
Keesokan harinya, Brenda bangun pukul 7 pagi…
“Astaga apa yang terjadi ? tubuhku rasanya sakit semua..” Ucap Brenda sambal merasakan sesuatu disampingnya.
Beberapa saat kemudian Brenda menoleh dan melihat Kai yang masih terlelap dengan duduk disampingnya.
“Astaga pria ini.. Sedamg apa disini ?.” Ucap Brenda sambal mengingat ingat apa yang terjadi semalam padanya.
”Oh astaga, apa aku benar benar pingsan ? Ini pasti karena aku bermain hujan kemarin.”
“Maafkan aku Kai, aku sepertinya membuatmu harus merawatku semalaman.” Ucap Brenda sambal mengelus pipi Kai lembut.
“Aku akan membuat sarapan untukmu sebagai tanda terimakasih ku..” Ucap Brenda sambal beranjak pergi ke kamar mandi.
45 menit kemudian Brenda selesai mandi daan mulai pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan Kai.
“Nona Brenda, apa yang anda lakukan ? Anda semalam demam apa tidak sebaiknya anda beristirahat saja ?” Ucap Bik Sari khawatir.
“Tidak perlu Bik, aku sudah baik baik saja… Sepertinya Kai merawatku dengan baik..” Ucap Brenda.
“Nona Brenda… Tuan Kai adalah pria yang baik dan sangat menyayangi anda, mengapa anda tidak mencoba untuk membuka hati untuknya ?” Tanya Bik Sari.
“Banyak hal yang terjadi Bik… Aku masih berharap bisa hidup bahagia bersama dengan Frisya.” Ucap Brenda.
“Tuan Frisya, dia sebenarnya adalah pria yang baik, tapi saya piker anda harus mempertimbangkannya lagi.” Ucap Bik Sari.
“Terimakasih untuk perhatian Bibik, aku kembali kemari aku berharap bisa kembali mengulang segalanya lagi dengan Frisya, Aku sudah selesai,Bibik bisa melakukan hal lain.” Ucap Brenda.
Brenda berjalan kembali ke kamarnya untuk membangunkan Kai.
“Hai, tuan… Bangunlah..” Ucap Brenda sambal membuka pintu kamarnya.
Brenda tidak menemukan Kai di tempat tidurnya.
“Kemana pria ini pergi ?” Pikir Brenda.
“Kau mencariku ?” Suara dari balik pintu.
“Oh astaga kau mengagetkan diriku Kai…”
“Aku sudah membuatkanmu sarapan…” ucap Brenda sambal meletakkan makanannya di meja.
“Brenda… Apa yang membuatmu begitu menyukai Frisya ?” Tanya Kai penasaran.
“Hei.. ada apa ini ? Mengapa pagi pagi sudah membahas Frisya ?” Tanya Brenda.
“Mengapa kau begitu menyukainya ? Dia pria yang kejam dan psikopat..” Ucap Kai serius.
“Kau benar… Dia bahkan mungkin akan menjadi seorang mafia paling kejam jika dia seorang gangster.” Ucap Brenda.
“Kau tahu apa yang menarik dalam kisahku ?” Ucap Brenda.
“Gun Woo dan Frisya adalah dua orang yang mencintaiku dengan cara mereka masing masing.”
“Gun Woo dia datang begitu saja dalam hidupku, kami jatuh cinta, dan memutuskan untuk bersama begitu saja, sedang Frisya… Dia pria yang mencintaiku bahkan jauh sebelum aku menyadarinya…” Ucap Brenda dalam.
“Memang benar cara yang dia lakukan adalah salah, dia menghalalkan segala cara, dia berusaha memotong jalan agar aku bisa segera menatapnya. Tapi lambat laun, aku mulai menyadari jika apa yang dialaminya juga adalah karena kesalahan ku.” Terang Brenda.
__ADS_1
“Kesalahanmu ?” Tanya Kai peasaran.
“Aku rasa selama ini aku sudah sangat sombong, aku merasa wanita paling beruntung karena banyak pria yang berada disampingku, aku terlena.” Ucap Brenda sedih.
“Sudahlah, makanlah ini.. aku membuatnya sendiri untukmu… Ini sudah siang apa kau tidak akan pergi ke kantor ?” Tanya Brenda.
“Terimakasih, aku akan berangkat nanti siang saja, hari ini aku sudah melihat jadwal ku.” Ucap Kai sambal menyantap sarapannya.
“Apa kau sudah akan pergi ke kantor Brenda ?” Tanya Kai.
“Tidak, aku rasa aku hari ini ingin mengunjungi Frisya.” Ucap Brenda.
“Semoga harimu menyenangkan…” Ucap Kai.
“Terimakasih… Kau pria yang baik Kai, aku berharap kau bisa menemukan seorang wanita yang lebih baik dariku…” Ucap Brenda.
“Baiklah… Tapi ijinkan aku untuk tetap menjadikanmu favoritku.” Ucap Kai.
“Hahaha… Kau selalu menjadi pria yang manis Kai, aku tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan Frisya setelah ini, tapi kumohon jangan menyimpan dendam padanya.” Ucap Brenda.
