Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua

Tuhan, Ku Tak Mau Jadi Perawan Tua
Kalut


__ADS_3

"Terimakasih, sudah bersama mas Frisya dan menjaganya dengan baik.." ucap Brenda


"Meskipun seharusnya seperti itu, tapi aku setuju dengan yang anda katakan nona Brenda.." ucap Debora sambil tersenyum.


"Aku mohon nona Brenda pikirkan apa yang say ucapkan tadi.." ucap Debora.


"Tentu.." ucap Brenda


******


Setelah Brenda bertemu dengan Debora, Brenda pulang dengan berjalan kaki. Hatinya kalut, entah apa yang sebenarnya dia rasakan pada Frisya.


"Pernahkah aku mencintai mas Frisya ? "


" atau Pernahkah aku sungguh sungguh merindukan Frisya ? "


"Entahlah.... hati ku sepertinya masih belum siap untuk jatuh cinta lagi.." ucap Brenda dia berjalan sambil melamun.


Setelah berjalan cukup jauh, Brenda menghentikan sebuah taksi dan segera pulang.


*****


Barra Hotels.


Brenda masuk ke dalam kamar dengan lesu, dia masih tidak mengerti.. apa yang sebenarnya hilang dari dirinya, bahkan saat cinta kembali datang, dia tidak merasakannya, setelah lama melamun Brenda pun tertidur lelap dalam kalutnya.


Malam harinya Brenda terbangun segera membersihkan tubuh nya dan makan malam di restauran hotel.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Brenda menatap langit lewat dinding kaca di sampingnya.


"Malam ini langit sangat cerah. " ucap Brenda sambil menatap sebuah bintang yang berkedip kepadanya.


"Apakah itu kamu sayang ?" tanya Brenda pada bintang itu.


"Bagaimana keadaan kamu ?" ucap Brenda


Brenda terdiam sambil mengingat bahwa setelah sepeninggal Gun Woo, Brenda belum pernah sekalipun datang ke makam Gun Woo.


Hatinya tergetar....


" haruskah aku pergi kesana.." ucap Brenda.


"Apa aku sudah siap untuk datang ..." ucap Brenda sedih.


Setelah itu Brenda kembali ke kamarnya...


"Apa aku masih belum benar benar mengikhlaskan mu Gun Woo.." ucap Brenda


"Sepertinya aku akan kembali gila jika aku terus memikirkan hal ini." ucap Brenda


*****

__ADS_1


2 hari kemudian Brenda memutuskan untuk pulang ke tanah air. Brenda merasa ada yang tidak benar dengan dirinya.


Brenda tiba di Bandara dan langsung disambut hangat oleh Mami, Ayah, Hakim dan Juve.


"Brendaa... " ucap Mami.


"Mami.. Ayah.. kangenn banget.." ucap Brenda


"Brendaa.. kami juga rindu, apakah kau melupakan kami.." ucap Juve dan Hakim.


"Kalian terbaik.. Bagaimana aku bisa lupa.." ucap Brenda


"Apa yang membuat mu pulang mendadak ? apakah kau sakit Bren ?? " tanya Juve.


"ada yang mengganggu pikiran ku dan aku membutuhkan sedikit perawatan sepertinya hehe.." ucap Brenda.


"Ya sudah.. ayo kita pulang... aku ingin mendengar kisah Brenda disana.." ucap Hakim.


"Aiish.. padahal setiap hari aku selalu memberi kabar.." ucap Brenda


"Hehe.. intinya aku masih rindu Bren.." ucap Hakim


"Iya.. iyaa kak.. aku juga rinduu..." ucap Brenda


*****


Rumah Brenda.


"Katakan pada ku seperti apa gadis gadis di Rio.." ucap Hakim.


"Cantik, Sexi dan Eksotis menurut ku.." ucap Brenda


"Waww... " ucap Hakim.


"Apa kau belum pernah pergi keluar negri Kim.. ? " tanya Juve.


"Pernah, tapi hanya negri tetangga saja masihan.." ucap Hakim.


"Haha, pantes kampungan " ucap Juve.


Hahaha Brenda dan Juve tertawa.


" eh... lo ngetawain gue, gue mah bersyukur gak muluk muluk.." ucap Hakim.


"Hehe, kapan kapan biar liburan sama aku ya kak.. kita pergi ke China atau Makau" ucap Brenda


"Nihh.. kalo orang baik tuh ngajakin bukan kayak lu Juv.. " ucap Hakim Cemberut.


" Ah, lu mah ngambekan kek mak mak.. " ucap Juve.


"Udah.. udah.. btw kalian sering kesini ya.." ucap Brenda

__ADS_1


"Bukan sering lagi Bren... mereka ini setiap hari kesini, kadang juga nginep udah kayak abang abang kamu gitu.. hehe mami seneng... apalagi kalo pas saling adu mulut gitu.. kok gak sekalian adu hantam coba hahahahahahahahaha " ucap Mami ketawa garing.


Kriikk.. kriik.. krikk.. ( suara jangkrik )


"Abang ?" ucap Brenda dala hati.


"Mami... di Rio aku bertemu dengan mas Frisya.." ucap Brenda


"Frisya ?? Ah, sudah lama sepertinya.. Bagaimana kabarnya.." ucap Mami.


"Dia baik baik saja...hanya.." ucap Brenda


"Hanya kenapa Bren ??" tanya Mami.


Juve dan Hakim melihat ketidaknyamanan Brenda.


"Kami akan pergi.." ucap Hakim sambil melihat ke arah Juve.


"Tidak perlu... kalian boleh mendengarnya..." ucap Brenda.


Brenda menceritakan segalanya yang dia tahu dan dia dengar dari Debora dan Rama, hingga keadaan Rama.


"Astaga anak tampan ku... Bagaimana ini bisa terjadi ?" ucap Mami sedih.


"Apa kau menyukai nya Brenda.." ucap Juve.


" Entahlah... aku bahkan tidak merasakan apapun." ucap Brenda


"Aku malah teringat akan Gun Woo... tentang dia yang sampai sekarang aku belum pernah mampu untuk datang ke tempat dia disemayamkan." lanjut Brenda.


"Hm... apa kau ingin mencoba untuk datang ?" tanya Hakim..


"Aku takut, akan terluka saat pergi kesana.." ucap Brenda


"Brenda... ingat ikhlaskan sayang... kami menyayangi mu, kami ada bersama mu.." ucap Juve.


"Mami harap jika Frisya tahu kamu pulang, dia akan segera menyusul.." ucap Mami penuh harap.


"Aku akan beristirahat dulu... aku lelah.. " ucap Brenda


"Bren.." ucapan Hakim terputus karena ditahan oleh Juve.


"Biarkan dia sendiri dulu, dia sudah jauh lebih baik dari saat terakhir kau bertemu dengannya." ucap Juve.


"Dia bahkan sudah berusaha sebaik mungkin, namun sayangnya Gun Woo masih ada di hatinya." ucap Hakim.


"Sudahlah, semoga dia segera mendapatkan jalan terbaik.." ucap Juve.


"Terimakasih.. kalian selalu ada untuk Brenda" ucap Mami.


*******

__ADS_1


__ADS_2