
Setelah hari pertunangan itu hidup kami menjadi sangat bahagia.
Kami sering menghabiskan waktu bersama..
Gun Woo memperlakukan ku seperti seorang putri. Dia masih menjaga ku dengan baik...
Ini adalah 6 bulan setelah pertunangan kami. Selama itu juga aku tidak pernah mendengar kabar dari mas Frisya dan aku juga sudah mulai melupakannya.
Rencananya, dalam waktu dekat kami akan segera menikah. Namun hal yang kurang baik terjadi..
Ayah Gun Woo jatuh sakit karena saham di perusahaannya jatuh, gosip yang beredar ini adalah ulah dari pimpinan Boom&Food yaitu mas Frisya. ketika aku hendak menelfon dan bertanya kepada mas Frisya, sayangnya Gun Woo tidak memperbolehkan ku berhubungan lagi Mas Frisya.
Aku menyentuh lengan Gun Woo. Gun Woo benar benar ingin menjaga ku dari mas Frisya.
"Kau adalah calon istri ku, Aku tahu dia melakukan ini agar kau datang kepadanya.. " ucap Gun Woo memelas.
"Baiklah... hmm.. bagaimana jika aku yang akan membantu perusahaan ayah mu..."
"Aku takut saat kau membantu, dia malah menarik investasi nya dari perusahaan mu, Bagaimana ???" tanya Gun woo.
"Dia tidak akan melakukan itu. Bahkan jika dia melakukan itu, aku tidak takut, Hoki Grup memiliki cukup banyak uang yang dihasilkan selama beberapa tahun ini." ucap ku enteng, padahal aku juga takut.
"Terimakasih Brenda.. aku mencintaimu.." ucap Gun Woo.
Setelah bertemu Gun Woo aku kembali ke Perusahaan Hoki Grup. Seperti biasa, Debora dengan senyum cerianya.
"Nona... selamat datang kembalii... Apakah hari anda menyenangkan ??" tanya Debora.
"Yaa.. tentu.. kau tahulah setelah aku bertunangan, aku bahkan selalu di datangi hal hal yang baik." ucap ku.
Tiba tiba suara handphone berdering.
"Oh, maaf nona tunggu sebentar ya saya mengangkat telfon." pamit Debora.
"Oh ya silahkan, aku akan masuk ke ruangan ku."
"Halo Rama.. ada apa ?? Hahh ?? hal penting ??? apaan sihh gak jelas banget..."
"masuk ?? bukannya biasanya kamu main masuk masuk aja ya.. ngapain pamit ??"
"Hah, tuan Frisya ???"
Langkah ku terhenti saat mendengar nama mas Frisya. Aku kembali mendekati Debora.. ku kira mas Frisya mau menemui ku.
__ADS_1
"Iyak.. tunggu bentaran.." Debora membalikan tubuh, langsung terperanjat kaget melihat ku ada di belakangnya.
"Astaga naga.. Nona.. sedang apa disini ?? apakah ada yang bisa saya bantu ??" tanya Debora.
"Hmm. tidak.. aku hanya sekedar lewat " ucap ku.
"ah Nona Brenda.. maaf.. itu.. saya mau minta ijin." ucap Debora.
"Kamu mau pulang ??" tanya ku.
"Ah, tidak nona... itu... tuan Frisya.. mau datang dan menemui saya di kantor ini, bolehkah ,??" tanya Debora.
"Menemui Debora ?? Hmm.. kenapa perasaan ku tidak enak.." pikir ku.
"Lakukan... selama tidak menggangu pekerjaan mu.." lanjut ku.
5 menit kemudian Mas Frisya benar benar datang.
Aku mengintip dari balik jendela. Mas Frisya datang dengan membawa bucket bunga, boneka teddy dan sebuah kotak kecil yang menarik perhatian ku.
"Hai Debora.. Lama tidak berjumpa... " ucap mas Frisya.
Debora yang melihat tingkah aneh tuan dingin itu kebingungan dan melihat ke arah Rama .
Seperti biasa, Rama memberi aba aba apa harus aku lakukan.
"Debora... Banyak hal yang kita lalui bersama... kau mengerti aku, aku juga mengerti kamu.. bisakah jika kita bersatu dalam ikatan pernikahan ?? Jadilah istriku." ucap Mas Frisya membuat para pegawai ku yang lain menatap Debora dengan pandangan tidak percaya.
