
"Kau tahulah seperti apa Frisya tanpa m...." Rama tidak melanjutkan ucapan nya.
"Apa ?? tanpa apa ??" tanya Brenda.
"Ah, tidak... dia baik baik saja.." ucap Rama sambil melihat ke arah jam tangannya.
"Kau tahulah seperti apa Frisya tanpa m...." Rama tidak melanjutkan ucapan nya.
"Apa ?? tanpa apa ??" tanya Brenda.
"Apakah kau akan pergi ??" tanya Brenda.
"Iya, maaf tidak bisa menemani mu lebih lama, btw kamu tinggal dimana ??" tanya Rama.
"Barra Hotels, datanglah saat kau ada waktu.." ucap Brenda.
"Aku akan datang... Baiklah aku akan pergi dulu.." pamit Rama.
"Baiklah hati hati aku menunggu.." ucap Brenda.
***** Kediaman Frisya..
"Wanita Bodoh !!! aku hanya meminta mu untuk memberi ku seorang anak, tapi kau tidak bisa !! " teriak seseorang dari dalam rumah saat Rama kembali ke tempat tinggalnya sekarang.
"Kau yang bodoh !! bagaimana bisa aku melahirkan seorang anak, sedang kau tidak pernah menyentuh ku !!" teriak seorang wanita membalas ucapan lelaki itu.
"Oh, jadi kau ingin aku menyentuh tubuh mu yang buruk itu, hahaha jangan bermimpi !! " ucap Si lelaki.
"Kau yang jangan bermimpi !! Apalagi bermimpi memiliki anak tanpa menyentuh istri mu sedikit pun, karena itu menjijikan. !!" teriak wanita itu lagi.
Plak..
Plak..
Dua tamparan keras mendarat untuk yang kesekian kalinya. Si wanita itu menangis tersedu sedu mendapatkan perlakuan kasar itu.
Rama yang hendak masuk hanya bisa terdiam sambil mengepalkan tangan, tidak berdaya melawan Frisya meskipun wanita yang disukainya mendapatkan perlakuan kasar dari Frisya.
Rama pergi menuju tepi tebing, disana dia bisa berteriak, melepaskan semua kekesalannya.
"Mengapa orang baik seperti Debora harus hidup menderita dan hidup dengan lelaki yang tidak pernah dia cintai Tuhan...." teriak Rama.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membantunya.. aku tidak mampu melihatnya disakiti lagi oleh Frisya." teriak Rama sambil berlutut, meratapi ketidak berdayaannya.
Tiba tiba di tengah keputus asaan Rama, dia teringat akan seseorang yang dia temui tadi siang.
"Brenda... Brenda.. yaaa.. Brenda, hanya brenda jalan keluar dari semua kesulitan Debora.." ucap Rama mendapatkan ide.
****
__ADS_1
Keesokan paginya...
Rama segera bergegas pergi menuju Barra Hotels tempat dimana Brenda menginap.
Namun saat melewati halaman, ada Frisya yang sedang duduk menikmati mentari pagi.
"Mau pergi kemana kau Ram. ?" tanya Frisya.
"Hm.. aku.. aku sedang tidak enak badan nih Fris, aku akan pergi sebentar untuk membeli obat." ucap Rama.
Frisya terdiam dan menatap Rama dengan wajah tidak suka, bagi semua pelayan dan orang yang ada di sekitar Frisya, itu bukan pemandangan yang baru, karena semenjak pergi meninggalkan Brenda, seakan akan kebahagiaannya dia tinggalkan bersama Brenda.
"Aku pergi.." ucap Rama.
Rama tidak mau berlama lama ditatap seperti itu oleh Frisya, tatapan itu membuat Rama bergidik ngeri.
Rama segera bergegas memacu mobilnya dan segera sampai di Barra Hotels.
*****
"Permisi Nona, apakah yang menginap disini ada yang bernama Brenda Edelweis ??" tanya Rama pada seorang resepsionis.
