Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Bar


__ADS_3

"Mas Fris, aku sebenarnya sudah merindukan Mami, tidak bisakah kau ikuy pergi dengan ku kerumah Mami ?" Tanya Brenda.


"Ayah juga sekrang semakin lemah dan sering sakit " Ucap Brenda


"Katakan, apa yang bisa kudapatkan jika aku melakukan hal seperti itu ?" Tanya Frisya.


"Apa lagi yang bisa ku tawarkan padamu, kau bahkan sudah memiliki segalanya." Ucap Brenda.


"Bagaimana dengan Hoki Grup ?" Ucap Frisya dengan memicingkan matanya.


"Kau sudah gila apa ? Ini hasil kerja keras seumur hidup ku mana mungkin aku memberikannya begitu saja padamu." Lanjut Brenda.


"Baiklah, aku juga tidak menginginkan perusahaan kecil mu ini." Ucap Frisya meledek.


Brenda tersinggung dengan ucapan Frisya.


"Apa ? Kau tersinggung ?" Ucap Frisya begitu saja.


"Aku pergi, selera ku sudah berubah Brenda secantik apapun dirimu, kau sudah bukan tipe ku, jadi berhentilah." Ucap Frisya tanpa melihat Brenda lagi.


Brenda menitihkan air mata.


"Hahh, kau baik baik saja kan Brenda." Ucap Brenda pada dirinya sendiri.


Tiba tiba suara pintu diketuk...


"Nona Brenda, ini saya Meta tolong ijinkan saya menemui anda, tolong biarkan saya menjelaskan segalanya." Ucap Meta sambil terisak.


"Masuklah..." Ucap Brenda.


"Nona Brenda, ibu saya hamil di usia yang sudah tidak muda lagi dan sesaat setelah ibu saya melahirkan, dia mengalami koma." Ucap Meta.


"Mengapa kau tidak pernah mengatakannya ?" Tanya Brenda.


"Mohon maaf nona Brenda, saya tidak tega... saya melihat anda sendiri kesulitan dengan masalah anda, bagaimana saya bisa menambahkan masalah saya pada anda." Ucap Meta.


"Jujur saja, itu bukan uang yang sedikit... kau yakin kau menggunakan semua uang itu untuk ibumu ?" Selidik Brenda.


"Benar nona Brenda bahkan sampai hari ini beliau belum sadar, adik saya sudah besar sekarang dan harus dirawat bibi saya." Jelas Meta.


"Ibu saya hidup hanya bergantung pada alat, bagaimana saya bisa membiarkan alat alat itu dilepaskan begitu saja." Ungkap Meta jujur.


"Pergilah, kembali ke tempat mu." Ucap Brenda.


"Nona, apa anda akan memecat saya ?" Tanya Meta ketakutan.


"Entahlah, jika sampai aku memecat mu kira kira siapa yang bisa ku andalkan selain dirimu. " Ucap Brenda.


"Saya berjanji jika anda memberikan saya kesempatan saya tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Meta.


"Kembalilah aku akan memikirkannya lagi." Ucap Brenda.


*Sore harinya...

__ADS_1


Brenda menelpon seseorang untuk mengambil mobilnya dan mengantarnya pulang sedang Brenda lebih memilih naik bis.


Brenda berjalan menuju halte bis yang tidak jauh dari Hoki Grup. Brenda duduk dengan nyaman disana.


"Frisya benar benar sudah berubah, aku rasanya ingin menyerah saja." Ucap Brenda sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Apa aku yang tidak memiliki tekad seperti Frisya saat itu, entahlah aku tidak mengerti." Ucap Brenda memegangi keningnya.


Beberapa saat kemudian Brenda naik bis dan segera pulang. Setelah itu Brenda memutuskan untuk pergi ke suatu bar.


Brenda duduk di meja kosong sendirian dengan ditemani segelas Tequila, entah gelas keberapa itu.


"Kepala ku mulai pusing." Keluh Brenda.


"Brenda ?" Sapa seseorang.


"Siapa ?" Tanya Brenda pengelihatannya mulai kabur.


"Hai bagaimana bisa kau tidak mengenali ku, aku Kai." Jelasnya.


"Kai ? Kau sudah sembuh..." Ucap Brenda sambil menangis.


Frisya dan tunangannya baru saja sampai dan duduk di tempat yang sudah di reservasi, Frisya melihat Brenda dihadapannya dengan seorang pria itu.


Kai keheranan.


"Aku sudah lebih baik sekarang. Mengapa kau terlihat begitu sedih ?" Ucap Kai sembarangan.


