Jelas Ashlan.
"Lalu ?" Tanya Brenda.
"Lalu bik Sari bilang jika kau akan senang keluar dari rumah disaat hari sedikit mendung dan angin berhembus cukup kencang." Ucap Ashlan.
"Benarkah aku seperti itu ? Aku bahkan baru menyadarinya." Ucap Brenda sambil menyenderkan tubuhnya pada mobil Ashlan.
"Bukankah itu milik mu ?" Ucap Brenda.
"Kau boleh meminumnya." Lanjut Ashlan.
Brenda tersenyum.
"Terimakasih..." Lanjut Brenda.
Ashlan menatap Brenda dengan mata berbinar, dan Brenda menyadarinya.
"Hai, berhentilah menatapku dengan mata besar mu itu, kau membuat ku malu..." Ucap Brenda malu.
Ashlan menghela nafas panjang.
"Berciuman di suasana seperti ini memang menyenangkan." ucap Ashlan.
"Hahaha, benar, tapi kau harus melakukannya dengan seseorang yang kau sukai." Ucap Brenda sambil meminum kopinya.
"Tentu saja, dan aku baru saja melakukannya." Ucap Ashlan.
"Kapan ? Dimana ? Siapa dia ?" Tanya Brenda.
"Siapa lagi ? Tentu saja, kau pasti Brenda..." Ucap Ashlan membuat Brenda tidak sengaja tersedak.
"Hai, berhati hatilah..." Ucap Ashlan.
"Bagaimana bisa kau mengatakan jika kau berciuman dengan ku ? Kapan aku melakukannya ?" Ucap Brenda tidak terima.
"Hai, kopi itu adalah milik ku, dan disana ada bekas bibir ku dan kau juga meminumnya, bukankah kita sudah berciuman secara tidak langsung ?" Ucap Ashlan sambil terkekeh.
"Aissh, lihat betapa menyebalkannya dirimu." Ucap Brenda sambil tersenyum melihat tingkah konyol Ashlan.
__ADS_1
"Kau tersenyum ? Waaw, langit memang benar sedang mendung, angin begitu kencang, tapi rasanya mengapa begitu hangat dan begitu nyaman dengan semua ini saat kau didekat ku dengan senyuman itu.." Ucap Ashlan.
"Astaga, pria ini... Mengapa kau suka sekali menggombal... Apa itu jurus terbaik mu ?" Ucap Brenda.
"Brenda, berkencanlah dengan ku... Aku akan membuat dunia mu berubah, aku akan membawamu pergi dari dunia kelam mu." Ucap Ashlan bersungguh sungguh.
"Aah, jangan menggodaku, aku tidak ingin kau mati karena pesona ku." Ucap Brenda asal asalan.
"Tapi aku sudah jatuh mati dalam pelukan mu sejak hari itu." Ucap Ashlan.
"Kapan ?" Sahut Brenda enteng.
"Kencan buta yang pernah kita lakukan saat itu, apa aku begitu tidak menariknya dimatamu, hingga kau dengan mudah melupakan ku ?" Tanya Ashlan.
Brenda membuang muka.
"Hari ini aku ingin pergi ke taman, apa kau ingin menemani ku ?" Tanya Brenda, mengalihkan pembicaraan.
"Apa kau akan bergelantungan disana seperti anak anak kecil itu ?" Tanya Ashlan.
"Tidak, aku hanya ingin bermain ayunan, jungkat-jungkit dan lompat tali." Ucap Brenda terkekeh geli sambil berlari mendahului Ashlan.
"Oh astaga wanita itu, sungguh sungguh seperti gadis 20 tahunan." decak kagum Ashlan.
"Hai, tunggu aku..." Ucap Ashlan sambil berlari menuju Brenda.
Ashlan ngos-ngosan.
"Astagaa, apa kita berlari berpuluh-puluh meter ? Mengapa kau terlihat begitu lelah." Ucap Brenda.
"Kau berlari begitu cepat, aku sungguh tidak bisa mengejar mu." Sanggah Ashlan.
Brenda hanya menggelengkan kepalanya sambil membeli minuman sehat disana.
Ashlan duduk sambil mengelus tungkai kakinya.
"Ah, seharusnya aku tadi naik mobil saja... Mengapa aku harus mengikutinya dengan berlarian." keluh Ashlan.
Beberapa saat kemudian Brenda kembali, Brenda melihat Ashlan membuka sepatu pantofelnya.
"Hai, apa kaki mu sakit karena berlarian tadi ?" tanya Brenda.
"Hahaha, kau benar... Bukankah ini sangat memalukan, aku seorang pria tapi aku tidak mampu menandingi mu untuk berlari." Ashlan tertawa garing.
"Kau sedang kesakitan, apanya yang lucu ?" Ucap Brenda sambil memperhatikan kaki Ashlan.
"Minumlah ini, aku akan mencari sesuatu untuk kaki mu." Ucap Brenda.
"Maaf merepotkan mu." Ashlan menyesal.
Brenda tersenyum dan segera pergi mencari sesuatu. 5 menit kemudian Brenda kembali dengan minyak herbal.
"Kemarikan kaki mu, aku akan mengoleskan minyak ini agar sakitnya reda." Ucap Brenda
"Kau yakin ?" Ucap Ashlan.
"Iya, kemarikan atau akan ku tarik paksa." Ancam Brenda.
"Bahkan sekalipun kaki ku sangat bau." Ucap Ashlan.
"Astaga, sial pria ini sungguh sungguh membuat ku berpikir dua kali." Ucap Brenda takut jika kaki Ashlan benar benar bau.
"Hahaha, kau ternyata sangat lucu Brenda. Aku menyukai mu, kau sungguh wanita idaman." Ucap Ashlan terang terangan.
Brenda terdiam sambil mulai mengoleskan minyak pada kaki Ashlan.
__ADS_1