“Tidak, dia sudah dihukum dengan berat oleh Tuhan.” Ucap Kai.
“Dihukum lebih berat ? Maksudmu apa Kai ?.” Tanya Brenda.
“Selama ini dia hidup dalam tekanan Brenda, aku yakin hari harinya hanya dipenuhi pikiran tentangmu.” Ucap Kai.
“Kau tahu betapa besarnya bisnis yang Frisya bangun, aku yakin dalam pikirannya hanyalah bagaimana cara untuk memantaskan diri untuk bersama denganmu.”
“Sayangnya dia lupa jika Frisya bukan satu satunya.” Lanjut Kai.
“Baiklah, ayo berangkat aku akan mengantar mu...” Ucap Kai.
15 menit kemudian mereka berangkat.
^ LAPAS
10 menit Brenda menunggu Frisya keluar.
Begitu keluar Frisya terlihat begitu berantakan, kumisnya tumbuh dengan suburnya. Wajahnya terlihat begitu kusam dan tubuhnya terlihat kurus. Frisya melihat jika Brenda datang menjenguknya. Frisya enggan untuk duduk.
Brenda tersenyum melihat Frisya sudah mau menemuinya meskipun dia masih enggan untuk duduk dihadapannya.
“Apa kabar ?” Ucap Brenda menyapa dengan ramahnya.
“Untuk apa kau datang kemari ?” Ucap Frisya dengan nada dingin.
“Hai, aku hanya sedang tidak sengaja lewat dan mampir untuk melihatmu sebentar saja.” Ucap Brenda.
“Sekarang kau sudah melihatku, kau boleh pergi.” Ucapnya masih dengan nada dingin dan hemdak kembali ke dalam.
“Hai… Tuan Frisya, apa salahku padamu ? Mengapa kau begitu keras padaku ?” Ucap Brenda.
Frisya menghentikan langkahnya.
“Bagaimanapun, aku adalah mantan istrimu. Bagaimana bisa kau memperlakukan ku seburuk ini ?” Rengek Brenda.
Frisya membalikan tubuhnya dan kembali melihat ke arah Brenda.
__ADS_1
“Hm… Baiklah, katakan apa yang kau inginkan dan segeralah pergi.” Ucap Frisya.
“Setidaknya duduklah terlebih dahulu, apa itu sikap yang sopan ?” Ucap Brenda.
Dengan terpaksa Frisya pun duduk di hadapan Brenda sambal melipat tangannya.
Brenda tersenyum sambal memperhatikan wajah Frisya yang terlihat semakin garang dengan penampilannya yang sekarang.
“Hahh… Sudah kuduga pasti hanya akan membuang waktuku… Aku pergi saja.” Ucap Frisya kembali berdiri sambal beranjak pergi.
Brenda menangkap tangan Frisya.
“Hai, berhentilah untuk marah terus menerus, aku bahkan tidak melakukan kesalahan apapun padamu.” Ucap Brenda.
“Kau hanya terdiam menatapku sambil tersenyum seperti orang gila.” Ucap Frisya.
“Hm… Senang rasanya bisa kembali melihatmu mas Frisya, setelah sekian lama.” Ucap Brenda.
“Apa kau tidak merindukan ku ?” Tanya Brenda blak blakan.
“Kau ini tetap saja nakal seperti dulu.” Ucap Frisya.
“Aku tetap Brenda yang dulu percayalah…” Lanjut Brenda.
“Brenda yang dulu ? Brenda yang ingin aku menyerahkan dan mendpatkan hukuman seperti ini ?” Ucap Frisya ketus.
“Oh astaga… Kau masih marah ?” Ucap Brenda sambal tersenyum.
Frisya menggelengkan kepalanya.
Brenda melihat jam di tangannya.
“Astaga, waktu cepat sekali berlalu… Aku bahakn belum mengatakan apapun padamu mas.” Ucap Brenda.
“Itu kesalahanmu, mengapa sedari tadi kau hanya menatap ku sambal tersenyum seperti itu..” Ucap Frisya sambil melipat tangannya.
“3 bulan lagi masa hukuman mu akan berakhir bukan ? Saat itu aku akan datang lagi menjemputmu.” Ucap Brenda.
“Tidak perlu repot repot, kau hanya perlu pergi dengan pria pria yang kau sukai itu.” Ucap Frisya.
“Apa ini ? Bagaimana kau tahu?” goda Brenda.
“Ah.. pasti diam diam didalam sana kau meminta seseorang untuk mengawasi ku ya ?” Ucap Brenda.
“Dasar gadis gila..” Ucap Frisya.
“Kau bahkan masih ingat jika aku masih gadis, kau sungguh membuatku terharu..” Lanjut Brenda.
“Hahh… waktunya sydah habis pergilah aku akan kembali, akum alas meladenimu.” Ucap Frisya sambil pergi.
“Mas Friss…” Panggil Brenda.
“Apa lagi ?” Ucap Frisya Nampak kesal tapi masih mendengar apa yang Brenda katakan.
“I miss you.. “ Ucap Brenda dengan diikuti senyuman manisnya.
Deg !
__ADS_1