
Brenda berlari keluar, ribuan pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya.
"Memang benar mungkin Frisya terobsesi pada ku, tapi aku tidak percaya jika dia adalah seorang psikopat.. " ucap Brenda sambil menangis.
Brenda berjalan pulang dan terhenti saat melewati sebuah taman, tempat mereka bermain dulu, dengan dua ayunan tua disana.
Brenda terduduk di ayunan sambil memejamkan matanya, berharap dia bisa mengingat sesuatu.
"Ah sial, aku tidak bisa mengingat apapun." ucap Brenda sambil memegangi kepalanya.
" Apa sulit untuk mengingat mas mu ini ?" ucap seseorang dengan suara Khas milik Frisya.
"Mas Frisya.... " ucap Brenda sambil berbalik dan memeluknya.
"Hai, ada apa ? Baru juga dua hari di tinggalin udah begini haha " tanya Frisya
"Kamu sih gak bisa di hubungi, aku kan khawatir mas.." ucap Brenda
"Makasih ya sayang udah khawatirkan mas, tapi kamu makin hari makin lucu yaa.." ucap Frisya sambil mencubit pipi Brenda lembut.
"Idih lucu, emang aku boneka ?" tanya Brenda.
"Udah yuk pulang... " ucap Frisya.
"Mas, kamu udah selesai kan masalahnya ?" tanya Brenda
"Belum, mas kesini itu cuman pengen lihat kesayangannya mas, sama Ayah sudah itu aja.." ucap Frisya
"Idih... senangnya, diapelin calon suami.." ucap Brenda
" Tuh kan... gemesin tingkah kamu itu dek... " ucap Frisya
"Heii jangan senyum senyum terus..." ucap Brenda
"Kenapa dek ?" tanya Brenda
"Iya, soalnya senyumnya mas itu mudah mematahkan hati orang.. " ucap Brenda
"Huwahahaha.. kamu, nikah sekarang mau ??" tanya Frisya
"Hahaha... kamu ngomong apaan sih mas, mendadak ngajakin nikah.. " ucap Brenda tidak habis pikir.
"Abis, punya tunangan kayak kamu ga boleh lama lama di di diemin nih.. " ucap Frisya masih terkekeh.
"Duh, mulai deh ngelantur yaa... udah yuk masuk... " ucap Brenda
Mereka masuk kedalam rumah dan melihat keadaan ayah.
"Tadi ayah bangun loh dek.." ucap Frisya melihat ayah Brenda tertidur pulas.
Brenda melihat jam.
"Kan udah jam minum obat mas... mungkin baru aja minum obat terus tidur lagi.." ucap Brenda
__ADS_1
"Apa perlu kita bawa ke kota ?" tanya Frisya
"Mas gak tahu ya.. rumah sakit disini itu rumah sakit terbaik untuk perawatan jantung dan hipertensi, mangkannya dibawa kemari.." ucap Brenda.
"Oh, begitu... coba kalo dibawa ke kota, mas bakalan bisa sering nengok.." ucap Frisya
"Udah gak papa namanya juga kamu emang ada urusan juga mas.. " ucap Brenda
Suara langkah kaki di belakang Brenda dan Frisya, mereka berdua menoleh, dan mendapati mami dengan dua cangkir minuman.
"Rakh... emm Fris, minumlah... " ucap Mami suasana hatinya masih belum stabil.
"Rakh... ?" ucap Frisya dalam hati.
Frisya dan Brenda keluar dari kamar ayah dan menemui mami.
"Mami, kok pucet apa lagi sakit ? " tanya Frisya
"Ti ti tidak.. " ucap Mami terbata.
Frisya menyadari jika mami Brenda sikapnya berubah, Brenda menatap mami... matanya mengisyaratkan ketidaksukaan Brenda pada sikap mami pada Frisya.
Suasana menjadi canggung untuk pertama kalinya, Frisya merasa diperlakukan seperti orang asing.
tiba tiba..
"Baiklah... Mas harus segera pergi dek, biar masalah mas segera selesai.." ucap Frisya.
"Loh mas katanya nanti sore ? ini kan baru 3 jam kamu disini ? " rengek Brenda .
Brenda menatap kearah mami, Brenda merasa kesal.
"Mami, Frisya pamit pulang dulu.. " ucap Frisya
"I ii ya.." ucap Mami kembali terbata bata.
Frisya menyadari jika ada yang tidak beres disini.