Frisya masih memperhatikan Brenda dari kejauhan.


"Sayang ini minuman mu." Ucap Lena sambil memberikan segelas bir pada Frisya.


Tanpa melihat Frisya langsung mengambil minumannya dan meneguknya.


"Tidak apa apa, bukan masalah besar." Ucap Kai


"Brenda, bagaimana jika kita pulang saja, sepertinya kau sudah mulai mabuk." Ucap Kai


"Emm, Kai... Permisi aku harus pergi ke toilet sebentar." Ucap Brenda sambil sedikit kesulitan untuk berjalan.


"Haruskah aku membantu mu ?" Tanya Kai.


"Aku akan buang air kecil, haha bagaimana kau akan membantu ku." Ucap Brenda terkekeh.


Kai membiarkan Brenda pergi ke toilet. Tak lama kemudian Frisya menyusul Brenda dan menunggu di depan toilet sambil menghirup sebatang rokok.


Tak lama kemudian Brenda keluar dengan sedikit kesulitan mengatur keseimbangan tubuhnya.


"Pulanglah..." Ucap Frisya.


Brenda menyadari suara itu dan langsung berbalik.


"Ahh tuan Frisya rupanya, baiklah aku akan segera pergi." Ucap Brenda enteng.

__ADS_1


"Jangan pergi dengan pria itu, dia tidak baik untuk mu." Lanjut Frisya.


"Ya, aku mengerti jangan pedulikan aku." Ucap Brenda dengan perut sedikit mual.


"Hahh, dasar wanita centil ini." Ucap Frisya.


Brenda langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Frisya.


"Jaga ucapan mu, aku tidak akan mengganggu mu lagi." Ucap Brenda sambil terus berjalan.


Frisya langsung membuang rokoknya dan menginjaknya. Kemudian menarik tangan Brenda kasar.


"Aduh... Sakit sekali apa yang kau lakukan ?" Keluh Brenda.


"Mengapa kau masih hendak masuk kedalam sana, kubilang pulanglah... jangan menemui pria itu lagi, dia tidak baik untuk mu !!" Ucap Frisya keras.


"Tapi aku tidak ada urusan apapun denganmu, tidak bilang jika aku bukan selera mu lagi, sudah pergilah, asal kau tahu aku masih sama seperti dulu, aku masih mencintai orang orang yang dulu mencintai ku." Tegas Brenda.


Kai melihat Brenda yang tangannya ditarik kasar oleh Frisya, Kai mendekati mereka dan segera menarik Brenda.


"Berhentilah melakukan hal seperti ini kak, kau sudah menyakiti banyak orang, bagaimana bisa kau masih ingin menyakitinya." Ucap Kai


"Aku tidak memiliki urusan dengan mu." Ucap Frisya dingin.


"Aku tidak perduli, pergilah atau akan kupanggil tunangan mu kemari." Ancam Kai.


"Panggil, aku bahkan tidak perduli." Lanjut Frisya yang masih memegang tangan Brenda.


Ditengah perdebatan ini, Brenda tidak bisa mengatakan apapun karena perutnya sudah sangat mual, beberapa saat kemudian tiba tiba Brenda langsung.


Huekkk... Hooek...


Tepat dibaju Frisya. Frisya langsung tertegun melihat apa yang Brenda lakukan padanya. Beberapa saat kemudian Brenda pingsan. Frisya langsung berlari kegelian menuju toilet pria.


"Wanita centil sialan, mengapa dia muntah padaku, aahhh menjijikan apa yang sudah dia makan, sialll !!!" Umpat Frisya.


Brenda langsung diantar pulang oleh Richard.


"Apa kau baik baik saja Brenda ?" Tanya Kai


"Yaa...." Ucap Brenda.


"Jika tidak bisa minum mengapa harus minum." Sesal Kai


"Hahh, semoga besok lebih baik dari hari ini Kai, aku merasa sangat buruk sekali." Ucap Brenda sambil memejamkan matanya.


"Kapan kau akan bahagia ?" Tanya Kai.


"Kebahagiaan ku mungkin sudah habis karena aku terlalu terlena dengan kehidupan ku dulu." Ucap Brenda.


"Mungkin banyak pria yang sakit hati padaku dan berdoa hal buruk menimpa ku, semoga mereka sekarang sudah bisa bahagia melihat ku tersiksa seperti ini." Lanjut Brenda.


Kai mendekap tubuh Brenda.

__ADS_1


"Tidak pasti bukan karena itu, jangan putuskan hal seperti itu." Ucap Kai.


Brenda menitihkan air matanya lagi.


__ADS_2