"Tunggu sebentar tuan.." ucap si resepsionis.
"Ada tuan di kamar 188 lantai 4." ucap resepsionis.
"Terimakasih..." ucap Rama.
****
"Sebentar.." ucap Brenda.
Brenda segera pergi membuka pintu kamar.
"Ramaa.... masuklah..." ucap Brenda senang.
"Apakah kau baru selesai mandi ??" tanya Rama saat melihat Brenda hanya mengenakan handuk.
"Hehe iya.. tunggulah sebentar, aku akan berpakaian.." ucap Brenda
"Astaga.. Apakah dia menggoda ku ?? Pasti aku akan mati jika sampai tergoda.. ahh, Brenda memang terlalu menawan." ucap Rama dalam hati.
"Minumlah, maaf tidak punya kopi..." ucap Brenda
"Ah, tidak.. ini sudah cukup.." ucap Rama.
"Apa yang membuat mu kemari ?? kamu mau mengajak ku pergi berjalan jalan ??" tanya Brenda.
"Ah, sebenarnya ingin tapi ada hal yang lebih penting dari hal itu.." ucap Rama..
__ADS_1
"Katakan, aku akan membantu mu sebisa ku.. Apakah kau membutuhkan uang Ram ??" tanya Brenda
"Tidak, bukan uang..." ucap Rama.
"Lalu ??" tanya Brenda.
"Hm.. apa kau sudah menikah Bren ??" tanya Rama.
"Belum.." ucap Brenda
"Benarkah ?? kapan pernikahan mu akan dilaksanakan ??" tanya Rama.
"Aku tidak jadi menikah dengan Gun Woo, sesuatu terjadi padanya, apakah kau tidak mendengar beritanya ??" tanya Brenda.
Rama hanya menggelengkan kepalanya, mengingat Frisya benar benar menyaring Berita yang masuk, dan menghindari Berita terutama mengenai Brenda ataupun Gun Woo, dia benar benar menutup semua akses dan mengasingkan diri di Rio.
"Apa dia berselingkuh ??" tanya Rama.
"Gun Woo adalah seorang pria yang sangat baik, sayangnya hal buruk membuat kami tidak berjodoh.." ucap Brenda.
"Bolehkah aku meminjam handphone mu untuk melihat berita tentang Gun Woo ??" tanya Rama.
"Emh, tentu... tolong jangan terlalu terkejut.." ucap Brenda.
Beberapa menit kemudian ekspresi Rama yang awalnya biasa saja sudah berubah menjadi cemas, khawatir, takut nampak jelas di wajahnya.
"Jadi diaa.... " ucap Rama.
"Yaa.. dan itu sempat membuat ku menggila, karena aku sangat terpukul dengan kepergiannya " ucap Brenda
"Apakah kau baik baik saja Brenda ??" tanya Rama.
"Hai.. itu sudah cukup lama berlalu, dan aku sedang memulai kembali menata hidup ku, tenang saja.." ucap Brenda
"Maaf membuka kembali luka lama mu.." ucap Rama.
"Yaa.. beginilah jalan yang Tuhan pilihkan untuk kamu.." ucap Brenda tersenyum, sambil berjalan mengambil obat dan segera meminumnya.
"Kamu sakit Bren ?? perlukah kita pergi ke rumah sakit ??" tanya Rama.
"Tidak perlu, aku hanya sedikit kelelahan biasa.." ucap Brenda.
Rama melihat ke arah jam tangannya, 3 jam sudah Rama bersama Brenda.
"Sial !! waktu berjalan sangat cepat, aku sampai kehabisan waktu..." keluh Rama dalam hati.
"Ada yang mengganggu mu Ram ??" tanya Brenda.
"Ah, tidak... jadi begini... besok aku akan kembali datang kesini, sekarang aku terburu buru, aku harus pergi.. bye Bren.." ucap Rama sambil berlarian kecil.
__ADS_1
******
Like & Komennya di tunggu !! 😊