"Astaga.. apa ini.. mengapa tuan ini berkata begitu padaku... Astaga dia sangat menakutkan." pikir Debora.
"Emm... itu... annuuu.. eee..." Debora kembali menatap Rama. Rama memberi aba aba agar Debora menerima pinangan Mas Frisya.
Debora tidak habis pikir dengan Rama yang meminta Debora menerima pinangan itu tanpa ada rasa sedikit pun.
Rama mengambil handphone di sakunya dan mengirim pesan pada Debora.
Debora langsung membaca isi pesannya.
"Terima, atau nyawa mu jadi taruhannya, aku hanya berusaha membantu mu saja " Rama
"Astaga.. bagaimana bisa begini... huhuhu.. selamat tinggal masa muda ku.. mungkin aku memang harus hidup dengan lelaki menakutkan ini.." ucap Debora berkecamuk dalam hati.
"Ba.. bai.. iklah.. tuan.. ehh.. kak Frisya.. ak aku mauu.." ucap Debora Gugup karena berat untuk mengatakannya.
__ADS_1
Aku melihat wajah mas Frisya seperti orang yang sedang terpaksa tertawa.
"Iih.. ini mata gimana sih, lihat orang seneng kan wajib seneng juga dong.." gerutu ku.
"Kita akan bertemu malam ini, aku akan menjemput mu.. oke" ucap mas Frisya sambil mencium punggung tangan Debora. dan berlalu pergi dengan Rama.
***Di parkiran.***
"Astaga wanita itu.. apa yang sudah dia sentuh.. tangannya bau ikan membuat ku hampir muntah disana, tidak seperti tangan Brenda yang selalu harum." gerutu Frisya pada Rama tentang Debora.
"Hai, kau bilang apa ?? kata mu ingin menerima Debora dan melupakan Brenda ??" ucap Rama.
"Hah.. kau benar, sepertinya aku memang masih belum berubah. " ucap Mas Frisya.
*****Perusahaan Hoki Grup***
"Wahh.. Deboraa.. gak nyangka Ceo besar sukanya sama kamu.. iih rendahan banget ya seleranya."
"Halah, itu pasti hanya sebentar saja, ntar kalo udah sadar cowoknya dia pasti di tinggalin.." ucap beberapa orang wanita yang sedang berkerumun.
"Hai kalian... Apa aku membayar kalian untuk bergosip seperti ini ??" ucap Brenda tidak suka orang yang bergosip.
"Hmm... ini adalah kerjaan tuan itu snagat menyebalkan... kalo nona Brenda menolaknya bukankah seharusnya dia mencari wanita yang sepadan.. " umpat Debora kesal
Brenda dan Debora menyelesaikan meeting dengan perusahaan NONG .
Setelah meeting selesai pukul 7 malam Debora hendak pulang, namun ternyata Rama menghadangnya dia lupa jika ada janji dengan Frisya.
"Hai Ram, bahkan aku belum pulang. mandi dan berganti pakaian.." ucap Debora
"Masuklah.. ini gaun dari Friss, aku akan membawa mu ke apartemen untuk mandi dan segera menemui Frisya." ucap Rama datar.
"Ram, ngapain sih harus aku ?? aku masih seneng loh sama pekerjaan ku... aku masih bisa cari duit sendiri ga perlu porotin anak orang." Ucap Debora yang curiga pada Friss.
"Dia bilang jika dia akan berubah dan mencoba mencintai mu.."
"Hmm.. dia membuatku merasa takut tauu..."
Rama hanya melihat Debora dengan tatapan datar lalu segera menghentikan mobil di depan apartemen mewah milik Frisya.
"Wahh.. mewah bangett... andai aku punya apartemen yak.. hmm.. " Ucap Debora.
"Mintalah pada Frisya, aku yakin dia akan memberikan nya untuk mu, asal kau menurut padanya." ucap Rama.
__ADS_1
Perasaan Debora kacau balau, di satu sisi Debora berpikir bagaimana bisa dia menikahi seseorang yang tidak dia cintai. Sisi lain dirinya berkata, jika tidak mengambil kesempatan ini, mana mungkin bisa memiliki gedung untuk dirinya sendiri sekalipun dia bekerja seumur hidupnya.
****