" Mas, hubungi aku, aku mudah rindu.." ucap Brenda
"Iya.. mas janji deh, gak akan mematikan handphone lagi... " ucap Frisya
Cup..
Frisya mencium kening Brenda.
"Bolehkah aku meminta kecupan di bibir ?" tanya Brenda
"Kamu gak sadar ini kita lagi diluar rumah ?" tanya Frisya
"Di dalem mobil juga aku gak papa.." ucap Brenda genit.
"Idih genitnya... " ucap Frisya sambil masuk mobil.
__ADS_1
Brenda cemberut...
"Hai dek... Apa tidak jadi ?" tanya Frisya dari dalam mobil sambil cekikikan.
Brenda tersenyum dan masuk kedalam mobil.
Mereka berciuman cukup lama dan hangat.
"Sudah ?" tanya Frisya
"Apa tidak bisa jika tidak pergi ?" tanya Brenda
"Sabar yaa... kalo gak penting mas gak mungkin pergi.. " ucap Frisya
"Baiklah, hati hati dijalan... nanti kabarin aku.." ucap Brenda sambil memeluk Frisya.
"Bye mas... " ucap Brenda
"Bye Sayang.." ucap Frisya sambil memacu mobilnya.
Setelah Frisya menghilang dari pandangan, Brenda segera masuk..
"Mami, tega banget sih sama mas Frisya... bisa gak sih biasa aja, ntar lanjutin lagi pas dia udah pulang.. " ucap Brenda kesal.
"Maafin mama Brenda... Mama ingat betul bagaimana Frisya meneror mama dan kamu saat itu, mama bener bener ketakutan... " ucap Mami sambil menutupi matanya menangis.
Brenda tidak tega melihat kerapuhan maminya.
"Mami.. Mami bisa coba cerita apa yang terjadi saat itu ?" tanya Brenda.
Mami menghela nafas panjang.
" Setelah kematian Bella, Mami merasa sangat bersalah dan mami juga tidak menyangka jika Frisya yang saat itu masih kecil bisa melakukan hal menakutkan seperti itu.." ucap Mami sambil menitihkan air mata.
"Jadi mami sedikit menjauhkan kamu dari Frisya, mami memberikan kamu kegiatan formal agar kamu tidak sering bertemu dengan Frisya, tapi sepertinya kamu sudah menjadi candu bagi Frisya." ucap Mami.
"Dia mengikuti kamu sampai di tempat les kamu, di tempat kamu mengaji, di tempat les tari kamu... dia bahkan tidak segan segan menunggu berjam jam di depan pagar hanya demi melihat kamu. " ucap Mami.
"Darimana mami bisa tahu ? Bukannya mami selalu meninggalkan aku saat aku pergi les atau ngaji ?" tanya Brenda
"Awalnya mami selalu pergi saat kamu sudah les, tapi mami saat itu menjemput kamu lebih awal dari yang lain, disana sudah terlihat Frisya menunggu, lalu saat kamu sudah mulai keluar, dia segera naik ke atas pohon dan memperhatikan kamu, dia seperti penguntit. " ucap Mami
"Lalu ?" tanya Brenda..
"Lalu, Mami semakin memperketat pengawasan sama kamu, takut jika hal pada Bela terjadi pada kamu.. " ucap Mami
"Ternyata Frisya semakin menjadi jadi, dia malah sering muncul di jendela kamar tidur kamu, Mama memergokinya saat kamu tidur siang hari, lalu karena penasaran Mami memasang kamera dikamar kamu." ucap mami
"Tapi ternyata hal menakutkan kembali terjadi.. ternyata saat malam hari Frisya berdiri dan terus menatap kamu seperti hantu dari jendela kamar.." Mami sangat shok.
"Belum selesai rasa bersalah mami, kini Frisya sudah membuat mami kebingungan dengan tingkahnya yang diluar nalar, Mami merasa tertekan, mami merasa dia itu aneh dan dia berbeda dari anak pada umumnya." ucap Mami
"Sejak hari itu, mami sering pergi ke beberapa psikiater mami merasa sangat tertekan dan tidak nyaman." lanjut mami.
__ADS_1
"Setelah itu, salah satunya meminta agar mami mencoba untuk pergi dari sini dan pindah ke tempat lain, dimana mungkin mami tidak akan bisa bertemu ataupun melihat Frisya lagi." ucap mami
******